Sukses

Wall Street Tertekan Imbas Krisis Turki

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau disebut wall street melemah didorong krisis ekonomi di Turki sehingga menyeret saham bank. Hal tersebut memicu investor keluar dari aset berisiko.

Pada penutupan perdagangan saham Jumat (Sabtu pagi WIB), indeks saham Dow Jones melemah 196,09 poin atau 0,77 persen ke posisi 25.313,14. Indeks saham S&P 500 susut 20,3 poin atau 0,71 persen ke posisi 2.833,28. Indeks saham Nasdaq tergelincir 52,67 poin atau 0,67 persen ke posisi 7.839,11.

Selama sepekan, indeks saham Dow Jones turun 0,6 persen, indeks saham S&P 500 tergelincir 0,3 persen. Indeks saham Nasdaq naik 0,3 persen didorong kenaikan saham teknologi.

Indeks saham Dow Jones dan S&P 500 membukukan penurunan pada pekan ini usai menguat dalam lima minggu. Akan tetapi, indeks saham S&P 500 tetap hanya 1,4 persen di bawah rekor tertinggi itu sejak 26 Januari. Saham teknologi yang tertekan bebani wall street menjelang akhir pekan ini.

Indeks saham teknologi masuk S&P 500 pun tergelincir 0,8 persen dengan saham Intel susut 2,6 persen usaia Goldman Sachs menurunkan peringkat saham menjadi sell atau jual.

Saham Microchip Technology turun 10,9 persen usai perkiraan pendapatan kuartal II mengecewakan. Mata uang Turki, Lira tertekan usai Presiden AS Donald Trump  menggandakan tarif untuk baja dan aluminium yang diimpor dari negara tersebut.

Investor melarikan diri ke aset safe haven sehingga mendorong dolar AS lebih tinggi dan bebani obligasi AS. “Ini risiko klasik. Ada khawatir kerusakan tambahan. Khawatir tentang efeknya di Eropa, dan kehilangan karena imbal hasil surat berharga AS bertenor 10 tahun turun,” ujar Chief Market Strategist Prudential Financial, Quincy Krosby,  seperti dikutip dari laman Reuters, Sabtu (11/8/2018).

Di wall street, volume perdagangan saham pun tercatat mencapai 6,7 miliar saham. Angka ini di atas rata-rata harian sekitar 6,4 miliar saham dalam rata-rata 20 hari perdagangan saham.

 

2 dari 2 halaman

Saham Bank Tertekan

Sejumlah saham bank pun tertekan. Saham Citigroup melemah 2,4 persen. Saham JP Morgan, Wells Fargo, dan Bank of America pun tergelincir.

“Setiap kali ada pergerakan mata uang, sektor keuangan cenderung berisiko menular,” ujar Managing Partner Harris Financial Group, Jamie Cox.

Saham yang sensitif terhadap perdagangan juga menurun termasuk saham Boeing, 3M, dan Caterpillar tergelincir semuanya juga turun sekitar satu persen. Sedangkan saham Tesla naik 0,9 persen.

Jumlah saham Tesla yang terjual dalam jangka pendek dan sekarang lebih tinggi sebelum CEO Tesla Elon Musk mengusulkan untuk ubah status perusahan Tesla.

Adapun data ekonomi yang keluar pada pekan in menunjukkan inflasi di AS pada Juli naik dan trennya terus menguat.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Artikel Selanjutnya
Suka Gunakan Pakaian Dalam Wanita, Suami di Turki Digugat Cerai Istri
Artikel Selanjutnya
Lira Turki Kian Terpuruk, Erdogan Berserah Diri pada Allah