Sukses

Mentan SYL: KUR Pertanian Penyelamat Negeri Ini

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggenjot realisasi penyerapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian. Hingga Juli 2021, penyerapan KUR Pertanian di lapangan sudah mencapai Rp45 triliun dari plafon yang disediakan sebesar Rp70 triliun. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) berharap semua stakeholder bekerja keras agar KUR Pertanian bisa terus diserap oleh petani.

"Sebab KUR ini adalah penyelamat negeri ini. Dengan KUR roda perekonomian dasar masyarakat kembali bergerak saat pandemi ini," ujar Mentan SYL saat memberi arahan pada Webinar dengan tema "KUR Pertanian Rp70 T Uang Siapa? Kupas Tuntas KUR Pertanian", Kamis (5/8/2021).

Mentan melanjutkan, KUR Pertanian merupakan penyangga ekonomi keluarga dan ekonomi dasar di semua daerah, selain mampu membuka lapangan pekerjaan. Dengan sokongan dari KUR, pertanian pada akhirnya menjelma menjadi kekuatan pemerintah untuk keluar dari krisis yang dihadapi saat ini akibat pandemi Covid-19.

Untuk menggairahkan sektor pertanian, Mentan SYL menyebut APBN tak cukup untuk mendanainya. Maka, diperlukan pendanaan lain di luar APBN agar sektor pertanian semakin bergairah.

"Kita harus bisa membantu petani melalui upaya selain APBN. Yang sudah kita rintis, bahkan satu tahun ini menjadi penyelamat negeri ini adalah KUR. KUR adalah kebijakan pemerintah. KUR itu dana bank dengan bunga yang disubsidi pemerintah. Gunakan KUR karena dia adalah fasilitas negara," ajak Mentan SYL.

Menurutnya, KUR Pertanian merupakan pembelajaran baru di negeri ini, bagaimana pada akhirnya semangat petani untuk mengembangkan budidaya pertanian mereka didukung permodalan yang memadai. 

"Ini proses pembelajaran baru di negeri ini, bagaimana menggunakan KUR menjadi energi baru bagi petani kita untuk berproduksi lebih baik. KUR bisa digunakan dari hulu hingga hilir," tegas Mentan SYL. Oleh karenanya, Mentan SYL berharap semua pihak turut membantu mendorong agar pemanfaatan KUR Pertanian ini bisa maksimal. 

"Tahun lalu kita dikasih target Rp50 triliun. Realisasinya mencapai 112 persen atau Rp55 triliun. Hasilnya, NPL atau kredit yang macet hanya 0,3 persen dan sekarang sudah lunas. KUR ini tidak memberatkan," tutur Mentan SYL.

 

Ia tak menampik ada persoalan yang timbul. Namun, hal itu hanya kasus kecil dari implementasi KUR Pertanian secara keseluruhan. 

"Tentu saja ada di sana-sini ada masalah case by case yang harus bisa diselesaikan mengenai KUR ini. Oleh karena itu, tak boleh ada daerah yang tak maksimal," harapnya.

Ia menekankan peran Kementan adalah mendorong agar petani tetap berproduksi dengan baik. Maka dari itu, KUR Pertanian harus terus didorong penyerapannya.

"Tak boleh ada halangan yang menghambat rakyat mengakses KUR sepanjang syaratnya jelas. Penyuluh harus bisa mendamping dengan baik realisasi KUR ini. KUR tak boleh dipakai untuk membeli mobil, tapi untuk mendorong produktivitas pertanian. Tak boleh dipakai konsumtif. Mari kita dorong bersama-sama. Kalau ada hambatan sampaikan kepada saya," demikian Mentan SYL.

Pada saat yang sama, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil menambahkan, realisasi KUR Pertanian di lapangan terdapat ketimpangan. Dalam arti, ada daerah dengan serapan KUR Pertanian yang cukup baik, ada pula yang masih rendah.

"Yang terendah itu seperti Maluku, Banten dan beberapa daerah lainnya. Targetnya cukup lumayan besar. Harapan kami tentunya hal ini bisa digenjot," harap Ali.

Salah satunya Ali menaruh harapan besar kepada penyuluh untuk membantu akselerasi penyerapan KUR Pertanian di lapangan.

"Yang ingin saya tekankan, APBN kita terbatas. Kalau bagi-bagi program sesungguhnya itu mudah. Tapi bukan itu lagi sekarang targetnya. Ada akses pembiayaan. Apa yang ada ini, Rp70 triliun ini, kalau bisa di atas ini (serapannya), harapan kita bisa melebihi itu. Tahun 2021 ini harapan kita para petani, gapoktan, asosiasi harus bekerjasama dengan buyer, eksportir, untuk menggenjot ekspor. Ini bagian juga dari upaya untuk menggenjot penyerapan KUR Pertanian," tutur Ali.

 

Direktur Pembiayaan Ditjen PSP Kementan, Indah Megahwati menjelaskan, realisasi penyerapan KUR Pertanian hingga kini telah mencapai hampir Rp45 triliun. Jumlah ini lebih tinggi dibanding tahun lalu pada bulan yang sama.

“Tahun 2020 di bulan yang sama serapan KUR Pertanian baru mencapai Rp20 triliun. Mengapa saat ini serapannya lebih tinggi, karena polanya berubah,” kata Indah.

Indah berharap hingga akhir tahun 2021 jumlahnya bisa terus meningkat. Tahun ini, Indah menuturkan, implementasi KUR Pertanian di lapangan diubah polanya dibanding tahun lalu.

“Saat ini kami mengedepankan pola cluster. Tahun lalu itu dari plafon Rp50 triliun, realisasinya melebihi target Rp55 triliun. Tahun ini kami rasa juga demikian,” papar dia.

Sistem cluster tersebut dimaksudkan untuk mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan yang tengah menjadi program nasional.

“Misalnya ada cluster padi sebagai program swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional. Lalu, ada juga ada cluster jagung agar bisa menjadi produksi unggulan. Mengapa jagung, karena ini murah dan hasilnya besar. Lalu ada cluster sawit, cluster kopi, cluster jeruk, cluster hortikultura, cluster tebu dan yang tengah menjadi unggulan adalah cluster porang dan cluster sarang burung walet,” terang Indah.