Sukses

PLN Cari Utang USD 2 Miliar di Kuartal IV 2019

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (Persero) berencana mencari utang hingga USD 2 miliar pada tahun ini. Dana hasil utang tersebut akan digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur kelistrikan.

Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan, dalam satu tahun PLN membutuhkan Rp 80 triliun sampai Rp 90 triliun untuk membiayai proyek infrastruktur kelistrikan.

Kemampuan keuangan perusahaan untuk membiayai proyek hanya 40 persen. Oleh karena itu untuk menutupi sisanya akan menggunakan utang.

"Dulu saya katakan investasi kita setiap tahun antara Rp 80 triliun hingga Rp 90 triliun. Sekarang baru 40 persen. Sisanya nanti cukup banyak utang juga,"kata Sarwono, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Sarwono mengungkapkan, PLN akan mencari pinjaman pada Kuartal III atau IV 2019, seiring jatuh tempo tagihan biaya proyek infrastruktur kelistrikan. Pada tahun ini, rencananya perusahaan akan menghimpun dana dari utang sebesar USD 1 miliar sampai USD 2 miliar.

"Tahun ini kita akan nambah lagi mungkin, karena mulai bayar banyak, bayar-bayar investasi,"‎ tutur dia.

Sumber utang PLN didapat dari berbagai instrumen, diantaranya penerbitan global bond dan pinjaman ke bank lokal atau internasional. Namun dia belum bisa menyebutkan lebih rinci, karena masih melihat kondisi pasar.

"Jadi plihannya selalu saya katakan tergantung dari situasi pasar. Kalau pasarnya bagus di pinjaman ya pinjaman," tandasnya.

2 dari 3 halaman

PLN Tambah Utang Rp 160,7 Triliun Selama 3 Tahun

PT PLN (Persero) menambah utang sebesar Rp 160,7 triliun sejak Desember 2015-Maret 2019. Uang tersebut digunakan untuk mendanai proyek infrastruktur kelistrikan.

Pelaksana tugas Direktur Utama PT PLN, Djoko Abumanan mengatakan, investasi dari Desember 2015 -Maret 2019 sebesar Rp 334,7 triliun. Porsi pendanaan yang berasal dari kas internal‎ PLN mencapai Rp 174 triliun, sedangkan sisanya diperoleh dari utang.

"Demikian own share (pendanaan sendiri)  investasi sebesar‎ 52 persen," kata Djoko,  saat rapat dengan Komisi VI, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/6/2019). 

‎Djoko menambahkan, dalam kurun waktu akhir Desember 2015-Maret 2019, secara aku‎mulatif penambahan pinjaman PLN secara sebesar Rp 160,7 triliun.

Utang tersebut terdiri dari 2015 sebesar Rp 18,7 triliun, 2016 sebesar Rp 22,4 triliun, 2017 sebesar Rp 42,5 triliun, 2018 sebesar Rp 70,3 triliun dan Maret 2019 sebesar Rp 6,9 triliun.

Menurut Djoko, penambahan utang selama tiga  tahun, tiga bulan tersebut jauh lebih rendah, dibandingkan tambahan penyerapan investasi sebesar Rp 334,7 triliun. 

"Hal ini menunjukan keuangan PLN yang sehat karena dapat menggunakan dana internal," tuturnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Tunggakan Pelanggan PLN di Jayapura hingga Sentani Capai Rp4,8 Miliar
Artikel Selanjutnya
Yuk, Bijak dalam Menggunakan Listrik!