Sukses

Keputusan Bank Sentral Jepang Tekan Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan Selasa pekan ini. Kebijakan Bank Sentral Jepang tekan dolar AS. 

Mengutip Bloomberg, Selasa (23/1/2018), rupiah dibuka di angka 13.339 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.350 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.304 per dolar AS hingga 13.339 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah mampu menguat 1,74 persen.

Sedangkan berdasarkan kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.318 per dolar AS. Patokan pada hari ini menguat jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.318 per dolar AS.

Dolar AS sedikit tertekan di kawasan Asia usai Bank Sentral Jepang memutuskan untuk tidak mengubah kebijakan moneter.

Namun tekanan terhadap dolar AS tidak terlalu besar karena para Senator AS telah mencapai kesepakatan anggaran sehingga penutupan operasional pemerintahan AS tidak berlanjut.

Dolar AS turun 0,2 persen terhadap yen Jepang menjadi 110,74 yen. Pelemahan ini mendekati level terendah dalam empat bulan.

"Saya tidak melihat sinyal apa pun dalam pengumuman yang dilakukan oleh Bank Sentral Jepang pada hari ini," jelas analis mata uang Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Minori Uchida. Artinya, kebijakan moneter Bank Sentral Jepang masih akan sama dengan bulan sebelumnya.

"Pengumuman ini membantah asumsi dari pelaku pasar sebelumnya bahwa Gubernur Bank Sentral Jepang akan mengubah kebijakan pada awal tahun ini," jelas Stephen Innes, analis Oanda di Singapura.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 3 halaman

Gerak Rupiah Sepanjang 2017

Bank Indonesia (BI) menyebutkan nilai tukar rupiah secara rata-rata harian relatif stabil dengan mencatat depresiasi tipis sebesar 0,60 persen ke posisi Rp 13.385 per dolar AS di 2017.

Pergerakan rupiah yang stabil tersebut didukung aliran modal asing ke Indonesia yang cukup signifikan sejalan dengan perkembangan eksternal dan domestik yang positif.

Di sisi eksternal, kondisi pasar keuangan global yang relatif kondusif telah mendorong aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Sementara di sisi domestik, sentimen positif kenaikan credit rating Indonesia, inflasi yang terjaga, dan tingkat imbal hasil penanaman aset keuangan domestik yang kompetitif merupakan faktor yang memengaruhi aliran modal asing ke Indonesia," kata Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Dody Budi Waluyo, di Bank Indonesia pekan lalu. 

3 dari 3 halaman

Sempat Mengalami Tekanan

Namun demikian, rupiah sempat mengalami tekanan seiring dengan normalisasi kebijakan moneter, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, dan rencana reformasi pajak di AS.

Pada Desember 2017, rupiah secara rata-rata harian bergerak relatif stabil atau hanya melemah 0,24 persen (mtm), terutama dipengaruhi oleh faktor musiman di pasar keuangan domestik, yaitu meningkatnya permintaan valas oleh residen untuk keperluan pembayaran ULN dan impor serta adanya realisasi keuntungan oleh investor nonresiden.

"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai risiko ketidakpastian keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai fundamental dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar," ujar Dody.

JOKOWI: TAK ADA YANG TAKUTI KECUALI ALLAH DALAM MEMIMPIN

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Rupiah Tak Mampu Menguat meskipun Dolar AS Tertekan di Asia
Artikel Selanjutnya
Rupiah Tembus 13.309 per Dolar AS, IHSG Cetak Rekor Baru di 6.490