Sukses

Rupiah Dibuka Loyo Hari Ini Gara-Gara Suku Bunga The Fed

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah melemah pada perdagagang Rabu pagi seiring masih terjaganya prospek kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed).

Rupiah pagi ini melemah 22 poin atau 0,15 persen ke posisi 14.875 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.853 per dolar AS.

"Dolar AS outlooknya menguat dipicu masih terjaganya prospek kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve dan pernyataan yang cenderung hawkish dari pejabat The Fed," kata Analis Monex Investindo Futures Faisyal dikutip dari Antara, Rabu (10/8/2022)

Fokus pelaku pasar akan tertuju ke data Indeks Harga Konsumen atau CPI AS yang dirilis malam nanti yang akan menjadi petunjuk untuk seberapa agresif Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada September nanti.

Prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS masih terjaga dibalik perilisan data tenaga kerja dan upah AS pada akhir pekan lalu yang hasilnya dipandang optimistis.

Data tersebut meningkatkan keyakinan untuk adanya kenaikan suku bunga besar lainnya pada pertemuan The Fed pada 20-21 September nanti.

Sejauh ini para trader melihat besarnya peluang sebesar dua pertiga untuk kenaikan sebesar 75 basis poin pada pertemuan bulan depan.

Sentimen lain yang dapat mendukung penguatan dollar AS adalah pesan yang hawkish dari Presiden The Fed St Louis ,James Bullard, yang mengatakan bahwa dia ingin suku bunga di level 4 persen pada akhir tahun ini.

Data CPI AS akan dirilis pukul 19:30 WIB nanti yang diperkirakan akan menunjukkan inflasi yang berada di level tertinggi dalam se-dekade mereda pada Juli setelah kenaikan suku bunga sebesar 75 basis poin berturut-turut pada Juni dan Juli.

Pada Selasa (9/8) lalu, kurs rupiah ditutup menguat 23 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp14.853 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.876 per dolar AS.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Rupiah Berpotensi Menguat pada Rabu 10 Agustus 2022

Pada perdagangan Selasa (9/8/2022) Rupiah berhasil ditutup menguat 23 poin walaupun sempat menguat 25 poin di level Rp 14.853. Sedangkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya Rupiah berada di posisi 14.876.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah berpotensi menguat pada perdagangan Rabu, 10 Agustus 2022.

"Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 14.830 hingga Rp 14.890,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Selasa (9/8/2022).

Secara internal, Ibrahim menjelaskan utang Indonesia naik Rp 121 triliun menjadi Rp 7.123,62 triliun. Secara rasio terhadap produk domestik bruto (PDB), utang tersebut dalam batas aman, wajar, serta terkendali diiringi dengan diversifikasi portofolio yang optimal.

"Jumlah utang pemerintah Indonesia merupakan paling kecil di dunia dibandingkan negara-negara lainnya. Dan utang tersebut hanya 40 persen dari PDB. Sedangkan negara-negara maju lainnya hingga 100 persen dari PDB," ujar Ibrahim.

Utang pemerintah sebesar Rp 7.123,62 triliun merupakan utang produktif, dimana utang tersebut digunakan untuk pembangunan jalan tol dan tentu utangnya akan dikembalikan kepada orang yang memberikan pinjaman. 

Pembangunan yang dilakukan pemerintah tentu dihitung dengan betul dan benar termasuk bagaimana return on investment-nya. Oleh karena itu, jangan sampai proyek tersebut ditipu oleh informasi-informasi yang salah.

Kementerian Keuangan menyebut utang pemerintah memiliki kontribusi 11,54 persen dari utang pinjaman pemerintah hingga akhir Juni 2022 yang sebesar Rp 821,74 triliun. Pinjaman ini dirincikan dalam dua kategori yakni pinjaman dalam negeri sebanyak Rp 14,74 triliun dan pinjaman luar negeri sebesar Rp 806,31 triliun.

Kemudian untuk untuk pinjaman luar negeri rinciannya, pinjaman bilateral sebesar Rp 271,95 triliun, pinjaman multilateral sebesar Rp 491,71 triliun dan pinjaman commercial bank sebesar Rp 42,66 triliun.

Sementara berdasarkan mata uang, utang pemerintah didominasi oleh mata uang domestik (Rupiah), yaitu 70,29 persen. Selain itu, saat ini kepemilikan oleh investor asing terus menurun sejak 2019 yang mencapai 38,57 persen, hingga akhir 2021 yang mencapai 19,05 persen, dan per 5 Juli 2022 mencapai 15,89 persen.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 3 halaman

Indeks Dolar AS Menguat

Dolar AS berada tepat di bawah tertinggi baru-baru ini pada Selasa karena para pedagang menunggu data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini, yang dapat mengambil tekanan dari Federal Reserve dan menempatkannya pada greenback jika itu menunjukkan laju kenaikan harga telah mencapai puncaknya.

Pasar saham AS. melihat sesi yang bergejolak pada Senin di tengah kantong pendapatan yang beragam, yang mendorong permintaan safe haven. Investor juga terjebak antara pertumbuhan dan permainan nilai, menjelang data inflasi akhir pekan ini.

Fokus sekarang adalah pada data CPI AS untuk Juli, yang akan dirilis pada Rabu. Analis mengharapkan pembacaan tahun-ke-tahun sebesar 8,7 persen, turun dari 9,1 persen yang terlihat pada Juni. 

Penurunan inflasi yang lebih besar dari perkiraan kemungkinan akan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga yang tajam oleh Federal Reserve, dan akan positif untuk harga emas.

Pada Selasa, survei Fed New York menunjukkan ekspektasi inflasi konsumen turun tajam pada Juli, mungkin mengurangi beberapa tekanan ke atas pada suku bunga dari angka pekerjaan yang kuat minggu lalu. 

Pasar uang berjangka menunjukkan pedagang melihat sekitar dua pertiga peluang kenaikan 75 bp bulan depan dan telah mulai mendorong ekspektasi untuk penurunan suku bunga kembali, lebih dalam ke tahun 2023.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS