Atasi Ekonomi Melambat Butuh Peran Kuat Dua Menteri Ini

Kepala Staf Kepresidenan RI, Luhut B Pandjatian menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah kondisi global kompleks

Diterbitkan 08 Juli 2015, 22:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah menyatakan ekonomi melambat sudah terjadi sejak tiga tahun lalu ini dapat mengarah seperti krisis 2008. Lalu bagaimana peran Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian dan Menteri Keuangan (Menkeu) di periode 2008 serta 2015?.

Kepala Staf Kepresidenan RI, Luhut B Pandjaitan memastikan, kondisi ekonomi Indonesia masih jauh dari kata resesi maupun krisis. Hanya saja, Indonesia perlu waspada dengan keadaan ekonomi Yunani dan Tiongkok.

"Fundamental ekonomi kita cukup kuat meski perlambatan ekonomi sudah terjadi sejak tiga tahun lalu karena kondisi global tidak bagus dan di dalam negeri juga tidak siap anjloknya harga komoditas," tegas dia di acara Diskusi Perkembangan Perekonomian Terkini oleh Perhimpunan Hakka Indonesia Sejahtera di Sun City Hotel, Jakarta, Rabu (8/7/2015).

Luhut memandang, penanganan kesulitan ekonomi saat krisis 2008 dengan tahun ini sudah jauh lebih baik. Inilah cara pemerintah untuk menghentikan perlambatan ekonomi di Indonesia. Pemerintah pun berupaya menggenjot kembali pertumbuhan ekonomi dengan berbagai cara, mulai dari kebijakan fiskal maupun non fiskal.  

"Penanganan ekonomi waktu krisis 2008 dengan 2015 sangat cepat sekarang ini. Walaupun kondisi tahun ini lebih kompleks. Pada 2008, ekonomi Tiongkok bagus, dan Amerika Serikat sedikit goyang, sehingga penanganan krisis waktu itu  relatif cepat," kata Luhut.

Penanganan kesulitan ekonomi ini, kata dia, tidak terlepas dari peran dua menteri utama ekonomi, yakni Menko Perekonomian dan Menkeu. Krisis 2008 dapat dilalui dengan baik, karena kerja sama dari Menko-Menkeu saat itu Boediono dan Sri Mulyani.

"Keduanya tokoh ekonomi yang hebat. Tapi sekarang Menko dan Menkeu kita (Sofyan Djalil dan Bambang Brodjonegoro) not bad penanganannya, sehingga bisa jalan. Tapi memang banyak di luar kemampuan kita mengatasi keadaan Yunani, Tiongkok, Jepang dan lainnya," pungkas Luhut. (Fik/Ahm)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6