Sukses

Pasca Lockdown Covid-19, Aktivitas Pabrik China Mulai Bergerak

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas pabrik di China berkembang untuk pertama kalinya dalam empat bulan, menyusul pencabutan lockdown Covid-19 di kota-kota besar negara itu.

Dilansir dari CNBC, Kamis (30/6/2022) indeks Purchasing Managers' Index (PMI) China naik menjadi 50,2 pada Juni 2022, naik dari 49,6 pada Mei 2022, menurut Biro Statistik Nasional (NBS) China.

Polling sebelumnya memperkirakan PMI China akan mencapai 50,5, di atas tanda 50 poin yang memisahkan kontraksi dari pertumbuhan bulanan.

Sub-indeks untuk produksi di China berada di angka 52,8, - tertinggi sejak Maret 2021, sementara pesanan baru juga kembali berekspansi untuk pertama kalinya dalam empat bulan, meskipun pertumbuhan tetap lemah.

Meskipun aktivitas bisnis di China telah kembali berjalan setelah lockdown Covid-19 pada bulan April dan Mei, hambatan, termasuk pasar properti yang masih lemah, belanja konsumen yang lemah, serta ketakutan akan gelombang infeksi baru tetap ada.

"Meskipun sektor manufaktur terus pulih bulan ini, 49,3 persen dari perusahaan melaporkan pesanan tidak mencukupi," kata Zhu Hong, ahli statistik senior di  Biro Statistik Nasional China.

"Permintaan pasar yang lemah masih menjadi masalah utama yang dihadapi industri manufaktur," ungkapnya.

Salah satu pusat ekonomi terbesar di China, yaitu Kota Shanghai mengakhiri pembelakuan lockdown sejak 1 Juni 2022, memungkinkan pabrik-pabrik kecil di wilayah tersebut melanjutkan produksi.

Namun, aturan social distancing untuk mencegah risiko Covid-19, seperti saat makan di restoran masih berlaku sepanjang bulan Juni ini.

2 dari 3 halaman

Dilanda Wabah Baru Covid-19, Akankah China Capai Target PDB 5,5 Persen?

Setelah dua tahun mencatat rekor ekspor, pabrikan di China melihat harga bahan baku yang tinggi, margin keuntungan yang berkurang, persaingan dari pesaing luar negeri, dan permintaan global yang melambat.

PMI non-manufaktur resmi China di bulan Juni meningkat menjadi 54,7 dari 47,8 di bulan Mei 2022.

Industri jasa di China juga melakukan rebound yang mengesankan, tercepat dalam 13 bulan, dengan sektor-sektor yang terpukul keras oleh pembatasan Covid-19 mengejar permintaan yang sebelumnya tertunda.

Sementara itu, analis mengatakan target PDB China sekitar 5,5 persen untuk tahun ini akan sulit dicapai jika masih menekankan strategi nol-Covid-19.

Tetapi Perdana Menteri China Li Keqiang berjanji untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang wajar pada kuartal kedua, meskipun beberapa ekonom sektor swasta memperkirakan ekonomi China akan menyusut pada kuartal April-Juni dari tahun sebelumnya.

3 dari 3 halaman

China Janji Menolong Ekonomi 4 Negara di Tengah Krisis Covid-19, Ada Rusia

Presiden China Xi Jinping menyatakan akan membantu meningkatkan ekonomi di empat negara meski masih menghadapi krisis Covid-19 di dalam negeri, dan dampak dari perang Rusia-Ukraina.

Dilansir dari VOA News, Senin (27/6/2022) Xi Jinping menyampaikan pernyataan itu pekan lalu di di KTT BRICS virtual yang diselenggarakan oleh Beijing.

Keempat negara yang akan dibantu China itu adalah Brazil, Rusia, India dan Afrika Selatan, yang bersama-sama dengan China membentuk kelompok yang dikenal dengan BRICS.

Laporan kantor berita Xinhua menyebut, Xi Jinping menganjurkan kerja sama BRICS dalam pembayaran lintas batas dan peringkat kredit. Dia lebih lanjut juga merekomendasikan fasilitasi perdagangan, investasi dan pembiayaan.

Xi Jinping, sebagai tuan rumah KTT ke-14 kelompok negara itu juga menyampaikan bahwa pihaknya akan bekerja dengan negara-negara BRICS untuk mendukung pembangunan global yang lebih kuat, lebih hijau dan lebih sehat.

Selain itu, Xi Jinping juga mengajak negara-negara lainnya untuk bergabung dengan New Development Bank, pemberi pinjaman lunak yang didirikan oleh negara-negara BRICS pada tahun 2015.

Dia juga menyerukan untuk meningkatkan mekanisme bantuan neraca pembayaran darurat negara kelompok BRICS, Contingent Reserve Arrangement, Xinhua menambahkan.

Ekonomi China telah melampaui negara lain setelah beberapa dekade mengencangkan ekspor manufakturnya. 

Tetapi ekonomi negara itu tengah tertatih-tatih tahun ini karena lockdown untuk menahan lonjakan Covid-19 – yang juga menghambat rantai pasokan global.