Penduduk Miskin Turun 430 Ribu, Pengangguran Berkurang 77 Ribu

Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, jumlah penduduk bekerja naik 1,44 juta orang.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 05 November 2026, 19:55 WIB
Aktivitas warga yang tinggal di kawasan padat penduduk, Jakarta (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Jumlah penduduk miskin dan pengangguran di Indonesia turun seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut jumlah penduduk miskin berkurang 430 ribu orang, sedangkan jumlah pengangguran turun 77 ribu orang.

Penurunan tersebut turut diikuti peningkatan jumlah penduduk bekerja sebanyak 1,44 juta orang menjadi 147,99 juta orang. Tingkat kemiskinan juga turun menjadi 8,07%, sementara tingkat pengangguran terbuka tercatat sebesar 4,75%.

"Jumlah penduduk bekerja meningkat sebesar 1,44 juta orang atau naik menjadi 147,99 juta orang. Pengangguran turun sebesar 77 ribu atau tingkat pengangguran turun sebesar 4,75%,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (5/11/2026).

Airlangga mengatakan jumlah penduduk miskin juga mengalami penurunan sebanyak 430 ribu orang atau 0,43 juta orang. Penurunan tersebut membawa tingkat kemiskinan nasional menjadi 8,07%.

“Jumlah kemiskinan turun sebesar 430 ribu atau 0,43 juta dan kemiskinan turun menjadi 8,07%,” kata Airlangga.

Airlangga menilai momentum pertumbuhan ekonomi tetap positif untuk memasuki kuartal IV 2026. Kondisi tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Kemiskinan Turun dan Investasi Rp 1.010 Triliun

Presiden Prabowo Subianto saat pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2026. (Sumber: Kemensetneg)

Sebelumnya, Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diwarnai ketidakpastian ekonomi global, mulai dari gejolak geopolitik hingga perubahan perdagangan internasional. Meski menghadapi berbagai tekanan, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan yang konsisten di atas 5%.

International Monetary Fund (IMF) dalam publikasi World Economic Outlook Oktober 2026 memproyeksikan ekonomi global tumbuh 3,1% pada 2026, melambat dibandingkan 3,3% pada 2025. Inflasi global juga diperkirakan mencapai 4,7% pada 2026 sebelum turun menjadi 4,1% pada 2027.

Di tengah situasi tersebut, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% sepanjang 2025. Pertumbuhan kemudian mencapai 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Triwulan I-2026 dan 5,29% pada Triwulan II-2026. Pertumbuhan pada kuartal pertama 2026 menjadi yang tertinggi untuk periode kuartal pertama dalam 13 tahun terakhir sejak 2013.

“Di tengah tekanan global yang tidak ringan, ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat dan konsisten di atas 5%. Ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi domestik kita solid dan kebijakan yang ditempuh Pemerintah berjalan efektif,” jelas Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangan tertulis, Rabu (21/10/2026).

Pemerintah menilai capaian tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, penguatan daya beli, penciptaan lapangan kerja, dan pengendalian risiko eksternal menjadi bagian penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Kemiskinan Turun, Investasi Tembus Rp 1.010 Triliun

Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto. (Dok. Kemenko Perekonomian)

Ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari perbaikan sejumlah indikator kesejahteraan. Pada Maret 2026, jumlah penduduk miskin tercatat 22,93 juta orang atau turun 430 ribu orang dibandingkan September 2025. Tingkat kemiskinan pun mencapai 8,07%, terendah sepanjang sejarah pencatatan.

Di sektor ketenagakerjaan, jumlah penduduk bekerja mencapai 148,19 juta orang. Penyerapan tenaga kerja bertambah 522 ribu orang sepanjang Februari-Mei 2026, sementara jumlah pengangguran turun 24 ribu orang menjadi 7,22 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat 4,65%, dengan porsi pekerja formal yang terus meningkat.

“Menko Airlangga menyampaikan pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang menciptakan lapangan kerja dan menurunkan kemiskinan. Pada Semester I ini keduanya terjadi bersamaan, dan lapangan kerja yang tercipta semakin berkualitas karena porsi pekerja formal meningkat,” tegas Haryo.

Aktivitas ekonomi juga masih menunjukkan perkembangan positif pada Semester II-2026. Inflasi September tercatat 3,28% secara tahunan, sedangkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke level ekspansi 52,4. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turut meningkat menjadi 118,1.

Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal pada Semester I-2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan atau setara 49,5% dari target tahunan. Investasi tersebut terdiri atas penanaman modal asing Rp 507,6 triliun dan penanaman modal dalam negeri Rp 502,9 triliun. Investasi di luar Jawa mencapai Rp 507,8 triliun atau 50,2% dari total realisasi.

Neraca perdagangan Indonesia juga mencatat surplus US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026. Secara kumulatif, surplus Januari-Agustus 2026 mencapai US$ 7,25 miliar, ditopang surplus perdagangan nonmigas di tengah defisit sektor migas.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya