Liputan6.com, Sarawak: Pihak Imigrasi Malaysia belum menggelar Operasi Tegas di kawasan Sarawak, Malaysia, hingga Selasa (1/3) petang ini. Pasukan Rela belum menyisiri sejumlah pasar dan pusat keramaian di Kuching, Sarawak, yang biasanya ramai dikunjungi pekerja asing gelap. Markas Pasukan Rela di Jalan Haji Taha, Kuching, Sarawak juga terlihat sepi dan tampak tak ada aktivitas.
Ribuan tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal yang berada di kawasan industri Sarawak, seperti Muara Tuang, Sejingkat, Bako, dan Samarahan memilih bertahan. Mereka tak terlalu mengkhawatirkan razia yang melibatkan 53 ribu personel Pasukan Rela. Pekerja bermasalah ini yakin jika tertangkap, agen atau majikannya akan membebaskan mereka dengan segala cara. Bahkan, mereka mengaku siap melawan jika Pasukan Rela bertindak kasar.
Situasi berbeda terjadi di lokasi proyek konstruksi di Cheras, sekitar delapan kilometer dari Kuala Lumpur, Malaysia. Pihak Imigrasi bersama 400 anggota Pasukan Rela telah menggelar Operasi Tegas. Seratus pekerja terjaring karena tak memiliki surat izin tinggal atau izin kerja. Dua puluh di antaranya dari Indonesia [baca: Puluhan TKI Ilegal Terjaring Operasi Tegas].
Pemerintah Malaysia yang mulai melaksanakan Operasi Tegas seiring habisnya masa amnesti memaksa para TKI bermasalah kembali ke Indonesia. Hari ini, sekitar 4.000 pekerja ilegal tiba di Tanah Air melalui Pelabuhan Tunontaka, Nunukan, Kalimantan Timur.
Para TKI gelap tersebut diangkut dari Pelabuhan Tawau, Malaysia, dengan enam kapal berkapasitas 200 penumpang. Membludaknya jumlah TKI ilegal yang ingin kembali ke Indonesia membuat kapal penumpang itu bolak-balik Nunukan-Tawau hingga empat kali. Padahal, pada hari normal, kapal tersebut hanya berangkat sekali.
Tingginya arus kedatangan TKI gelap juga terjadi di Pelabuhan Inhutani, Nunukan. Sekitar 600 pekerja ilegal tiba dengan menumpang kapal-kapal kayu. Mereka umumnya mengaku pulang ke Tanah Air untuk menghindari Operasi Tegas dan mengurus dokumen sebelum kembali bekerja ke Malaysia. Mereka juga merasa gentar dengan hukuman berat yang diterapkan Pemerintah Malaysia kepada pekerja ilegal sesuai Akta Imigrasi Nomor 1154 Tahun 2002 [baca: TKI Ilegal Memilih Pulang].(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)
Ribuan tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal yang berada di kawasan industri Sarawak, seperti Muara Tuang, Sejingkat, Bako, dan Samarahan memilih bertahan. Mereka tak terlalu mengkhawatirkan razia yang melibatkan 53 ribu personel Pasukan Rela. Pekerja bermasalah ini yakin jika tertangkap, agen atau majikannya akan membebaskan mereka dengan segala cara. Bahkan, mereka mengaku siap melawan jika Pasukan Rela bertindak kasar.
Situasi berbeda terjadi di lokasi proyek konstruksi di Cheras, sekitar delapan kilometer dari Kuala Lumpur, Malaysia. Pihak Imigrasi bersama 400 anggota Pasukan Rela telah menggelar Operasi Tegas. Seratus pekerja terjaring karena tak memiliki surat izin tinggal atau izin kerja. Dua puluh di antaranya dari Indonesia [baca: Puluhan TKI Ilegal Terjaring Operasi Tegas].
Pemerintah Malaysia yang mulai melaksanakan Operasi Tegas seiring habisnya masa amnesti memaksa para TKI bermasalah kembali ke Indonesia. Hari ini, sekitar 4.000 pekerja ilegal tiba di Tanah Air melalui Pelabuhan Tunontaka, Nunukan, Kalimantan Timur.
Para TKI gelap tersebut diangkut dari Pelabuhan Tawau, Malaysia, dengan enam kapal berkapasitas 200 penumpang. Membludaknya jumlah TKI ilegal yang ingin kembali ke Indonesia membuat kapal penumpang itu bolak-balik Nunukan-Tawau hingga empat kali. Padahal, pada hari normal, kapal tersebut hanya berangkat sekali.
Tingginya arus kedatangan TKI gelap juga terjadi di Pelabuhan Inhutani, Nunukan. Sekitar 600 pekerja ilegal tiba dengan menumpang kapal-kapal kayu. Mereka umumnya mengaku pulang ke Tanah Air untuk menghindari Operasi Tegas dan mengurus dokumen sebelum kembali bekerja ke Malaysia. Mereka juga merasa gentar dengan hukuman berat yang diterapkan Pemerintah Malaysia kepada pekerja ilegal sesuai Akta Imigrasi Nomor 1154 Tahun 2002 [baca: TKI Ilegal Memilih Pulang].(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)