Wamentan Geber Hilirisasi Perkebunan-Peternakan pada 2026

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono juga menyoroti penguatan sektor peternakan.

Diterbitkan 31 Desember 2025, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono mengungkap program prioritas yang akan dilakukan pada 2026. Hilirisasi perkebunan hingga penguatan sektor peternakan akan menjadi perhatian utama.

sudaryono menyampaikan, target swasembada pangan masih menjadi agenda utama. Hiilirisasi sektor perkebunan seperti coklat dan kopi menjadi perhatian.

"Tahun 2026 yang sudah tercapai dipertahankan, menunya ditambah menunya ditambah adalah dengan dengan hilirisasi komoditi perkebunan. Ada tebu, ada coklat, ada kopi, ada mete, ada apa, macam-macam ya," ungkap Sudaryono di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (31/12/2025).

Selain itu, penguatan sektor peternakan juga turut menjadi perhatian Sudaryono. Mengingat adanya peningkatan kebutuhan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Termasuk juga bagaimana merevitalisasi peningkatan produksi sektor protein, yaitu ayam dan telur dan juga susu. Khususnya untuk memenuhi kebutuhan MBG, karena tahun depan ini dipredisi 80 sekian juta orang akan dapat MBG, dan itu kan ada kebutuhan besar terhadap protein," tuturnya.

Dia menuturkan, tidak ada yang dijalankan lebih dahulu. Namun, kedua aspek itu akan digarap bersama mulai 2026.

RI Berhasil Swasembada

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono memastikan target strategis Kementerian Pertanian tercapai sepanjang 2025 ini. Utamanya pada aspek swasembada pangan yang jadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.

RI 1 memang memberikan mandat swasembada pangan ke Kementan sejak awal menjabat, Oktober 2024 lalu. Sudaryono memastikan target itu bisa dicapai di 2025 ini.

"So far tercapai ya, kita kan memang fokus di swasembada," kata Sudaryono di Kantor Kementan, Jakarta, Rabu, 31 Desember 2025.

 

Tidak Ada Impor Beras

Dia membeberkan sejumlah aspek berhasil dipenuhi dari produksi lokal. Misalnya, tidak adanya impor beras, jagung, hingga gula konsumsi. Tiga aspek itu jadi bagian pada konteks swasembada pangan nasional.

"Bagaimana tidak impor beras dan tidak impor jagung dan tidak impor gula konsumsi. So far kita tercapai," ungkapnya.

Asal tahu saja, pemerintah tidak mengimpor beras medium sepanjang 2025. Hal ini diperkuat juga oleh stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang mencapai 3,39 juta ton di akhir tahun.

Swasembada Beras Dicapai Setahun

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengapresiasi capaian sektor pangan nasional di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

Dalam rapat paripurna satu tahun Kabinet Merah Putih, Prabowo menegaskan bahwa target swasembada pangan yang semula direncanakan tercapai dalam empat tahun, berhasil diwujudkan hanya dalam waktu satu tahun.

"Di bidang pangan ini salah satu prestasi kita yang sangat melegakan. Saya memberi waktu empat tahun untuk kita kembali swasembada, ternyata tim pangan kita berhasil. Insyaallah swasembada dalam satu tahun, Saudara-saudara,” ujar Prabowo dalam rapat kabinet di Jakarta, 20 Oktober 2025.

Sidak Pupuk di Malang, Wamentan Sudaryono Pastikan Harga Turun

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono melakukan inspeksi mendadak ke sebuah kios pupuk di Desa Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada Sabtu (22/11/2025). Kunjungan ini bertujuan memastikan penerapan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang baru sesuai kebijakan pemerintah.

Dalam agenda tersebut, Sudaryono berdialog langsung dengan pemilik kios dan kelompok tani untuk mengecek harga, distribusi, serta pelayanan pupuk di lapangan. Sejumlah petani menyampaikan kepada Wamentan bahwa harga pupuk di lokasi tersebut telah turun dan sesuai ketentuan HET terbaru.

“Saya nandur padi, Pak. Pupuknya sekarang sembilan puluh ribu. Sudah sesuai. Sekarang harganya murah, Pak. Alhamdulillah. Terima kasih Pak Prabowo.” ujar seorang petani saat membeli pupuk di Toko Tumapel Jaya.

Mereka juga menyebut pembelian pupuk kini lebih praktis dan biaya produksi menjadi lebih ringan.

“Biasanya kami ambil sendiri, Pak. Tapi kalau butuh diantar bisa, cuma nambah biaya. Yang penting sekarang harganya sudah turun,” tutur petani tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6