Ada Seruan Boikot Produk Indonesia di Malaysia, Mendag: Hanya Respons Sesaat

Mendag Budi Santoso menanggapi soal seruan boikot terhadap produk Indonesia oleh warganet Malaysia.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 17:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menilai seruan boikot terhadap produk-produk Indonesia yang disampaikan warganet Malaysia kemungkinan respons sesaat. Hal itu tidak berdampak pada hubungan perdagangan bilateral kedua negara.

"Saya kira tidak (berdampak). Ini mungkin hanya respons sesaat saja,” ujar Budi, mengutip Antara, Kamis (8/10/2026).

Budi menuturkan, telah berkoordinasi langsung dengan Atase Perdagangan dan Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur untuk memantau situasi di lapangan. Hasil pemantauan menunjukkan aktivitas perdagangan tetap berjalan seperti biasanya.

"Enggak ada masalah, oke aja," tutur Budi.

Seruan boikot terhadap produk-produk asal Indonesia marak berembus di lini masa media sosial Malaysia setelah kemenangan Tim Nasional Indonesia yang berhasil melangkah ke babak final FIFA ASEAN Cup 2026.

Ketegangan persaingan olahraga tersebut merembet hingga ke ranah ekonomi dan budaya. Sejumlah warganet Malaysia menyuarakan aksi pembatasan atas produk serta karya asal Indonesia.

Aksi boikot itu menyasar sejumlah merek populer Indonesia yang memiliki pangsa pasar di Malaysia, seperti Indomie, Kopi Kenangan, J.Co Donuts, Garuda Indonesia, hingga produk outdoor Eiger.

Tidak hanya menyasar produk fisik, gelombang sentimen negatif tersebut juga menyerukan pembatasan terhadap pemutaran karya musik, konser, hingga penampilan artis-artis asal Indonesia di panggung hiburan Malaysia.

Harga Pakan Ayam Melonjak, Opsi Subsidi Disiapkan

Sebelumnya, kenaikan harga minyak dinilai mempengaruhi harga pakan yang berdampak terhadap peternak. Seiring hal itu, pemerintah pun kini mengomunikasikan potensi pemberian subsidi pakan ayam sebagai salah satu upaya menekan harga pakan ayam yang membebani peternak.

Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso merespons keluhan peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Peterlu Nasional (PPN) terkait lonjakan harga pakan ayam yang meningkatkan biaya operasional peternakan.

“Kita sekarang lagi komunikasikan, kita akan cari solusinya segera,” kata Budi, mengutip Antara, Kamis, (8/10/2026).

Dia menuturkan, lonjakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga pakan. Ia menuturkan, pemerintah akan mengambil langkah supaya harga pakan ayam tetap terjangkau bagi peternak.

Budi menuturkan, opsi subsidi untuk pakan ayam masih dalam tahap pembahasan dan belum ada keputusan mengenai skema yang akan diterapkan.

Sebelumnya, pemerintah juga sudah mengumumkan pemberian subsidi untuk impor kedelai bagi perajin tahu dan tempe sebesar Rp2.000 kilogram.

Para peternak yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional (PPN) mendatangi Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu (7/10).

Mereka mengeluhkan kelangkaan serta lonjakan harga jagung dan bungkil kedelai yang merupakan bahan baku utama pakan.

Perwakilan PPN Suardi menjelaskan, jagung dan bungkil kedelai menyumbang porsi besar dalam pakan ayam petelur, yakni masing-masing 50 persen dan 25 persen dari total biaya produksi.

Menurut Suardi, harga bungkil kedelai yang semula normal di kisaran Rp 7.200–Rp 7.500 per kilogram, kini melonjak drastis hingga menyentuh Rp 9.900–Rp 10.000 per kilogram.

Sementara itu, harga telur ayam ras segar di tingkat konsumen mencapai Rp 29.750 per kilogram, sedangkan harga di tingkat produsen Rp 25.600 per kilogram, menurut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional Bank Indonesia pada 8 Oktober.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6