Sukses

Chatib Basri: Akibat PSBB, Perusahaan jadi Zombie Akibat Sulit Tutup Biaya Usaha

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom sekaligus mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menyebut imbas dari pembatasan sosial berskala besar atau PSBB dapat membuat perusahaan akan menjadi Zombie. Mengingat PSBB membuat perusahaan kesulitan untuk menutup biaya fix cost.

Menurutnya, aturan pembatasan pengunjung pada pada restoran atau mal dengan batas maksimal 50 persen akan menyulitkan pelaku usaha. Menyusul biaya sewa tetap jalan seperti situasi normal sebelum Covid-19.

"Bayangkan jika anda buka usaha, rentnya itu enggak peduli orang yang datang 50 atau 100 persen. Kan itu adalah yang disebut dengan fix cost. Sementara orang yang datang cuma 50 persen, artinya company enggak bisa mencapai skala ekonomis," ujar dia dalam acara Bincang APBN 2021 bertajuk Percepat Pemulihan, Perkuat Reformasi Ekonomi, Selasa (13/10)

Sehingga, sambung Chatib Basri, banyak perusahaan akan dihadapkan pada kondisi sulit untuk mencapai skala ekonomis walaupun kegiatan berusaha masih bisa bertahan. Yang mana akan membuat perusahaan seperti ‘zombie'.

"Company jadi company zombie. Dia kerja untuk bank, hanya bayar utang. Ini membuat orang tidak berminat berekspansi usaha," tuturnya.

Pun, dia mengatakan, PSBB juga berdampak buruk bagi indeks manufaktur Indonesia (PMI) yang tengah tumbuh ke level 50,8 pada Agustus 2020. Kemudian pada September lalu PMI anjlok ke level 47,2 saat PSBB kembali diterapkan.

"Ini konsisten PMI kita pernah menembus level 50. Tapi akibat PSBB ini turun kan ke pada Agustus lalu," tandas Chatib Basri.

2 dari 3 halaman

Chatib Basri: Pemulihan Ekonomi Indonesia Bakal Lebih Lama

Dewan Penasihat Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Chatib Basri, meyakini pola pemulihan ekonomi nasional tidak akan berbentuk “V” shape, melainkan "U" shape. Dengan begitu, masa pemulihan ekonomi Indonesia diprediksikan membutuhkan waktu yang panjang.

“Saya yakin ekonomi kita akan pulih tapi saya berharap saya salah, recovery kita bentuknya agak susah untuk bentuk V, mungkin bentuknya huruf U, kalau bentuk huruf U artinya setiap perusahaan harus siap untuk proses pemulihan agak panjang,” kata Chatib  dalam seminar nasional daring AFPI, Kamis (3/9/2020).

Sehingga jika pemulihan itu terbukti U shape maka para pelaku UMKM dan usaha besar harus bisa bertahan hingga perekonomian Indonesia pulih di masa mendatang.

“Namun yang jadi masalah adalah kalau proses pemulihannya agak panjang, apakah akan survive atau tidak tergantung nafasnya cukup atau tidak,” ujarnya.

Menurut  Mantan Menteri Keuangan periode 2013-2014, nafas yang dimaksud adalah kemampuan bertahan di situasi krisis dampak pandemi Covid-19. Kata Chatib Basri nafas yang cukup itu bisa didorong oleh akses keuangan yang dimiliki si pelaku usaha.

“Katakanlah UKM kalau punya tabungan terbatas sementara pemulihannya memakan waktu Panjang, nafasnya tidak cukup namun sebelum pulih sudah keburu tutup. Artinya yang mereka butuhkan adalah relaksasi dari kredit dana, karena kalau panjang recovery nya baru bisa kembali normal itu dia akan mengalami kesulitan membayar kreditnya,” jelasnya.

Chatib berpendapat bahwa industri fintech memiliki keunggulan yang bisa dimanfaatkan di masa pandemi ini. Salah satunya aktivitas pembiayaan bisa dilakukan secara digital tanpa harus bertatap muka, selain itu prosesnya cepat dan tidak sulit.

Begitupun terkait agunan, untuk pembiayaan konvensional jika dalam situasi pemulihannya lambat, malah mengakibatkan pelaku usaha menutup usahanya karena sulitnya mengakses pembiayaan kredit.

“Saya justru melihat bahwa Peer to Peer bisa membantu kita di situasi saat ini. Tetapi bahwa itu tidak berdiri sendiri regulatornya juga harus mensupport, misalnya relaksasi kalau dari debiturnya minta relaksasi kredit mau gak mau itu treatmentnya kepada Peer to Peer harus sama seperti di perbankan,” pungkas Chatib Basri.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: