Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis pada perdagangan saham 2-6 November 2026. Analis menuturkan, pergerakan IHSG sepekan didorong sentimen eksternal dan internal, salah satunya rilis pertumbuhan ekonomi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (7/11/2026), IHSG sepekan turun 0,13% menjadi 5.050,42 dari pekan lalu 5.057,05.Kapitalisasi pasar saham merosot 1,34% menjadi Rp 8.744 triliun dari pekan lalu Rp 8.862 triliun.
Advertisement
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG merosot 0,13% selama sepekan. Sejumlah sentimen IHSG sepekan antara lain BEI resmi mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG.
Kedua, beberapa rilis data makro ekonomi Indonesia antara lain Purchasing Manufaktur Index (PMI) Indonesia meningkat dari 52,4 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026. Selain itu, ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% Year on Year (YoY) pada kuartal III 2026 meningkat dari 5,29% pada kuartal sebelumnya.
Di sisi lain, inflasi Oktober melandai menjadi 3,23% YoY. Selain itu, investor asing yang masih melakukan aksi jual saham juga masih mendominasi IHSG. “Pelaku pasar juga menanti data nonfarm payrolls (NFP) AS,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian BEI juga terpangkas 3,5% menjadi 31,29 miliar saham dari 32,43 miliar saham pada pekan lalu. Demikian juga rata-rata frekuensi transaksi harian yang berkurang 16,44% menjadi 1,29 juta kali transaksi dari 1,54 juta kali transaksi. Rata-rata nilai transaksi harian juga merosto 23%menjadi Rp 11,04 triliun dari Rp 14,34 triliun pada pekan lalu.
Selama sepekan ini, investor asing melakukan aksi jual saham mencapai Rp 167,11 miliar. Aksi jual oleh investor asing ini lebih rendah dari pekan lalu Rp 3,05 triliun. Namun, sepanjang 2026,investor asing sudah melepas saham mencapai Rp 98,08 triliun.
Kinerja IHSG 26-30 Oktober 2026
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok signifikan pada perdagangan saham 26-30 Oktober 2026. Analis menilai, koreksi IHSG sepekan didorong aliran dana yang keluar dari pasar saham dan rilis the Federal Reserve (the Fed) soal suku bunga.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (31/10/2026), IHSG sepekan merosot 7,03% dan ditutup ke level 5.057,05 dibandingkan pekan lalu 5.439,25.
Kapitalisasi pasar saham merosot 7,52% menjadi Rp 8.862 triliun dibandingkan pekan lalu Rp 9.583 triliun.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG sepekan merosot 7,03% dan masih disertai dengan munculnya tekanan jual. Ada sejumlah sentimen yang mempengaruhi IHSG sepekan.
Pertama, Herditya menuturkan, tekanan aliran dana yang keluar atau outflow masih mendominasi IHSG setelah pengumuman usulan dari MSCI mengenai perubahan status pasar saham Indonesia. Namun, sisi lain, pemangku kebijakan telah mengambil langkah mitigasi untuk hal itu. Selain itu, ada aksi buyback saham dari beberapa emiten tanpa RUPS yang diperpanjang hingga 2027.
Kedua, pasar menanti akan ada kebijakan high shareholding concentration (HSC) yang akan berlaku 2 November 2026 di mana akan dikeluarkan dari formulasi perhitungan IHSG.
“Ketiga, rilis Fed Fund Rate yang masih berada pada level 3,75%-4% pada pekan ini, meskipun tidak menutup kemungkinan aka nada kenaikan pada akhir 2026 dan awal 2027,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Keempat, Herditya menuturkan, rupiah masih dalam tekanan dan masih terdepreasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan saat ini berada di level 18.158 per dolar AS.
Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian mengalami penyesuaian 29,49% menjadi Rp 14,33 triliun dari pekan lalu Rp 20,34 triliun. Rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 20,99% menjadi 1,54 juta kali transaksi dibandingkan 1,95 juta kali transaksi pada pekan lalu. Selain itu, rata-rata volume transaksi harian merosot 18,85% menjadi 32,43 miliar saham dari 39,95 miliar saham pada pekan lalu.
Selama sepekan, investor asing masih mencatat aksi jual saham di pasar saham Indonesia. Tercatat investor asing melepas saham Rp 3,05 triliun. Aksi jual saham ini lebih kecil dibandingkan pekan lalu Rp 6,67 triliun.