Sukses

Perusahaan Ini Rekrut Karyawan Tanpa Tanya Latar Belakang Pendidikan

Banyak orang dengan latar belakang pendidikan yang tak cukup tinggi harus kehilangan kesempatan bekerja.

Liputan6.com, Jakarta Latar belakang pendidikan dan catatan kriminal biasanya menjadi syarat yang wajib dilampirkan para pelamar kerja. Demi memberikan peluang kerja yang setara pada siapapun, Body Shop, perusahaan kosmetik asal Inggris menabrak tradisi melamar kerja tersebut.

Melansir laman CNBC, Kamis (12/3/2020), banyak orang dengan latar belakang pendidikan yang tak cukup tinggi harus kehilangan kesempatan bekerja lantaran terhambat syarat administrasi tersebut. Tak hanya itu, mereka yang pernah bekerja di bar atau memiliki catatan kriminal di kepolisian harus rela melepaskan berbagai peluang karier.

Kemampuannya untuk bekerja menjadi tak berarti lantaran hambatan syarat tersebut. Sebaliknya dari kebanyakan perusahaan, Body Shop ingin membantu orang-orang yang termarginalisasi untuk mendapatkan pekerjaan.

Musim semi ini, Body Shop akan menerapkan 'open hiring', sebuah proses perekrutan yang membuka peluang pada siapa saja dengan sistem 'siapa cepat dia dapat'.

Proses ini dilakukan tanpa mempertanyakan latar belakang pendidikan dan kriminal. Body Shop mengklaim pihaknya sebagai riteler pertama yang melakukan hal tersebut di Amerika SErikat.

"Bagi kami, ini bukan tentang mencari peran dan merekrut lebih banyak orang. Tapi tentang memberikan contoh sebagai sebuah brand ternama tentang bagaimana kebijakan ini dapat mendorong pada kebaikan dan melawan ketiakadilan di tengah masyarakat, seperti akses yang tidak setara terhadap peluang kerja," papar General Manager Body Shop di AS, Andrea Blieden.

Konsep 'open hiring' seringkali dikreditkan untuk Greyston Bakery yang berdiri pada 1982 di Yonkers, New York. Masyarakat dapat melamar kerja di pabriknya dan dengan cepat direkrut untuk mengisi posisi yang tersedia.

Kemudian, para karyawan baru diwajibkan mengikuti program magang untuk mempelajari tugas-tugas dari pekerjaannya dan kemampuan dasar lainnya. COO Greyston Bakery Lucas Tanner mengaku bahwa kebijakan perekrutan seperti ini bersifat sangat revolusioner.

"Kami sangat yakin bahwa open hiring seperti ini, bahkan dengan gagasan sesederhana ini, akan mampu mengubah dunia," tandasnya.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Kejar Target, Miliarder Ini Gelar Rapat Jam Satu Pagi di Hari Minggu

Bukan rahasia lagi, miliarder Elon Musk telah lama dikenal dengan komitmennya yang sangat kuat. Baru-baru ini Musk menggelar rapat untuk seluruh karyawan di pabrik pembuatan pesawat SpaceX di Boca Chica Beach, Texas. Uniknya, rapat tersebut dilakukan pukul satu pagi di hari Minggu.

Menurut data yang dipublikasikan Ars Technica dan dikutip dari CNBC, Rabu (11/3/2020), Bos Tesla dan SpaceX itu memang dikenal dengan target-targetnya yang terbilang ekstrim.

Pada dini hari tersebut, dia ingin tahu dari timnya alasan pabrik tidak berjalan 24 jam seminggu untuk membangun sistem roket Starship. Pesawat yang akan mengangkut kru dan kargo ke Mars.

Tim pembuatan pesawat Musk menjelaskan, mereka membutuhkan lebih banyak orang untuk bekerja. Setelah menerima laporan tersebut, SpaceX langsung merekrut 252 pekerja baru. Jumlah tersebut melipatgandakan tenaga kerja di pabriknya.

Gambaran tersebut cukup memberikan informasi tentang seperti apa rasanya bekerja dengan Musk. Presiden SpaceX Gwynne Shotwell bergabung dengan perusahaan roket tersebut pada 2002 sebagai pegawa No. 7.

15 tahun kemudian, dia mengatakan, dirinya masih sangat senang bekerja dengan Musk. Meski ia pun mengakui betapa sangat intens bekerja di sana.

"Tak perlu ditanyakan lagi bagaimana Elon sangat agresif dengan agendanya, tapi jujur saja, itu membuat kami melakukan berbagai hal dengan lebih baik dan lebih cepat. Saya rasa seluruh waktu dan uang bukanlah solusi terbaik tapi memberikan tekanan yang tepat pada tim untuk begerak cepatlah yang sangat penting," terang Shotwell.

Shotwell juga mengatakan, dirinya belajar untuk mendengar dan berpikir sebelum menolak gagasan Musk yang kuat. Menurutnya, saat Elon baru mengatakan sesuatu, pegawai harus berhenti sejenak dan tidak serta merta mengkritik gagasannya.

"Jangan katakan, itu mustahil, tak mungkin, tak ada cara melakukannya, saya tak tahu caranya. Kunci dulu pendapat Anda dan pikirkan tentangnya dan cari cara menyelesaikannya," saran Shotwell.

CEO Neuralink Max Hodak, di mana Musk memimpin pembangunan mesni yang menghubungkan manusia dengan komputer memiliki pengalaman serupa. Dia mengatakan, Musk memiliki optimisme yang tinggi dan selalu memandang berbagai hal mudah dilakukan.

Dalam salah satu cuitannya di Twitter, Musk mengakui seberapa keras dirinya bekerja.

"Selalu ada tempat yang lebih mudah untuk bekerja. Tapi tak ada yang bisa mengubah dunia dengan jam kerja 40 jam per minggu. Tapi jika Anda senang melakukannya, semua itu tak terasa seperti bekerja," tandas dia.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.