Sukses

Harga Emas Dunia Hari Ini Susut Gara-gara 2 Hal

Liputan6.com, Jakarta Harga emas dunia kembali kehilangan kekuatannya. Harga emas hari ini di pasar global menuju kuartal terburuknya dalam lima kuartal dipicu penguatan Dolar AS dan retorika hawkish dari bank sentral mengikis daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Melansir laman CNBC, Jumat (1/7/2022), harga emas dunia di pasar spot gold turun 0,6 persen menjadi USD 1.807,11 per ounce. Ini mencatat penurunan lebih dari 6 persen secara kuartalan, dan penurunan bulanan ketiga berturut-turut.

Adapun harga emas berjangka AS turun 0,5 persen menjadi USD 1.807,7. “Emas menderita karena sikap agresif bank sentral, terutama Federal Reserve, mengirimkan keinginan kuat mereka untuk mengendalikan inflasi terlepas dari rasa sakit yang mungkin timbul dalam perekonomian secara luas,” kata Ricardo Evangelista, Analis Senior ActivTrades.

"Menurunkan inflasi yang tinggi di seluruh dunia akan menyakitkan dan bahkan dapat menghancurkan pertumbuhan, tetapi itu harus dilakukan dengan cepat untuk mencegah pertumbuhan harga yang cepat mengakar," kata Kepala Bank Sentral top dunia, ketika mereka berkumpul di konferensi tahunan ECB di Portugal.

Biasanya, emas cenderung bekerja dengan baik pada saat inflasi tinggi, tetapi investor akan khawatir tentang memarkir modal mereka di sesuatu yang tidak menghasilkan apa-apa, Evangelista menambahkan.

 

2 dari 2 halaman

Indeks Dolar

Mengurangi daya tarik emas, indeks dolar melayang di dekat puncak dua dekade terakhir. Ini diprediksi bisa mencatatkan kuartal terbaiknya dalam lebih dari lima tahun, membuat emas yang dihargakan dengan greenback lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Kinerja Bullion pada kuartal kedua menghapus kenaikan yang dibuat di awal tahun, ketika konflik Ukraina-Rusia mengangkat permintaan untuk safe haven, dengan harga kembali di sekitar level yang mereka mulai tahun 2022 di atas USD 1.800.

Data inflasi zona euro dijadwalkan akan dirilis pada hari Jumat, dan menurut Commerzbank, akan menarik "untuk melihat apakah ECB akan memikirkan kembali sikapnya jika tingkat inflasi ternyata lebih tinggi dari yang diharapkan."