OECD Ramal Pertumbuhan Ekonomi Global Hanya Sebesar Ini di 2026

OECD menyatakan pertumbuhan ekonomi global saat ini bertahan lebih baik dari yang diperkirakan.

Diterbitkan 03 Desember 2025, 17:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memprediksi pertumbuhan ekonomi global melambat dari 3,2% pada 2025 menjadi 2,9% pada tahun 2026. Rebound pertumbuhan diramal baru akan terjadi pada tahun 2027 menjadi 3,1%.

OECD dalam laporan ekonomi outlook terbarunya, Rabu (12/3/2025), menyatakan pertumbuhan ekonomi global saat ini bertahan lebih baik dari yang diperkirakan. "Perekonomian global terbukti lebih tangguh dari yang diperkirakan tahun ini, didukung oleh kondisi keuangan yang membaik, meningkatnya investasi dan perdagangan terkait AI, serta kebijakan makroekonomi," mengutip penjelasan lembaga berbaris di Paris ini.

Namun, kerentanan yang kian meningkat membayangi pertumbuhan ekonomi dunia. Pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda awal pelemahan meskipun tingkat pengangguran stabil di level 4,9%, dengan lowongan pekerjaan di banyak negara turun di bawah rata-rata tahun 2019 dan lemahnya kepercayaanmelemah.

Disebutkan, risiko seputar prospek ekonomi tetap signifikan, termasuk adanya hambatan perdagangan yang berlanjut dari Amerika Serikat.

Kemudian potensi penyesuaian risiko yang tajam di pasar keuangan, yang berpotensi diperburuk tekanan pada lembaga keuangan non-bank, dan pasar aset kripto yang volatil.

"Kekhawatiran fiskal yang berkepanjangan dapat menyebabkan kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang, yang dapat memperketat kondisi keuangan dan meningkatkan beban pembayaran utang, yang berpotensi membebani pertumbuhan ekonomi," mengutip penjelasan OECD.

Disebutkan juga kegiatan aktivitas jangka pendek akan melemah seiring dengan kenaikan tarif yang memberikan dampak secara bertahap. Ini kian membebani investasi dan perdagangan, di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan yang terus berlanjut.

Pertumbuhan diperkirakan baru akan kembali menguat di akhir tahun 2026 seiring meredanya dampak tarif, membaiknya kondisi keuangan, dan rendahnya inflasi yang mendukung permintaan, dengan negara-negara berkembang di Asia tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan global.

 

 

Menko Airlangga Prediksi Ekonomi 2026 Bakal Cerah

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut tahun 2025 sebagai whirlwind year atau tahun penuh putaran gejolak.  Menurut dia, rangkaian krisis global saling bertumpuk dan menciptakan tekanan besar bagi ekonomi dunia.

Perang tarif antara negara besar, konflik Israel–Iran, krisis berkepanjangan di Gaza, serta perang Rusia–Ukraina menjadi penyebab utama tingginya ketidakpastian.

"Tahun 2025 ini adalah tahun kita sebut whirlwind year. Kita lihat di tahun penuh ketidakpastian ini kita sebut juga sebagai headwind. Berbagai gejolak terutama di tahun ini adalah gejolak akibat perang tarif, kemudian Perang Israel dengan Iran, Gaza belum selesai, kemudian juga Ukraina belum selesai,” ujar Airlangga dalam Rapat Pimpinan Nasional KADIN, di Park Hyatt, Jakarta, Senin (1/12/2025).

Namun, di tengah tekanan tersebut, Indonesia dinilai mampu menjaga daya tahan ekonomi. Stabilitas makro terjaga, konsumsi tetap positif, dan nilai tukar relatif lebih stabil dibandingkan banyak negara emerging lainnya. 

Airlangga menegaskan bahwa fundamental ekonomi RI cukup kuat untuk menghadapi gejolak global yang masih belum menunjukkan tanda mereda.

"Kita melihat ekonomi sebetulnya sudah kita restart dengan di kuartal ketiga antara lain tingkat suku bunga mulai dipotong dan BI memotong tingkat suku bunga 125 basis point tahun ini dan ini juga mendorong perekonomian sudah mulai di restart,” ujarnya.

 

Sinyal Pemulihan Muncul Ekonomi RI Mulai “Restart” Jelang 2026

Meski 2025 penuh tantangan, Airlangga menyampaikan bahwa proses restart ekonomi Indonesia sudah terlihat sejak kuartal III. Menurut dia, kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang agresif yang dilakukan Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan yang menggelontorkan dana sekitar Rp 200 triliun mampu mendorong penguatan ekonomi dalam negeri.

Dampaknya mulai terlihat pada kenaikan aktivitas manufaktur nasional. Purchasing Managers’ Index (PMI) kembali ekspansif dan pada November mencapai 53,3 level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Permintaan dalam negeri juga meningkat, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen yang mencapai 121,2 serta Mandiri Spending Index yang menembus 312.

"Kita lihat aktivitas manufaktur ekspansif dan impresif. Tahun ini sudah naik ke 53,3 per November hari ini diumumkan artinya ini akibat dari permintaan dalam negeri yang cukup tinggi, kemudian kita lihat indeks keyakinan konsumen itu 121,2 persen basisnya 100, kalau kita menggunakan mandiri spending index itu juga sudah 312,” ujarnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6