Sukses

Pemerintah Terus Kebut Proyek Infrastruktur, Ini Buktinya

Liputan6.com, Jakarta - Ketertinggalan infrastruktur selama ini selalu menjadi kendala bagi terciptanya pembangunan ekonomi nasional yang merata. Terbengkalainya proyek infrastruktur, baik akibat pendanaan maupun proses pembebasan lahan dan birokrasi, seolah menjadi cerita klasik di Indonesia.

Belakangan, masalah infrastruktur mulai menemukan titik cerah seiring kebijakan pemerintah untuk menyelesaikan segala hambatan birokrasi dan menggulirkan pembangunan proyek-proyek strategis, termasuk proyek yang sejak lama direncanakan namun tidak kunjung terealisasi.

Kepala Staf Kepresidenan Indonesia Teten Masduki menjelaskan, selama ini masyarakat cenderung skeptis jika berbicara soal infrastruktur, karena dulu banyak proyek yang pembangunannya lambat bahkan terbengkalai. 'Padahal sebenarnya dalam tiga tahun terakhir pemerintah telah melakukan berbagai pembangunan infrasturktur yang sangat masif," jelas dia seperti dikutip Sabtu (30/9/2017).

Dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), pemerintah menargetkan mampu membangun 245 proyek infrastruktur dan dua program. Hingga Juni 2017, sebanyak lima proyek telah rampung dan 130 proyek dalam tahap konstruksi.

Sebanyak 245 proyek dan dua program PSN berdasarkan evaluasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional yang diubah dengan Perpres 58 Tahun 2017.

Terdiri dari pembangunan 74 proyek jalan, kereta 23 proyek, pelabuhan 10 proyek, bandara 8 proyek, kawasan ekonomi khusus 30 proyek, perumahan 3 proyek, pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) 3 proyek, air bersih dan sanitasi 10 proyek, bendungan 54 proyek, irigasi 7 proyek.

Adapula proyek teknologi 4 proyek, smelter 6 proyek, energi 12 proyek, pertanian atau kelautan 1 proyek. Sementara 2 program PSN, yakni 1 program kelistrikan 35 ribu Megawatt (MW) dan 1 program pengembangan industri pesawat terbang.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

Pameran foto

Untuk mengkomunikasikan apa saja infrasturktur yang telah dibangun maka diselenggarakanlah Pameran Foto “Menjelajah Infrastruktur Indonesia 2015-2017” yang digelar selama periode Oktober- Desember 2017 di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar.

"Pameran foto ini menjadi sarana komunikasi yang memberi gambaran lengkap mengenai kemajuan pembangunan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap pembangunan ekonomi. Sengaja dipilih pameran foto sebagai sarana komunikasi karena gambar berbicara lebih banyak dibandingkan kata-kata,” ujar teten.

Pameran foto ini diselenggarakan di 10 titik atau mal secara bergiliran selama 5 hari di tiap titiknya. Berawal di Senayan City (27 September-1 Oktober), kemudian Central Park (4-8 Oktober), Kota Kasablanka (11 – 15 Oktober) dan berakhir di Makassar (27 – 31 Desember).

Selain menghadirkan karya peserta lomba foto yang telah dikurasi sesuai dengan tema dan kategori, pameran juga menghadirkan foto-foto digital dari masyarakat di media sosial.

Foto-foto yang dipamerkan juga dikelompokkan dalam beberapa tema yang dilengkapi dengan narasi sehingga lebih atraktif dan informatif, Ada foto-foto mengenai pembangunan infrastruktur di pulau-pulau terluar dan perbatasan yang dikemas dalam tema “Gerbang Indonesia”.

Ada juga foto-foto bandara bertema Menghubungkan Indonesia, kemudian jalan tol (tema Penurunan Biaya Logistik), pembangunan jaringan kereta api termasuk di Kalimantan, pelabuhan-pelabuhan modern untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai hub logistik internasional, dan foto-foto pembangunan MRT dan LRT sebagai sistem transportasi massal perkotaan.

Tidak ketinggalan, foto-foto pembangunan infrastruktur di bidang pertanian dan pangan serta ketenagalistrikan. Lebih menarik lagi, pameran juga menampilkan foto-foto pembangunan trans Papua yang sudah lama diidam-idamkan.

“Lewat pameran ini, bisa dilihat bahwa pembangunan infrastruktur tidak harus menggunakan APBN, tapi bisa dibiayai oleh BUMN dan investor. Contohnya Jalan Tol bawen-Salatiga. Kendala lahan juga bisa diatasi dan pembangunannya tidak harus lama, dalam tempo 2 atau 3 tahun sudah bisa dilihat fisiknya," pungkasnya. 

    Loading