Sukses

Salim Group Gandeng ESL untuk Kembangkan E-sports Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Salim Group menggandeng perusahaan asal Jerman untuk berekspansi ke ranah esports. Keputusan ini dipicu kue pasar esports di seluruh dunia yang sedang meroket.

Memasuki dunia esports, Salim Group memilih ESL yang merupakan penyelenggara esports yang akhir tahun lalu bermitra dengan Intel di dunia esports.

Menurut Nikkei Asian Review, kedatangan Salim ke industri esports ketika nilai pasar esports global diprediksi melonjak dari USD 655 juta (Rp 9,1 triliun, USD 1 = Rp 13.961) menjadi USD 1,6 miliar (Rp 22,3 triliun) pada 2021 menurut penelitian Newzoo.

Adrian Lim, Direktur Perusahaan Inovasi Salim Group dan Nick Vanzetti, wakil presiden senior ESL di Asia Pasifik Jepang, mengaku telah menandatangani kemitraan strategis di bulan September lalu dalam rangka menjadi tuan rumah kejuaraan esports di Indonesia.

"Indonesia adalah pasar yang begitu besar. Kami selalu berkomunikasi untuk mencari mitra luar biasa agar bisa ekspansi ke berbagai negara," ujar Vanzetti. Joint venture dengan Salim Group disebut Vanzetti sebagai langkah awal memulai sesuatu yang besar Indonesia.

Wilayah SEA (Southeast Asia atau Asia Tenggara) memiliki penggemar esports yang berkembang dengan laju pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 36 persen antara 2015 dan 2019, menjadi total 19,8 juta peminat di akhir tahun ini.

Sementara, Lim memandang banyaknya anak muda yang memiliki minat pada produk Indofood. Ia pun menyadari adanya hubungan antara pecinta esports dan konsumen Indofood.

"Chairman kami (Anthoni Salim) selalu mencari cara agar menarik komunitas-komunitas baru," ungkap Adrian. Ia juga berkata fokus pada komunitas tertentu dapat menghasilkan bisnis di masa depan.

Kejuaraan ESL telah dimulai pada Januari lalu lewat gim Dota 2 dan Arena of Valor (AoV) dan Indofood menjadi sponsornya. Final liga akan dilangsungkan di Jakarta pada Maret mendatang.

2 dari 2 halaman

Menpora Dorong Pengembangan Esports hingga ke Sekolah

Ajang Piala Presiden Esports 2019 yang resmi diumumkan sekaligus menjadi momentum bentuk dukungan pemerintah untuk pelaku esports di Tanah Air. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi.

"Ini momen bersejarah bagi gamer dimana hobi kesenangan individu atau atlet akan betul-betul dikawal sedemikian rupa dan difasilitasi pemerintah," tuturnya saat ditemui usai konferensi pers Piala Presiden Esports 2019 di Jakarta, Senin, 28 Januari 2019.

"Momentum ini sekaligus jadi ajang pembuktian diri bagi atlet esports, dan sebagai bukti mereka pantas mewakili Indonesia di berbagai event."

Oleh sebab itu, Imam menuturkan pengembangan esports harus dimulai di tingkat pelajar di sekolah menengah atau universitas. Menurutnya, esports dapat saja dimasukkan dalam kurikulum formal, yang di dalamnya termasuk bentuk pelatihan.

"(Sistem) ini yang akan melahirkan atlet-atlet masa depan. Ini bukan semata-mata gim, ini olahraga karena butuh pendamping nutrisi dari psikologi sampai fisik. Karena saat bermain tidak hanya satu jam tapi berjam-jam," tuturnya.

Lebih lanjut Imam menuturkan pihaknya juga mendorong pengembangan esports di sekolah menengah dengan menyiapkan anggaran khusus. Dana yang disiapkan mencapai Rp 50 miliar dan digunakan untuk membuka kesempatan adopsi esports di sekolah-sekolah.

"Sekolah nanti harus memberikan kelonggaran bagi pelajar yang memang menaruh perhatian di esports," tuturnya menjelaskan. Rencananya, penggunaan dana ini akan dimulai usai Piala Presiden Esports 2019 selesai digelar.

Loading