Sukses

Analis: Rupiah Berpotensi untuk Menguat

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Selasa pekan ini. Namun analis memperkirakan rupiah masih bisa menguat. 

Mengutip Bloomberg, Selasa (19/2/2019), rupiah dibuka diangka 14.113 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.107 per dolar AS. Menjelang siang, rupiah terus melemah ke level 14.119 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.112 per dolar AS hingga 14.121 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah masih terhitung menguat 1,88 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.119 per dolar AS. Patokan pada hari ini melemah jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya yang ada di angka 14.106 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan, dolar AS melemah terhadap hampir semua mata uang kuat utama dunia terutama euro dan dolar Australia.

Hal tersebut didorong oleh pernyataan keyakinan investor bahwa perjanjian perdagangan akan tercapai antara AS-China. "Rupiah kemungkinan terkena imbas positif dari kenaikan dolar Australia dan yen terhadap dolar AS tersebut," ujar Ahmad dikutip dari Antara.

Perbincangan kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China memang masih akan berlanjut dengan pertemuan di Washington pada pekan ini.

Optimisme kembali bangkit dengan pernyataan kedua belah pihak yang mengutarakan hal serupa mengenai konsensus dan produktifitas.

Ahmad memperkirakan, pada hari ini rupiah kemungkinan menguat ke level 14.080 per dolar AS hingga 14.115 per dolar AS.

2 dari 3 halaman

Faisal Basri: Rupiah Masih akan Bergejolak di Tahun Politik

Ekonom Faisal Basri mengatakan bahwa kestabilan nilai tukar rupiah masih akan menghadapi tantangan di tahun politik. Bahkan rupiah dinilai masih mengalami pelemahan di 2019 ini.

Faisal mengatakan, meski di awal tahun waktu rupiah sempat menguat ke level 13.000 per dolar AS, tetapi saat ini rupiah kembali ke 14.000 per dolar AS.

"Rupiah tidak menguat secara signifikan, masih akan naik turun. Secara psikologis dan historis rupiah masih akan melemah," ujar dia dalam Market Outlook 2019 Mandiri Manajemen Investasi di Jakarta, Rabu (13/2/2019). 

Tekanan terhadap rupiah masih bersumber dari defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). Oleh sebab itu, penting bagi pemerintah untuk menurunkan CAD agar rupiah bisa menguat dan stabil di 2019.

"Karena masih CAD, kalau current account ini defisit ya rupiah melemah. Karena CAD ini terdiri dari ekspor impor barang dan jasa. Nah kalau utang tidak setiap bulan. Jadi (penguatan) rupiah yang mengandalkan utang tidak akan sustainable. Tapi kalau mengandalkan CAD bisa sustain," kata dia.

Selain itu, meski ekspor dan impor merupakan kegiatan yang wajar dilakukan oleh sebuah negara, namun Indonesia harus bisa menekan impor khususnya untuk barang-barang yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri dan menggenjot ekspor nonmigas.

"Ekspor-impor sebetulnya suatu hal yang lumrah dilakukan oleh suatu negara. Kalau kita tidak bisa bikin suatu produk, ya terpaksa impor. Tapi kita juga harus jual produk kita ke pasar negara lain. Ini supaya seimbang," tandas dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Dua Sejoli Pacaran di Atas Motor yang Melaju
Loading
Artikel Selanjutnya
Pernyataan The Fed Dorong Penguatan Rupiah
Artikel Selanjutnya
Defisit Neraca Perdagangan Tekan Rupiah