Konsultasi Keuangan: Gaji Rp 6,5 Juta Habis Terus, Salah Gaya Hidup?

Seorang pekerja lajang di Jakarta mengaku tak bisa menabung meski gaya hidupnya sederhana. Begini saran perencana keuangan Yodie Hardiyan.

Diterbitkan 10 Oktober 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Selamat siang

Saya pekerja single di Jakarta dengan penghasilan Rp 6,5 juta per bulan dan tinggal di kos. Saya merasa gaya hidupnya sebenarnya biasa saja: tidak setiap hari makan di restoran, tidak rutin nongkrong di kafe, dan kalau ngopi di kafe pun biasanya hanya ketika diajak teman. Tetapi setiap akhir bulan seluruh gajinya habis dan dia tidak mampu menabung.

Dalam kondisi seperti ini, apakah persoalannya memang karena gaya hidup yang terlalu tinggi, atau justru ada struktur biaya hidup kelas menengah yang membuat penghasilan Rp 6,5 juta memang sulit menyisakan uang?

Pos pengeluaran apa saja yang pertama kali harus diperiksa, berapa idealnya alokasi untuk kebutuhan pokok, kos, transportasi, makan, hiburan, tabungan dan dana darurat, serta bagian mana yang sebenarnya masih boleh dipangkas dan mana yang sebaiknya tidak dikorbankan?

Dan jika ingin mulai menabung tanpa merasa kualitas hidupnya turun drastis, langkah konkret apa yang harus dilakukan?

Mohon bantuannya. Terimakasih.

Pengirim: media sosial @andy_XXXX

Jawaban:

Salah satu strategi efektif untuk menabung adalah menyisihkan, bukan menyisakan, penghasilan yang diterima secara berkala. Saya menyarankan individu untuk menerapkan tiga langkah sederhana berikut secara berurutan supaya bisa menabung dan memenuhi kebutuhan hidup:

Langkah pertama, setelah menerima gaji/penghasilan, segera sisihkan penghasilan untuk ditabung. Kalau bisa menabung 50% dari penghasilan itu sangat bagus, tapi kalau cuma bisa 5% itu bukan hal yang buruk. Menabung itu bukan semata-mata soal jumlah, tapi kebiasaan dan konsistensi. Uang yang ditabung bisa disiapkan untuk keperluan di masa depan. Contohnya, untuk dana darurat dengan target 3-6x pengeluaran bulanan.

Langkah kedua, segera penuhi kewajiban kepada pihak lain seperti cicilan. Kewajiban adalah tanggungjawab yang harus kita selesaikan. Jika tidak diselesaikan, kewajiban bisa menjadi beban yang semakin besar di kemudian hari.

Langkah ketiga, gunakan gaji atau penghasilan untuk penuhi kebutuhan (makanan, transportasi, komunikasi, sewa tempat tinggal, dan lainnya). Setelah kebutuhan terpenuhi, baru penuhi keinginan seperti nongkrong di kafe atau modifikasi kendaraan. Prinsipnya, kebutuhan diprioritaskan daripada keinginan supaya ada ruang untuk menabung. Contoh sederhananya, lebih prioritaskan beras daripada rokok.

Semoga bermanfaat.

Yodie Hardiyan

Perencana Keuangan Independen

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6