Punya Cukup Modal, PLTN Tinggal Tunggu Perintah Prabowo Subianto

Dinilai Punya Cukup Modal, PLTN Tinggal Tunggu Perintah Prabowo Subianto

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 21:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia dinilai telah memiliki modal yang cukup untuk memulai pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Beberapa lokasi disebut bisa menjadi titik awal pemanfaatannya.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani menilai Indonesia memiliki modal berupa sumber daya, regulasi hingga lokasi potensial. Namun, tantangannya yakni mengkonsolidasikan berbagai sumber daya dan institusi yang selama ini berjalan agar menjadi satu program nasional yang jelas.

“Sebenarnya tinggal menunggu dari Presiden mengatakan ‘Indonesia Go Nuclear’ selesai. Karena dari sisi BRIN sudah siap,” ujar Sripeni dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).

Beberapa wilayah juga telah menjadi perhatian dalam pengembangan PLTN, seperti Kalimantan Barat dan Bangka Belitung sebagai wilayah yang potensial. Menurut Sripeni, penentuan lokasi tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan listrik di wilayah tersebut, terutama untuk mendukung pengembangan industri, selain dari sektor rumah tangga.

“Kita sudah punya resource-nya, tetapi belum dikonsolidasikan, belum ditandai bahwa kita mulai. Jadi perlu ada task force,” terangnya.

Teknologi Small Modular Reactor (SMR) menjadi salah satu opsi yang dinilai relevan untuk tahap awal. Teknologi tersebut dapat dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di kawasan industri atau wilayah dengan kebutuhan listrik yang besar dan spesifik.

 

Modal Memulai PLTN

Rencana pengembangan PLTN sebagai salah satu sumber listrik disinggung dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN). Beleid ini mencakup dorongan pengembangan energi baru, termasuk nuklir, kewajiban pemenuhan persyaratan keselamatan, keamanan, safeguards, hingga jaminan pasokan bahan baku nuklir, serta pengelolaan limbah.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir Badan Riset dan Indonesia Nasional (BRIN) Syaiful Bakhri mengatakan dalam pengembangan PLTN, setidaknya terdapat 19 aspek infrastruktur yang harus dipersiapkan yang di antaranya teknologi, sumber daya manusia, lokasi, hingga pendanaan.

“Dan bagi kita, saya pikir Indonesia sudah siap dengan berbagai komponen tadi sebenarnya. Mulai dari tapak sudah ada SDM, kita tidak kekurangan,” kata Syaiful.

Syaiful menilai berbagai teknologi reaktor yang telah tersedia secara komersial dapat menjadi pilihan, terutama reaktor berkapasitas besar atau large nuclear reactor.

 

Proyeksi Kontribusi PLTN

Dalam kerangka kebijakan energi jangka panjang, energi nuklir ditargetkan memiliki kontribusi yang semakin besar. Pemerintah memproyeksikan kapasitas nuklir mencapai sekitar 35-42 GW pada 2060, dengan kontribusi energi nuklir terhadap bauran energi primer sekitar 11,7%-12,1%.

Sebagai tahap awal, PLTN komersial pertama ditargetkan mulai beroperasi pada 2032 dengan kapasitas 250 MW, sebagaimana tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034. BRIN juga telah mengidentifikasi 28 lokasi potensial untuk pengembangan nuklir sehingga dapat dilakukan studi lebih lanjut.

“Kita tinggal pilih sebenarnya. Banyak yang sekarang ready untuk kita pesan, terutama yang large, bukan yang small modular reactor,” ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6