Investasi Manufaktur Indonesia Makin Dilirik

Investasi asing di sektor manufaktur ke Indonesia terus tumbuh, didukung proyek strategis seperti Patimban dan Subang Smartpolitan.

Diterbitkan 17 November 2025, 19:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seminar bertajuk Enhancing Logistic Efficiency for Manufacturing in Indonesia digelar di kantor Drew & Napier, Singapura. Acara ini merupakan upaya promosi kolaboratif Investasi di sektor manufaktur hasil kerja sama antara Subang Smartpolitan, Drew & Napier, Makarim & Taira S., dan UOB Indonesia, serta didukung oleh PT Patimban Global Gateway Terminal (PGT) dan Indonesia Investment Promotion Centre (IIPC) Singapura.

Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Indonesia memaparkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu tujuan favorit investor global, terutama dari Asia. Singapura, Hong Kong, dan Tiongkok konsisten masuk jajaran lima besar negara dengan Penanaman Modal Asing (PMA) terbesar di Indonesia. Secara khusus, Singapura mencatat kontribusi rata-rata 31 persen dalam tiga tahun terakhir dengan CAGR mencapai 22,9 persen.

Direktur Promosi ASEAN dan Australia BKPM menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 7–8 persen pada 2028.  “Memudahkan investor dan downstream industri adalah cara yang paling efektif untuk mencapainya,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (17/11/2025).

Ia menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan kawasan industri menjadi kunci mempercepat ekspansi bisnis di Indonesia.

Setelah sesi pembuka, paparan dilanjutkan oleh Direktur IIPC Singapura, Andria Buchara, yang menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah dalam memperkuat daya saing logistik nasional.  “Pengembangan koridor industri-logistik, peningkatan kapasitas pelabuhan, serta digitalisasi layanan perizinan menjadi prioritas,” ujarnya.

Langkah tersebut dinilai mampu menurunkan biaya logistik dan mempercepat arus barang bagi pelaku industri.

 

Menghubungkan Investor dengan Mitra Strategis

Seminar juga fokus pada sinergi proyek strategis nasional seperti Pelabuhan Patimban yang akan terintegrasi dengan kawasan Subang Smartpolitan. Kolaborasi ini diyakini dapat menciptakan rantai pasok yang lebih efisien bagi pelaku manufaktur. Kevin Tan dari UOB menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan ekosistem kolaboratif untuk memperkuat infrastruktur logistik sebagai fondasi pengembangan basis produksi regional.

Harapman Kasan, Wholesale Banking Director UOB Indonesia, menyatakan komitmen UOB dalam menghubungkan investor dengan mitra strategis agar sektor manufaktur di Indonesia semakin kompetitif.

Vice President Subang Smartpolitan, Abednego Purnomo, menjelaskan bahwa kawasan industri terintegrasi ini dirancang sebagai

“Smart, Green, and Sustainable City” dengan akses langsung ke Pelabuhan Patimban, Bandara Kertajati, dan Tol Trans Jawa. Infrastruktur tersebut dinilai dapat memangkas waktu tempuh logistik dan meningkatkan efisiensi operasional. “Perkembangan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir sangat berkontribusi pada efisiensi logistik laut,” katanya.

 

Perkembangan Terbaru Patimban

Sementara itu, Presiden Direktur PGT Pierre Avesque memaparkan perkembangan terbaru Patimban. Terminal peti kemas ditargetkan beroperasi Januari 2026 menggunakan satu unit Mobile Harbour Crane (MHC), dengan kapasitas yang akan meningkat hingga 800.000 TEUs pada akhir 2026 setelah kedatangan peralatan tambahan.

Penutup seminar diisi dengan ulasan regulasi investasi oleh Maria Sagrado dari Makarim & Taira S. serta Julian Kwek dari Drew & Napier. Mereka menilai kebijakan baru pemerintah, termasuk Peraturan BKPM No. 5 Tahun 2025, semakin memudahkan investor asing masuk ke Indonesia. Kolaborasi kuat pemerintah dan sektor swasta diyakini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat investasi manufaktur global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6