Penurunan BI Rate Jadi Jalan BCA Perkuat Pembiayaan

BI rate turun jadi momentum positif. BCA optimistis konsumsi tetap jadi motor ekonomi, sementara kredit ditarget tumbuh 6–8 persen hingga akhir tahun.

Diterbitkan 10 September 2025, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gelaran BCA Wealth Summit 2025 tak hanya membahas strategi pengelolaan kekayaan jangka panjang, tetapi juga menjadi ajang diskusi soal kondisi ekonomi terkini. Penurunan suku bunga acuan atau BI Rate dan dinamika global menjadi bahan pembicaraan dalam gelaran tahunan BCA ini.

Direktur BCA Haryanto T Budiman menjelaskan, Bank Indonesia memang sudah melakukan langkah monetary easing dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini memungkinkan karena inflasi terjaga, sementara indeks dolar global juga cenderung melemah.

“Kondisi ini membuka ruang bagi Indonesia untuk menurunkan suku bunga tanpa tekanan besar. Dengan demikian, kompetisi antar-bank dalam menghimpun dana juga bisa lebih sehat,” ujarnya, Rabu (10/9/2025).

Menurut Haryanto, meski BI rate turun, dampaknya lebih terasa pada instrumen jangka pendek. Untuk pinjaman konsumer seperti KPR, BCA cenderung tidak agresif menaikkan bunga, bahkan saat BI rate sempat tinggi.

“Kita selalu menjaga agar bunga KPR tetap kompetitif. Karena properti punya multiplier effect besar bagi ekonomi, bukan hanya rumahnya, tapi juga industri furnitur, elektronik, hingga bahan bangunan,” jelasnya.

Ia menegaskan, penurunan bunga acuan justru menjadi peluang bagi BCA untuk memperkuat pembiayaan. Hingga kini, tren permintaan KPR dan kredit konsumsi masih on track sesuai target pertumbuhan 6–8% di akhir tahun.

“Hasil expo kemarin juga positif, aplikasi kredit tetap masuk deras, termasuk untuk mobil dan motor. Artinya, optimisme masyarakat masih kuat,” kata Haryanto.

Daya Beli Masyarakat Jadi Pondasi Utama

Selain soal bunga, ia juga menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat. Konsumsi menurutnya adalah mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan biaya dana yang lebih terjangkau, bank memiliki ruang untuk menyalurkan kredit dengan bunga lebih bersaing, yang pada akhirnya mendukung aktivitas konsumsi dan investasi.

Diskusi ini menguatkan pesan utama BCA Wealth Summit 2025 yang mengangkat tema Strengthening Wealth Longevity. BCA menekankan bahwa strategi menjaga kekayaan tidak bisa dilepaskan dari pemahaman atas kondisi ekonomi, disiplin investasi, diversifikasi aset, hingga proteksi.

“Pasar akan selalu naik turun, jangan reaktif. Yang penting adalah strategi jangka panjang. Diversifikasi, proteksi kesehatan, dan investasi yang benar akan menjaga keberlanjutan kekayaan,” tutup Haryanto.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6