Sukses

BPH Migas Bakal Lelang 3 Ruas Pipa Gas Sepanjang 1.667 KM

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengatur Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) akan melelang pembangunan tiga ruas pipa gas bumi dengan total panjang 1.667 kilo meter (km) pada 2018.

Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa mengatakan, ‎dalam rencana induk jaringan, transmisi dan distribusi gas nasional, ditetapkan pembangunan pipa gas di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Pada 2018, BPH Migas akan melelang tiga ruas pipa.

‎"BPH Migas di tahun 2018 ini akan mencoba melelang akan ada 3 ruas pipa," kata Fanshurullah, di Kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta, Selasa (9/1/2018).

Tiga ruas pipa tersebut adalah Natua-Kalimantan Barat‎ sepanjang 487 km melalui laut dengan nilai investasi sekitar US$ 565 juta, Kalimantan Barat-Kalimantan Tengah sepanjang 1018 km dengan nilai investasi sekitar US$ 516,4 juta dan Kalimantan Tengah - Kalimantan Selatan sepanjang 162 km dengan nilai investasi sekitar US$ 97 juta

‎"Total semua US$ 1,25 miliar.‎ Ini cukup besar untuk hilir. Kita lebih prioritas pipanisasi gasnya," ujar Fanshurullah.

‎Jika sudah tersambung, ruas pipa tersebut akan terhubung dengan jaringan pipa gas bumi dari Natuna ke Kalimantan, kemudian ke Pulau Jawa melalui pipa Kalimantan-Jawa (Kalija). Nantinya Sumatera, Jawa dan Kalimantan akan terhubung dengan jaringan pipa gas.

"Ini nanti pipa ketemu pipa Kalija yang dari bontang masuk ke Kalimantan masuk ke Jawa Tengah, jadi nanti semua pipa terintegrasi masuk ke Nantuna, ke Batam, Batam masuk ke wilayah sumatera jadi dalam satu lingkaran 360 drajat," ujar dia.

Fanshurullah menuturkan, pembangunan pipa ini merupakan salah satu langkah antisipasi penyedian energi, jika rencana pemerintah ‎memindahkan ibu kota Indonesia ke Palangkaraya Kalimantan Tengah benar diwujudkan.

‎"Apalagi kalau nanti memang ada kebijakan Bappenas misalnya, kita sudah siapkan energinya kalau memang ada wacana ibu kota akan dikembangkan di Kalteng," tutur dia.

‎Dia pun menjamin, adanya konsumen yang dapat menyerap dari ruas pipa yang terhubung, karena keberadaan pipa gas akan menari investasi dengan terbangunya kawasan industri.

"Deman dari mana, demand dari PLTG Kalbar, kawasan industri feronikel. Kalau pipa ini dibangun bisa untuk kawasan industri dan termasuk juga jargas kawasan rumah tangga di sepanjang Kalimantan," tutur Fanshurullah.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Pertamina Beli Gas dari ConocoPhilips

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) membeli gas dari ConocoPhillips (Grissik) Ltd sebesar 65 triliun british thermal unit (TBTU). Pembelian tersebut ‎untuk mendukung operasional fasilitas pengolahan minyak (kilang) Dumai II.

Direktur Gas Pertamina Yenni Andayani menjelaskan, Pertamina mendorong berbagai upaya untuk mendukung pelaksanaan proyek kilang atau Refinery Unit (RU) II Dumai, dengan memaksimalkan penggunaan gas dalam operasional.

"Langkah ini sebagai bentuk keseriusan Pertamina dalam mendorong pemanfaatan gas sebagai bahan bakar operasional kilang yang lebih efisien," kata Yenni, di Jakarta, Sabtu 4 November 2017.

Menurut Yenni, ‎pemenuhan kebutuhan gas tersebut akan dipasok melalui pembelian gas. Pertamina telah melakukan Perjanjian Jual Beli Gas Bumi (PJBG) dengan ConocoPhillips (Grissik).

PJBG yang akan berlangsung selama 5 tahun dari tahun 2018-2023. Total volume kontrak sebesar 65 triliun british thermal unit (TBTU).

“Pembelian gas ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan gas di RU II Dumai pada fase konversi dan RDMP,” tutur Yenni.

Gas tersebut akan dipasok dari Wilayah Kerja Migas Corridor dan lapangan unitisasi yang terkait dengan Blok Corridor di mana titik penyerahan di Grissik Gas Plant Gate.

 

Artikel Selanjutnya
Blok Migas Terminasi Jadi Kompensasi Kerugian Pertamina Jualan Premium
Artikel Selanjutnya
Pertamina Angkat Pipa Patah di Teluk Balikpapan