Sumpah Pemuda dan Sepak Bola Indonesia

Terinspirasi Sumpah Pemuda, PSSI pun lahir dan membuat sepak bola Indonesia punya sejarah sebagai alat pemersatu.

Diterbitkan 28 Oktober 2015, 19:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Tahun 1950, menjadi momen penting bagi pembentukan Timnas Indonesia sesungguhnya. Lewat Kongres yang digelar di Semarang, PSSI akhirnya memutuskan untuk mengirim tim yang mewakili Merah Putih di Asian Games I di New Delhi pada 1951. Sebanyak 18 pemain terpilih di bawah asuhan pelatih asal Singapura, Seng Quee. Sayang, di partai pertama Indonesia kalah 0-3 dari India dan terpaksa harus angkat koper lebih awal. 

Selepas itu, Indonesia pun mulai tampil di berbagai ajang dunia. Mulai dari Olimpiade Melbourne 1956 dan sempat menahan imbang Uni Soviet 0-0 di leg pertama. Namun pada pertemuan kedua, Indonesia menyerah dengan skor 0-4 dan tersingkir. Sejak itu, berbagai turnamen diikuti oleh timnas Indonesia. Bahkan Tim Merah Putih pernah berjaya merebut medali perunggu saat tampil di Asian Games 1958 yang digelar di Tokyo, Jepang. Sedangkan di Asia Tenggara, Merah Putih pernah berkibar di ajang SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Ini adalah gelar juara terakhir timnas di kancah internasional. 

Selanjutnya prestasi Timnas mulai melorot. Tergerusnya semangat nasionalisme dan persatuan yang menjadi tonggak terbentuknya PSSI dan Timnas membuat sepak bola Indonesia kian terpinggirkan. Jangankan mengukir prestasi di kancah internasional, di dalam negeri sepak bola kita kini mati suri. PSSI sebagai federasi sepak bola Tanah Air justru terlibat konflik dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Akibatnya, kompetisi terhenti. Indonesia juga semakin terkucil dari kancah internasional setelah FIFA menjatuhkan sanksi sejak 30 Mei lalu. Banyak pesepak bola yang kehilangan pekerjaan. Sektor bisnis juga kena imbasnya. Para produsen mechandise dan asesoris klub banyak yang gulung tikar. Dan gara-gara lama tak bertanding, rangking Indonesia juga terjun bebas. Dalam rilis terakhir FIFA, saat ini Indonesia menempati peringkat ke-171 dunia.

Kedua kubu merasa sama-sama merasa benar. Pemerintah beralasan pihaknya terpaksa turun tangan demi memperbaiki tata kelola sepak bola yang dianggap bobrok. Sebaliknya, PSSI menilai bahwa domain tersebut merupakan wewenangnya dan merasa pemerintah sudah bertindak terlalu jauh.

Momentum Piala Presiden

Mantan Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt pernah berkata: Semakin kita tahu masa lalu, semakin lebih baik persiapan kita untuk masa depan. Bung Karno juga berkata tak kalah hebatnya: Jas Merah, Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Maka, jika mengacu pada ucapan Roosevelt dan Bung Karno, para stake holder sepak bola di negeri ini sebaiknya melihat kembali perjalanan sejarah sepak bola Indonesia dan semangat Sumpah Pemuda. 

Roh persatuan yang diusung oleh Sumpah Pemuda telah banyak memberikan manfaat bagi pembangunan negeri ini. Begitu juga dengan sepak bola Indonesia. Bahkan dengan kolaboriasi yang kuat di antara seluruh pemangku kepentingan, sesuatu yang dianggap mustahil tidak jarang akhirnya bisa terwujud.

Persatuan itu jugalah yang membuat final Piala Presiden 2015 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Minggu (18/10/2015) berjalan sukses. Awalnya banyak yang meragukan duel ini bisa digelar di Ibu Kota. Maklum, salah satu finalis yang bakal tampil adalah Persib Bandung yang dikenal sebagai musuh bebuyutan tim Persija Jakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, fans Persib sudah tidak pernah bertandang ke Jakarta, begitu juga sebaliknya.

Meski di final Persib tidak bertemu Persija, potensi gesekan tetap besar. Apalagi setelah pendukung Persija Jakmania sempat menolak final digelar di GBK. Namun berkat kerjasama semua pihak, duel akhirnya bisa berlangsung di stadion legendaris tersebut. Meski letupan kerusuhan tak seluruhnya bisa dipadamkan, puluhan ribu bobotoh--sebutan bagi pendukung Persib- pun tetap bisa hadir di GBK menyaksikan Maung Bandung meraih gelar juara.

Di babak final tim besutan Djadjang Nurdjaman tersebut berhasil mengalahkan Sriwijaya FC dengan skor 2-0.

Bagi Steering Committee Piala Presiden 2015 Maruarar Sirait, ini merupakan momentum bagi kebangkitan sepak bola Indonesia. Menurutnya, kunci untuk membenahi sepak bola nasional adalah persatuan. Mengutip pesan Bung Karno: Bersatu karena kuat, kuat karena bersatu! Menurutnya, pihak penyelenggara tidak akan mampu mewujudkan hal itu tanpa bantuan dari semua pihak, baik pemerintah, federasi, hingga para pelaku sepak bola Tanah Air.

"Di sini tidak ada superman, yang ada super team," ujarnya mengomentari final Piala Presiden 2015. Bagi Maruarar, senjata ini juga ampuh dalam membenahi sepak bola Indonesia ke depannya. "Intinya harus bisa saling menghargai. Tidak bisa ada ego yang menonjol. Harus bersama-sama. Persatuan itu penting."

Kini, tinggal menunggu kemauan para pemangku kepentingan untuk mengesampingkan ego lalu menapaki batu tapal itu dan kemudian merangkai jalan menuju sepak bola Indonesia yang memiliki ruh persatuan. Persatuan yang akhirnya menguatkan sepak bola itu sendiri dan bermuara pada prestasi Timnas. (Lut/Rco)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Luthfie Febrianto, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan