Liputan6.com, Jakarta: Para tenaga kerja Indonesia yang kembali dari Malaysia masih terus berdatangan di Pelabuhan Tanjungpriok, Jakarta Utara. Sebanyak 450 TKI ilegal yang tiba di pelabuhan pada Sabtu (6/11) pagi adalah TKI yang terkena razia dan sempat ditahan oleh pemerintah Malaysia. Sehari sebelumnya, ratusan TKI ilegal asal Johor, Malaysia, tiba di Pelabuhan Tanjungpriok [baca: Ratusan TKI Tiba di Pelabuhan Tanjungpriok].
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kedatangan para TKI ilegal kali ini disambut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta Swasono. Dalam kunjungannya, Meutia menanyakan kepada sejumlah TKI selama mereka ditahan serta perlakuan aparat Malaysia terhadap mereka.
Menanggapi kisah sejumlah TKI ilegal, Meutia berjanji akan meminta agenda pemantauan yang lebih intensif bagi para TKI selama di Malaysia. Meutia menambahkan, pihaknya akan meningkatkan nilai tawar TKI dengan cara membuat program pelatihan keterampilan yang lebih baik. Rencananya, siang ini, sekitar 300 TKI ilegal lainnya akan kembali merapat di Tanjungpriok.
Sementara di Malaysia, Aryo, TKI asal Solo, Jawa Tengah, mengaku pernah bekerja selama empat bulan menjadi TKI ilegal dan tertangkap oleh petugas Imigrasi Malaysia. Ia pun dimasukkan ke dalam kamp selama 40 hari. Namun, pengalaman itu tidak membuat Aryo kapok. Karena terdesak kebutuhan hidup, Aryo kembali ke Negeri Jiran melalui jalur ilegal dari Batam. Aryo kembali bernasib apes, ia tertangkap. Saat ditahan yang kedua, Aryo kerap mendapat perlakuan kasar dari petugas Malaysia.
Berbeda dengan Aryo, Hasan, TKI asal Lombok, Nusatenggara Barat, justru masuk secara legal tapi ditipu agennya PT Dharmakarya. Saat itu ia dijanjikan akan dipekerjakan sebagai pekerja konstruksi. Sesampainya di Malaysia, Hasan malah ditempatkan di perkebunan sawit. Hasan pun melarikan diri sehingga kehilangan semua dokumennya. Jadilah ia selalu takut tertangkap polisi setempat.
Baik Hasan maupun Aryo kini memanfaatkan amnesti dari pemerintah Malaysia untuk pulang ke Tanah Air. Apalagi Hari Raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Mereka mengaku sudah rindu rumah dan keluarga. Selain itu mereka sudah bosan dikejar-kejar aparat Malaysia, karena menjadi pekerja gelap [baca: Banyak TKI Ilegal Bersembunyi di Hutan].
Dikejar-kejar aparat keamanan setempat dan dijebloskan ke tahanan adalah risiko yang harus ditanggung oleh para TKI ilegal. Namun hal itu tidak membuat mereka kendur dalam mencari nafkah di Negeri Jiran. Tekanan itulah yang terkadang membuat mereka rindu akan keluarga di kampung halaman.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, kedatangan para TKI ilegal kali ini disambut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta Swasono. Dalam kunjungannya, Meutia menanyakan kepada sejumlah TKI selama mereka ditahan serta perlakuan aparat Malaysia terhadap mereka.
Menanggapi kisah sejumlah TKI ilegal, Meutia berjanji akan meminta agenda pemantauan yang lebih intensif bagi para TKI selama di Malaysia. Meutia menambahkan, pihaknya akan meningkatkan nilai tawar TKI dengan cara membuat program pelatihan keterampilan yang lebih baik. Rencananya, siang ini, sekitar 300 TKI ilegal lainnya akan kembali merapat di Tanjungpriok.
Sementara di Malaysia, Aryo, TKI asal Solo, Jawa Tengah, mengaku pernah bekerja selama empat bulan menjadi TKI ilegal dan tertangkap oleh petugas Imigrasi Malaysia. Ia pun dimasukkan ke dalam kamp selama 40 hari. Namun, pengalaman itu tidak membuat Aryo kapok. Karena terdesak kebutuhan hidup, Aryo kembali ke Negeri Jiran melalui jalur ilegal dari Batam. Aryo kembali bernasib apes, ia tertangkap. Saat ditahan yang kedua, Aryo kerap mendapat perlakuan kasar dari petugas Malaysia.
Berbeda dengan Aryo, Hasan, TKI asal Lombok, Nusatenggara Barat, justru masuk secara legal tapi ditipu agennya PT Dharmakarya. Saat itu ia dijanjikan akan dipekerjakan sebagai pekerja konstruksi. Sesampainya di Malaysia, Hasan malah ditempatkan di perkebunan sawit. Hasan pun melarikan diri sehingga kehilangan semua dokumennya. Jadilah ia selalu takut tertangkap polisi setempat.
Baik Hasan maupun Aryo kini memanfaatkan amnesti dari pemerintah Malaysia untuk pulang ke Tanah Air. Apalagi Hari Raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Mereka mengaku sudah rindu rumah dan keluarga. Selain itu mereka sudah bosan dikejar-kejar aparat Malaysia, karena menjadi pekerja gelap [baca: Banyak TKI Ilegal Bersembunyi di Hutan].
Dikejar-kejar aparat keamanan setempat dan dijebloskan ke tahanan adalah risiko yang harus ditanggung oleh para TKI ilegal. Namun hal itu tidak membuat mereka kendur dalam mencari nafkah di Negeri Jiran. Tekanan itulah yang terkadang membuat mereka rindu akan keluarga di kampung halaman.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)