Liputan6.com, Batusangkar: Ada yang bilang seni tari kontemporer Indonesia mengalami kemajuan luar biasa. Dari sekian banyak seniman yang memajukan bidang ini salah satunya adalah Boy G. Sakti. Nama Boy Sakti cukup disegani dalam dunia tari nasional dan internasional. Baru-baru ini, Boy Sakti bersama grup kesenian Gumarang Sakti menggelar karyanya di kota kelahirannya di Batusangkar, Sumatra Barat.
Karya-karya Boy Sakti banyak dipuji pengamat seni dunia. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa lelaki 38 tahun itu terjun ke dunia tari karena terpaksa. Lelaki bernama asli Yandi Yasin itu awalnya tidak menyukai dunia tari. Ketika masih bocah dalam benak Boy tercipta bahwa menari adalah kegiatan untuk anak perempuan. Boy menilai, anak laki-laki yang menari adalah bege bujang gadih atau bencong. "Awalnya menolak. Dunia kesenian tidak ada aura maskulinnya sama sekali," jelas Boy.
Kenakalan Boy Sakti sebagai remaja-lah yang menggiring dia mengenal dunia tari. Pada 1985 atau ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, Boy Sakti harus berurusan dengan polisi karena tertangkap sedang mengisap ganja. Salah satu syarat untuk keluar dari tahanan, ia harus ikut kegiatan menari asuhan ibunya yang juga koreografer ulung, Gusmiati Suid. Boy menyanggupi.
Seusai menamatkan pendidikan di SMA, Boy Sakti kembali dipaksa orang tuanya melanjutkan pendidikan ke sebuah lembaga pendidikan tinggi kesenian di Jakarta. Dari sini bakat seni Boy Sakti semakin terlihat. Baru enam bulan mengenyam pendidikan, Boy Sakti mendapat penghargaan lomba koreografer tari Indonesia melalui karya tarinya Pitaruah. Setahun kemudian, gelar juara satu diraih lewat karya Tari Batagak. Keberhasilan itu membuat Boy yakin bahwa pilihan hidupnya ada di dunia tari.
Boy Sakti mulai mencipta karya-karya lainnya. Hampir semua karyanya berasal dari kehidupan sehari-hari yang mengusung idiom jalanan dipadukan dengan musik tradisonal Minang. Kekuatan karya Boy Sakti terletak pada gerakan tari yang kuat dan bertenaga. Menurut Boy, gerakan-gerakan keras, ekspresif, dan dinamis untuk menyamarkan pemahaman bahwa menari itu lebih cocok untuk anak perempuan.
Boy Sakti pernah menghebohkan publik ketika menggelar Abad Adab yang Sakit. Komposisi tari dalam pemahaman anak Gusmiati Suid itu tak lagi tampak seperti mosaik gerakan tubuh yang mengikuti hukum-hukum aktivitas badan. Tarian karya Boy Sakti bak sebuah komposisi alam yang dipresentasikan ke panggung. Dalam kalimat yang lebih sederhana, apa pun yang diasumsikan sebagai tari, menurut Boy Sakti adalah sah untuk mengisi panggung.
Setelah 17 tahun menggeluti dunia tari, Boy Sakti kini cukup disegani di panggung tari nasional mau pun internasional. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, hari-hari lelaki gondrong itu lebih banyak dihabiskan di luar negeri untuk mengusung karya-karyanya. Kala senggang, ia selalu mementaskan karyanya di daerah-daerah, termasuk di tanah Batusangkar.(DEN/Deni Risman)
Karya-karya Boy Sakti banyak dipuji pengamat seni dunia. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa lelaki 38 tahun itu terjun ke dunia tari karena terpaksa. Lelaki bernama asli Yandi Yasin itu awalnya tidak menyukai dunia tari. Ketika masih bocah dalam benak Boy tercipta bahwa menari adalah kegiatan untuk anak perempuan. Boy menilai, anak laki-laki yang menari adalah bege bujang gadih atau bencong. "Awalnya menolak. Dunia kesenian tidak ada aura maskulinnya sama sekali," jelas Boy.
Kenakalan Boy Sakti sebagai remaja-lah yang menggiring dia mengenal dunia tari. Pada 1985 atau ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, Boy Sakti harus berurusan dengan polisi karena tertangkap sedang mengisap ganja. Salah satu syarat untuk keluar dari tahanan, ia harus ikut kegiatan menari asuhan ibunya yang juga koreografer ulung, Gusmiati Suid. Boy menyanggupi.
Seusai menamatkan pendidikan di SMA, Boy Sakti kembali dipaksa orang tuanya melanjutkan pendidikan ke sebuah lembaga pendidikan tinggi kesenian di Jakarta. Dari sini bakat seni Boy Sakti semakin terlihat. Baru enam bulan mengenyam pendidikan, Boy Sakti mendapat penghargaan lomba koreografer tari Indonesia melalui karya tarinya Pitaruah. Setahun kemudian, gelar juara satu diraih lewat karya Tari Batagak. Keberhasilan itu membuat Boy yakin bahwa pilihan hidupnya ada di dunia tari.
Boy Sakti mulai mencipta karya-karya lainnya. Hampir semua karyanya berasal dari kehidupan sehari-hari yang mengusung idiom jalanan dipadukan dengan musik tradisonal Minang. Kekuatan karya Boy Sakti terletak pada gerakan tari yang kuat dan bertenaga. Menurut Boy, gerakan-gerakan keras, ekspresif, dan dinamis untuk menyamarkan pemahaman bahwa menari itu lebih cocok untuk anak perempuan.
Boy Sakti pernah menghebohkan publik ketika menggelar Abad Adab yang Sakit. Komposisi tari dalam pemahaman anak Gusmiati Suid itu tak lagi tampak seperti mosaik gerakan tubuh yang mengikuti hukum-hukum aktivitas badan. Tarian karya Boy Sakti bak sebuah komposisi alam yang dipresentasikan ke panggung. Dalam kalimat yang lebih sederhana, apa pun yang diasumsikan sebagai tari, menurut Boy Sakti adalah sah untuk mengisi panggung.
Setelah 17 tahun menggeluti dunia tari, Boy Sakti kini cukup disegani di panggung tari nasional mau pun internasional. Bahkan dalam tiga tahun terakhir, hari-hari lelaki gondrong itu lebih banyak dihabiskan di luar negeri untuk mengusung karya-karyanya. Kala senggang, ia selalu mementaskan karyanya di daerah-daerah, termasuk di tanah Batusangkar.(DEN/Deni Risman)