Sukses

Menteri Rini Minta Buwas Terapkan Sistem Digital di Gudang Bulog

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno meminta Perum Bulog dapat memanfaatkan digitalisasi untuk mempermudah pengawasan di gudang-gudang penyimpanan beras miliknya.

"Sekarang mikirnya bagaimana semuanya harus digital-based, ini yang beratnya. Menyiapkan sistemnya sudah, tapi mengubah perilaku bahwa semua harus melalui digital ini yang susahnya bukan main," tutur Rini di Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Rabu (23/5/2018).

Rini lebih jauh meminta Bulog menginvestarisir gudang-gudang bulog tersebut.

"Ini terus kita lakukan. Di Bulog saja, kita punya 1.500 gudang. Saya minta inventarisasi sistemnya bisa digitalize. Sampai sekarang kan masih harus teriak-teriak," ujarnya.

Rini melanjutkan, dengan kepemimpinan Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) diharapkan dapat membawa perubahan kepada industri pangan di Indonesia.

"Sekarang dirutnya kan baru, Bapak Buwas semoga ini bisa jadi jalan. Karena dengan caranya beliau yang pernah menumpas narkoba semoga ke depan bisa jalankan digitalisasi di 1.500 gudang ini," tandas dia. 

2 dari 2 halaman

Bulog Siap Sebar 10 Ribu Ton Beras buat Operasi Pasar

Perum Bulog menyatakan akan mendistribusikan beras ke masyarakat lewat operasi pasar maksimal 10 ribu ton per hari. Ini terjadi setelah BUMN ini menyerap beras dari petani lokal hingga 15 ribu ton per hari, meskipun sudah melewati masa panen raya padi.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Karyawan Gunarso mengungkapkan, saat ini Bulog menargetkan serapan beras petani di angka 15 ribu per hari. Menurutnya, jumlah itu sudah bisa mencukupi kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok Nusantara.

"Kita penyerapan sehari rata-rata 15 ribu ton. Katakanlah akhir Mei tanggal 10, jadi 20 x 15 ribu ton, jadi 300 ribu ton. Itu kurang lebih kan cukup. Nanti masa panen kedua kita bisa maksimalkan lagi," kata dia di Jakarta.

Gunarso mengatakan, Perum Bulog menargetkan serapan beras hingga akhir 2018 bisa mencapai 2,7 juta ton. Sementara untuk mengamankan kebutuhan Ramadan hingga Juni 2018, berdasarkan keputusan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kementerian Pertanian pada Februari 2018, mereka harus menyerap 2,2 juta ton beras.

Lebih lanjut katanya, Rakernas menetapkan bahwa Perum Bulog harus menggelontorkan kebutuhan beras lewat Operasi Pasar (OP) sekitar 15 ribu ton per hari. Meskipun demikian, Gunarso meneruskan, Bulog maksimal hanya akan menyalurkan maksimal 10 ribu ton beras per hari sesuai kebutuhan konsumen dan pasar.

"Target yang ditetapkan Rakernas 15 ribu ton per hari. Tapi kami merata-ratakan per hari 5-10 ribuan, menimbang pengalaman kami. Target (penyerapan beras) total memang 15 ribu ton, tapi praktiknya saya sampaikan tergantung serapan di konsumen dan di pasar," jelasnya.

Berdasarkan pengalaman pada tahun lalu, Gunarso melanjutkan, serapan pasar dan konsumen dari pasokan beras milik Bulog melalui program operasi pasar pada kisaran 5-10 ribu ton per hari, bahkan pernah mencapai titik terendah, yaitu di bawah 2 ribu ton per hari.

Oleh karena itu, dia menjelaskan, Perum Bulog tidak akan mematok batasan penyaluran beras lewat operasi pasar, melainkan mengikuti permintaan pasar. Itu juga dilakukan seiring tujuan BUMN untuk stabilisasi harga beras di pasaran dalam negeri.

Gunarso menjelaskan posisi Perum Bulog, yakni sebagai pihak pelengkap ketersediaan beras di pasar nasional yakni sebesar 5-10 persen, atau 5-10 ribu ton per hari.

"Karena posisinya kan enggak cuma beras Bulog yang ada di pasar, tapi ada beras produksi petani, maupun beras dari sumber lain. Maka Bulog melengkapi saja kebutuhan di pasar," tandasnya.

Artikel Selanjutnya
Ikut Program Magang Ini Kamu Berpeluang Jadi Pegawai BUMN, Tertarik?
Artikel Selanjutnya
Efektifkan Bisnis, 13 BUMN Sepakat Bersinergi