Sukses

Terkuak, Gaji Resepsionis di Gedung Putih Sebesar Rp 690 Juta

Liputan6.com, Washington D.C. - Gaji sebagai resepsionis di Gedung Putih ternyata melewati setengah miliar rupiah. Setiap tahun gaji resepsionis di Gedung Putih mencapai USD 48.800 atau Rp 690 juta (USD 1 = Rp 14.140).

Hal itu terkuak lewat laporan gaji yang dirilis Gedung Putih pada 1 Juli 2019. Penghasilan para pegawai Gedung Putih, mulai dari resepsionis hingga penasihat dan asisten presiden, bisa diperiksa oleh publik.

Resepsionis yang dimaksud dalam laporan ini adalah resepsionis bangunan Sayap Barat (West Wing) di kompleks Gedung Putih. West Wing merupakan tempat di mana pejabat eksekutif bekerja.

Di Sayap Barat terdapat Ruang Oval tempat presiden berkantor, Ruang Situasi yang merupakan ruangan konferensi dan intel, Ruang Kabinet, Ruang Roosevelt, dan ada Kebun Mawar yang merupakan inisiatif Ellen Louise Axson Wilson, istri Presiden Woodrow Wilson.

Selain resepsinonis, laporan Gedung Putih juga mencakup gaji ahli kaligrafi presiden. Gajinya pun cukup fantastis, yakni USD 94 ribu (Rp 1,3 miliar).

Dalam laporan Gedung Putih, gaji tertinggi jatuh ke para asisten presiden, yakni USD 183 ribu (Rp 2,5 miliar). Sementara, gaji terendah adalah untuk Ivanka Trump dan Jared Kushner, yakni nol dolar.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

2 dari 3 halaman

Jokowi dan Ivanka Trump Asyik Berbincang di KTT G20, Bahas Apa?

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada Sabtu, 29 Juni 2019 di INTEX Osaka, Jepang. Jokowi pun mengikuti serangkaian kegiatan yang digelar.

Usai mengadakan pertemuan bilateral dengan PM India Narendra Modi, Jokowi menghadiri leaders’ side-event tentang pemberdayaan perempuan.

Sebelum mengikuti kegiatan tersebut, ia terlebih dahulu bertemu dengan para pembicara, yaitu Ratu Kerajaan Belanda Máxima dan putri dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Ivanka Trump.

Ada yang menarik saat kegiatan berlangsung. Tak lama setelah duduk bertemu, Jokowi berbincang dengan putri dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Ivanka Trump. 

Momen keakraban keduanya terlihat jelas diabadikan dalam beberapa foto. Pada foto itu, Jokowi dan Ivanka Trump asyik berbincang.

Meski begitu, belum diketahui pasti apa yang dibicarakan Jokowi dengan Ivanka Trump.

"Wah saya kurang tahu (yang dibicarakan Jokowi dengan Ivanka Trump). Yang jelas mereka bersua di sesi Women Empowerment," ujar Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Adita Irawati ketika dikonfirmasi Liputan6.com, Senin, 1 Juli 2019. 

Dalam foto, terlihat Ivanka dan Jokowi seperti tampak saling berbicara. Jokowi pun mendengarkan Ivanka dengan seksama. Pada foto lain, Jokowi ekspresif ketika berbicara dengan Ivanka. Senyum pun terlihat merekah dari mulut Jokowi saat berbincang dengan Ivanka Trump.

 

3 dari 3 halaman

Negosiasi AS-China Cegah Dampak Terburuk Perang Dagang

Pengusaha menyambut baik kesepakatan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping untuk memulai kembali perundingan tentang perang dagang. Hal ini dinilai akan memberikan angin segar bagi negara lain termasuk Indonesia.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, dengan keinginan kedua negara untuk kembali melakukan perundingan, diharapkan mampu menahan dampak perang dagang menjadi lebih luas.

"Ini berita baik bahwa komitmen untuk melanjutkan negosiasi penyelesaian perang dagang datang langsung dari kedua kepala negara AS dan China Komitmen politik tersebut penting untuk memastikan trade war tidak semakin meruncing atau meluas dalam waktu dekat," ujar dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta.

Menurut Shinta, meskipun perang dagang membuka peluang perolehan akses pasar atau potensi peningkatan investasi bagi Indonesia, namun secara keseluruhan berpotensi merugikan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Namun, perlu diperhatikan bahwa Presiden Trump dan Presiden Xi hanya memberikan komitmen politik untuk melanjutkan negosiasi penyelesaian trade war bukan trade war itu sendiri. Komitmen untuk terus negosiasi dan komitmen untuk menyelesaikan perang dagangadalah dua hal yang berbeda. Jadi penyelesaian perang dagang itu sendiri tetap akan tergantung pada mandat negosiasi dan negotiator kedua negara," kata dia.

Untuk itu, lanjut Shinta, Indonesia perlu mengelola ekspektasi penyelesaian perang dagang dengan bijak.

"Tidak bisa terlalu hopeful tapi juga tidak bisa terlalu pesimis, terlebih karena hal yang sama pernah terjadi sebelumnya di tahun 2018 yang melahirkan negosiasi penyelesaian perang dagang itu sendiri namun berakhir dengan stagnasi negosiasi AS-China pada Maret-April lalu," tandas dia.