Sukses

Hilirisasi Kunci Dongkrak Pendapatan Industri Tambang Nasional

Liputan6.com, Jakarta
Extractive Industries Transparancy Initiative (EITI) Indonesia mencatat kontribusi industri ekstraktif terhadap perekonomian nasional selama 2016 cenderung turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Industri ekstraktif adalah industri yang bahan bakunya diambil langsung dari alam sekitar atau lebih dikenal dengan perusahaan tambang.
 
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kemenko Perekonomian, Montty Girianna mengatakan hilirisasi adalah kunci untuk mendongkrak kembali pendapatan negara dari sektor industri ekstraktif. Sehingga Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah.
 
"Hilirisasi jadi penting. Bagaimana caranya nilai ekonomi meningkat. Jadi kita bukan ekspor komoditas mentah tapi produk jadi," ujar Montty di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (14/3/2019).
 
Montty mengakui, tantangan hilirisasi ini cukup banyak. Salah satunya membutuhkan investasi yang cukup besar dengan imbal hasil (yield) yang tidak bisa langsung diperoleh dalam waktu singkat.
 
"(Tantangan hilirisasi?) banyak. hilirisasi itu harus investasi, yield (imbal hasil) tidak serta merta sekarang. Tapi kalau ekspor sekarang, yield langsung dengan nilai kecil. Mau kecil sekarang atau gede later on (kemudian)," jelasnya.
 
Hal lain, kata Montty, adalah mengubah pola pikir perusahaan agar mau mengolah bahan baku menjadi barang bernilai tambah. Pemerintah sudah menyiapkan berbagai insentif mendorong pengusaha mau melakukan hilirisasi.
 
"Sekarang tinggal pola pikir perusahaan mau seperti apa. Oleh karena itu kita berikan tax pajak. Pajak produk jadi lebih kecil sehingga mendapatkan insentif supaya hilirisasi," tandasnya.
 
 
Reporter: Anggun P. Situmorang
 
Sumber: Merdeka.com
2 dari 2 halaman

Kontribusi Sektor Tambang ke PDB Turun, Ini Penyebabnya

Extractive Industries Transparancy Initiative (EITI) Indonesia mencatat kontribusi industri ekstraktif terhadap perekonomian nasional selama 2016 cenderung mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Industri ekstraktif adalah industri yang bahan bakunya diambil langsung dari alam sekitar atau lebih dikenal dengan perusahaan tambang.

Kontribusi industri ekstraktif terhadap total PDB pada 2016 adalah sebesar 7 persen, turun dibandingkan posisi 2015 yaitu sebesar 8 persen dari total PDB nasional. Secara nominal, pada 2016 jumlah pendapatan dari industri ekstraktif menurun sebesar 31 persen menjadi Rp 159,4 triliun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 232,4 triliun.

Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Energi, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kemenko Perekonomian, Montty Girianna membeberkan penyebab industri ekstraktif terus turun dalam beberapa tahun belakangan. Salah satunya karena harga ekspor komoditas turun.

"Salah satunya karena ekspor komoditas, harga turun, tidak hanya di kita," ujar Montty saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Penyebab lain, kata Montty, adalah produksi Indonesia juga yang mengalami penurunan karena berbagai hal. Selain itu, PDB dari pertambangan masih mendapatkan tekanan harga minyak yang masih belum pulih khususnya pada 2016.

Pada 2016, kontribusi nilai ekspor pertambangan dari total ekspor nasional sekitar 21 persen. Nilai ekspor tersebut didominasi oleh nilai ekspor dari migas dan batubara.

Ekspor migas berkontribusi sekitar 8,4 persen dari total nilai ekspor nasional sedangkan nilai ekspor batubara mencapai 10 persen dari total nilai ekspor nasional. Penyumbang ekspor minyak bumi terbesar di 2016 adalah Riau dengan nilai ekspor sebesar USD 2.254 juta dan penyumbang ekspor gas bumi terbesar adalah Kalimantan Timur dengan nilai ekspor sebesar USD 2.782 juta.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Pengemudi Ojek Online Tuntut Perbaikan Tarif
Loading
Artikel Selanjutnya
Perusahaan Tambang hingga Migas Wajib Transparan pada 2020
Artikel Selanjutnya
Pemerintah Minta Perusahaan Tambang Lebih Transparan