Liputan6.com, Jakarta - Gunung Semeru di Jawa Timur kembali mengalami erupsi pada Kamis, 5 November 2026 pagi pukul 09.24 WIB. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan erupsi ini memicu semburan Awan Panas Guguran (APG) hingga sejauh ribuan meter.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, memaparkan rincian kejadian erupsi tersebut berdasarkan laporan resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Advertisement
"Rekan-rekan media dan pemirsa yang kami hormati berdasarkan laporan yang kami terima dari PVMBG, pagi tadi telah terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 9 lewat 24 menit waktu Indonesia bagian Barat. Erupsi ini menghasilkan kolom abu-kelabu hitam tebal setinggi 700 meter dan terdapat awan panas guguran dengan jarak luncur hingga 4.500 meter ke arah Tenggara," ujar Berton dalam siaran pers resmi di kanal YouTube BNPB, Kamis (5/11/2026).
Imbauan untuk Warga hingga Pendaki
Seiring meningkatnya aktivitas vulkanik Semeru, BNPB mengeluarkan rekomendasi penataan zona aman serta melarang keras adanya aktivitas di sektor-sektor rawan.
Berton menekankan pentingnya pembatasan jarak aman bagi warga yang berada di kawasan tenggara lereng Semeru, khususnya di alur Besuk Kobokan.
"Kami merekomendasikan keselamatan dan zona aman antara lain, larangan aktivitas sejauh 13 kilometer di sektor Tenggara. Hindari aktivitas radius 500 meter dari tepi sungai hingga jarak 7 kilometer karena potensi awan panas dan lahar. Radius steril kawah atau puncak berada pada 5 kilometer dari puncak gunung. Serta waspadai potensi awan panas, guguran lava, lahar yang disepanjang lembah ataupun aliran sungai, Besuk Kobokan, Bang, Kembar, dan Sat," paparnya.
Selain menetapkan garis zona bahaya, BNPB menyampaikan imbauan keselamatan langsung bagi masyarakat pemukim agar tidak panik namun tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan hujan abu maupun ancaman lahar susulan.
"Bagi masyarakat, kami sampaikan tetap tenang dan waspada ikuti perkembangan aktivitas Semeru. Patuhi arahan dari pihak terkait. Jauhi zona bahaya, terutama Tenggara Besuk Kobokan. Hindari sungai yang berhulu di Semeru. Gunakan masker dan kacamata pelindung saat hujan abu. Siapkan tas siaga yang berisi beberapa dokumen obat atau makanan yang memang kita butuhkan pada saat darurat," imbau Berton.
Pendaki Jangan Nekat Demi Konten
Tidak hanya bagi warga lokal, imbauan ketat juga ia serukan kepada kalangan pendaki serta wisatawan agar tidak nekat menembus area rawan vulkanik hanya demi kepentingan rekreasi atau dokumentasi semata.
"Untuk pendaki dan wisatawan, tentu kami juga menyampaikan beberapa imbauan. Jangan mendaki atau berwisata di zona berbahaya. Jauhi kawasan kawah ataupun puncak. Tunda pendakian sedapat mungkin. Hindari lanjutkan perjalanan saat aktivitas vulkanik meningkat. Jauhi lembah dan sungai yang berhulu di Semeru ketika ancaman sudah terjadi. Utamakan keselamatan dan jangan ambil risiko demi foto ataupun wisata," tegasnya.
BNPB turut memberikan peringatan khusus bagi para pekerja tambang pasir yang biasa beraktivitas di aliran sungai alur erupsi Semeru agar segera menghentikan seluruh operasional alat berat demi mengantisipasi datangnya awan panas secara mendadak.
"Untuk penambang pasir, kami juga menyampaikan imbauan hentikan penambangan di zona bahaya. Jangan menambang di sektor Tenggara Besuk Kobokan hingga 13 km dari puncak. Jauhi area 500 meter dari sempadan sungai, yaitu Besuk Kobokan, ancaman dapat mencapai 17 km. Hentikan alat berat, kendaraan, dan aktivitas lainnya di dasar sungai," tegas Berton.
Di akhir keterangannya, Berton meminta seluruh pihak di kawasan tambang untuk terus memantau sistem peringatan dini dan memprioritaskan keselamatan jiwa di atas segalanya.
"Pantau aktivitas Semeru, serta pantau peringatan dini dari petugas. Hentikan pekerjaan, serta mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul, serta segera hentikan pekerjaan dan tinggalkan lokasi saat ancaman meningkat. Utamakan keselamatan Anda," pungkas Berton.