Sukses

Menaker: Jumlah TKA yang Bekerja di Morowali Masih Ideal

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri menegaskan isu serbuan tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di kawasan industri Morowali tidak benar. Hal tersebut berdasarkan hasil penyelidikan pemerintah, DPR dan investigasi media lokal di Indonesia Morowali Industrial Park (MIP).

Berdasarkan laporan, dari 28.568 tenaga kerja yang ada di kawasan industri tersebut, jumlah TKA-nya sebanyak 3.121 orang atau 10,9 persen. Sedangkan jumlah tenaga kerja lokal mencapai 25.447 orang.

Menurut dia, angka 10,9 persen masih ideal. Karena lapangan kerja untuk tenaga kerja Indonesia (TKI) jauh lebih tinggi.

"Ya masih lah (ideal). Itu artinya kawasan Industri di Morowali membuka perluasan kesempatan kerja untuk TKI sekaligus juga memberikan kesempatan untuk transfer pengetahuan dan teknologi sehingga TKI bisa memiliki kompetensi lebih baik," ujar dia di Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Hanif mengungkapkan, sebelumnya sudah banyak pihak melakukan kunjungan ke Morowali, seperti Komisi IX DPR. Begitu juga pengawas Ketenagakerjaan, tim Satgas Pengawasan TKA yang terdiri dari 24 kementerian instansi juga telah berkunjung ke Morowali.

Dan terakhir, sejumlah wartawan dari media nasional juga secara langsung melakukan investigasi ke kawasan industri itu.‎ "Kesimpulannya kurang lebih sama. Jadi jangan digoreng-goreng lagi isu ada jutaan TKA Tiongkok ilegal," tandas dia.

2 dari 2 halaman

3.121 Tenaga Kerja Asing Bekerja di Kawasan Industri Morowali

Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) membantah jika telah terjadi serbuan tenaga kerja asing (TKA) asal China yang di kawasan industri tersebut.

Saat ini, tercatat ada 3.121 TKA atau sekitar 10,9 persen dari total pekerja yang bekerja di kawasan ini. Dalam video conference dengan Kantor Staf Presiden (KSP), CEO IMIP Alexander Barus menyatakan, jika tenaga kerja lokal yang bekerja di IMIP masih mendominasi dengan 25.447 orang, sedangkan jumlah TKA-nya hanya 3.121 orang.

"Jumlah tenaga kerja asingnya hanya 10,9 persen. Dan dalam 3-4 tahun mendatang kita targetkan jadi 5 persen. ‎Makanya kita bangun politeknik di sini untuk transfer knowledge. Kita masih butuh 3.000 tenaga kerja lagi," ujar dia di Jakarta, Selasa (7/8/2018). 

Dia menuturkan, sebenarnya para TKA tersebut juga tidak kerasan tinggal di Morowali. Sebab, saat ini di lokasi tersebut relatif tidak ada hiburan dan jauh dari kota besar.

"Karena di sini mereka juga tidak betah. Kalau keluar kami batasi karena masalah security dan bahasa. Di sini juga tidak ada hiburan, karaoke dan mal tidak ada," kata dia.

Sementara terkait dengan gaji dan fasilitas, Alexander menyatakan tidak ada perbedaan antara tenaga kerja lokal dan TKA.

Sebagai contoh, untuk makan, keduanya mendapatkan jatah makan seharga Rp 18 ribu per porsi, hanya jenis menunya saja yang berbeda.

"Prinsip bahwa pekerja di sini treatment-nya sama. Makanan standarnya Rp 18 ribu per porsi. Untuk gaji, semua kita pakai satu table gaji. Cuma TKA ini kan Sabtu-Minggu lembur, kalau pekerja kita tidak. Karena mereka (TKA) keluarga tidak ada, hiburan tidak ada. Makanya (pendapatan) lebih besar. Tapi bedanya tidak sampai 50 persen, cuma 30 persen maksimal," ujar dia.