Baja Ringan Kendal Tembus Australia, Ekspor Perdana Rp 132 Miliar

Produk baja ringan buatan Indonesia menembus Australia. Auri Steel membidik ekspor 6.000 ton per tahun senilai Rp 132 miliar.

Diterbitkan 06 Oktober 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Produk baja buatan Kendal, Jawa Tengah, mulai menembus pasar internasional. PT Auri Steel Metalindo melakukan ekspor perdana produk jadi baja ringan ke Australia. Dalam ekspor perdana tersebut, sebanyak 60.000 batang baja ringan dikirim ke Melbourne, Australia. Ekspor ini memiliki potensi mencapai 6.000 ton per tahun dengan nilai sekitar Rp 132 miliar.

Pencapaian tersebut sekaligus mencatatkan Auri Steel sebagai perusahaan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) pertama di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal yang mengekspor produk jadi baja ke luar negeri.

Pemerintah menilai keberhasilan ini menunjukkan industri logam nasional semakin mampu memenuhi standar dan kebutuhan pasar global.

Direktur Industri Logam, Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Eko Agus Nugroho, mengatakan ekspor perdana tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni.

"Ekspor perdana kali ini tentu patut kita syukuri. Namun, yang jauh lebih penting agar tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi ini menjadi sebuah awal dari hubungan perdagangan yang berkelanjutan dan berlangsung jangka panjang," kata Eko dalam keterangan tertulis, Selasa (6/10/2026).

Menurut Eko, ekspor tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat industri manufaktur berorientasi ekspor.

 

Produk Baja Indonesia Mulai Dilirik Pasar Global

Eko mengatakan keberhasilan Auri Steel menjadi bukti bahwa penguatan kapasitas produksi dan kualitas industri dalam negeri dapat membuka peluang lebih besar di pasar internasional.

"Langkah ini menjadi gambaran bahwa ketika kapasitas dan kualitas industri nasional terus diperkuat, produk yang dihasilkan di dalam negeri memiliki peluang untuk semakin luas menjangkau pasar internasional," ujarnya.

Kementerian Perindustrian pun mendorong industri nasional meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga daya saing di pasar global.

Menurut Eko, ekspor produk manufaktur juga memberikan efek berganda bagi perekonomian. Aktivitas ekspor dapat menggerakkan berbagai sektor yang terhubung dalam rantai pasok industri.

"Artinya, satu ekspor itu dapat menggerakkan banyak roda ekonomi. Semakin besar ekspor industri manufaktur nasional, tentu akan semakin luas pula dampaknya terhadap penguatan ekosistem industri dan perekonomian di Indonesia," terang Eko.

Executive Director Kawasan Industri Kendal, Juliani Kusumaningrum, menilai ekspor Auri Steel menjadi momentum penting bagi pengembangan industri manufaktur bernilai tambah.

"Pencapaian hari ini merupakan buah dari kerja keras, komitmen terhadap kualitas, dan visi strategis Auri Steel. Terlebih lagi, PT Auri Steel Metalindo menjadi perusahaan PMDN pertama yang berhasil mengekspor produk jadi baja ke luar negeri. Selama ini, ekspor sektor baja Indonesia banyak didominasi bahan mentah atau setengah jadi," ujar Juliani.

 

Auri Steel Ingin Produk Indonesia Dikenal karena Kualitas

Direktur Utama PT Auri Steel Metalindo, Stanislaus Auripallas Pramana, mengaku bangga karena produk yang dibuat di Kendal kini digunakan masyarakat Australia.Menariknya, teknologi baja ringan yang digunakan perusahaan tersebut justru berasal dari Australia. Kini, produk yang dibuat dengan teknologi tersebut dikirim kembali ke negara tersebut dalam bentuk produk jadi.

"Seluruh tim Auri Steel tentu bangga karena hari ini produk yang kami produksi di Kendal bisa sampai ke Australia. Ini menjadi pencapaian penting dan sekaligus membuktikan bahwa perusahaan PMDN di Indonesia dapat tumbuh dan membawa produk dalam negeri ke pasar internasional," ungkap Auripallas.

"Hari ini, produk yang kami produksi di Kendal akan menempuh perjalanan ribuan kilometer dan akan digunakan oleh masyarakat Australia. Pada produk-produk tersebut, terdapat sebuah identitas yang ingin terus kami bawa ke dunia, yaitu made in Indonesia. Kami ingin suatu hari nanti, produk buatan Indonesia dikenal bukan karena harganya yang murah melainkan karena kualitasnya yang terbaik," tuturnya.

Auri Steel berdiri pada 28 September 2016. Awalnya, perusahaan memproduksi baja ringan dan atap galvalum untuk kebutuhan konstruksi dengan kapasitas sekitar 5 ton per hari.

Kapasitas produksi kemudian meningkat menjadi 120 ton per hari pada akhir 2022. Nilai investasi perusahaan juga tumbuh dari sekitar Rp 180 miliar menjadi Rp 1 triliun.

Jumlah tenaga kerja meningkat dari tujuh orang pada 2016 menjadi 100 orang pada 2022 dan kini mencapai 480 orang. Auri Steel menargetkan jumlah pekerja meningkat menjadi 1.500 orang pada 2028.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6