Qatar dan Ambisi Menguasai Panggung Olahraga Dunia

: Antara Investasi, Prestise, dan Tuduhan Sportwashing

oleh Harley IkhsanDiterbitkan 05 November 2026, 20:29 WIB
Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani menyerahkan penghargaan Bola Emas kepada Lionel Messi sementara Presiden Prancis Emmanuel Macron (kanan) bertepuk tangan pada akhir pertandingan sepak bola final Piala Dunia 2022 antara Argentina dan Prancis di Stadion Lusail, Lusail, Qatar, 18 Desember 2022. Lionel Messi dinobatkan sebagai peraih Bola Emas atau Golden Ball sebagai perlambang pemain terbaik selama Piala Dunia 2022 setelah memimpin Argentina menaklukkan Prancis dalam babak final. (AP Photo/Martin Meissner)

Liputan6.com, Jakarta - Selama lebih dari satu dekade, Qatar telah menjelma menjadi salah satu kekuatan paling berpengaruh dalam industri olahraga dunia. Negara kecil di kawasan Teluk Persia ini membangun pengaruhnya bukan melalui prestasi sepak bola semata, melainkan lewat investasi besar-besaran, kepemilikan klub elite Eropa, penyelenggaraan berbagai ajang olahraga internasional, hingga menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Langkah Qatar di dunia olahraga bukan sekadar upaya memperkenalkan diri kepada masyarakat internasional. Di balik berbagai investasi tersebut, terdapat ambisi yang lebih besar: membangun reputasi global, memperkuat pengaruh diplomatik, mendiversifikasi perekonomian, dan menempatkan Qatar sebagai salah satu pusat olahraga dunia.

Namun, strategi tersebut juga mengundang kontroversi. Qatar berkali-kali menghadapi tuduhan sportswashing, yakni penggunaan olahraga untuk memperbaiki citra negara dan mengalihkan perhatian dunia dari persoalan politik, hak asasi manusia, serta kebijakan domestik.


Manuver Pertama Qatar

Presiden Paris Saint-Germain asal Qatar, Nasser al-Khelaifi, menyampaikan pidato di samping trofi di stadion Parc des Princes, Paris, pada 31 Mei 2026, selama acara khusus yang diselenggarakan untuk merayakan kemenangan mereka atas Arsenal FC di final Liga Champions UEFA bersama para pendukung. PSG meraih kemenangan Liga Champions berturut-turut dengan kemenangan adu penalti 4-3 atas Arsenal setelah bermain imbang 1-1 setelah perpanjangan waktu pada 30 Mei 2026. (FRANCK FIFE/POOL/AFP)

Salah satu tonggak penting ekspansi Qatar di dunia sepak bola terjadi pada 2011, ketika Qatar Sports Investments (QSI) mengambil alih kepemilikan mayoritas klub Prancis, Paris Saint-Germain (PSG).

Sebelum diambil alih, PSG memang sudah memiliki nama besar di sepak bola Prancis. Namun, klub tersebut belum menjadi kekuatan dominan di Eropa. Kehadiran modal Qatar mengubah arah perjalanan klub secara signifikan.

Investasi besar-besaran dilakukan untuk memperkuat skuad, mendatangkan pemain bintang, meningkatkan fasilitas, dan membangun merek klub secara global. Sejumlah nama besar seperti Zlatan Ibrahimovic, David Beckham, Neymar Jr, Kylian Mbappe, dan Lionel Messi pernah menjadi bagian dari proyek PSG di era kepemilikan Qatar.

Dampak investasi tersebut tidak hanya terlihat dari prestasi di lapangan. PSG berkembang menjadi salah satu merek sepak bola paling dikenal di dunia, dengan jangkauan komersial yang semakin luas.

Bagi Qatar, kepemilikan PSG memberikan keuntungan yang tidak dapat diukur hanya melalui jumlah trofi. Setiap pertandingan, transfer pemain, konferensi pers, dan aktivitas komersial klub menjadi kesempatan untuk memperkenalkan nama Qatar kepada jutaan penggemar sepak bola internasional.


Membangun Negara sebagai Pusat Olahraga Internasional

Gelar juara di Grand Prix MotoGP Qatar 2025 sekaligus membayar hasil buruk yang didapat Marc Marquez saat balapan Amerika Serikat. (Karim JAAFAR/AFP)

Investasi Qatar tidak berhenti di Paris. Pemerintah negara tersebut juga secara konsisten membangun infrastruktur dan menyelenggarakan berbagai kompetisi olahraga internasional.

Lanjut Baca:

Salah satu contohnya adalah MotoGP. Qatar pertama kali menjadi tuan rumah MotoGP pada 2004 melalui Sirkuit Internasional Lusail. Ajang ini kemudian berkembang menjadi salah satu agenda penting dalam kalender balap motor dunia. Di luar MotoGP, Qatar juga aktif menyelenggarakan berbagai kompetisi olahraga, antara lain Asian Games 2006, Piala Asia AFC (1988, 2011, 2023), Kejuaraan Dunia Atletik (2019), Formula 1 (sejak 2021), serta Qatar Open (tenis). Seluruh rangkaian investasi dan penyelenggaraan olahraga internasional tersebut mencapai puncaknya ketika Qatar terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Piala Dunia merupakan panggung olahraga dengan jangkauan audiens global yang sangat besar. Bagi Qatar, kesempatan menjadi tuan rumah bukan hanya tentang menggelar pertandingan sepak bola, tetapi juga memperkenalkan negara tersebut kepada masyarakat internasional dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Persiapan turnamen dilakukan secara besar-besaran. Qatar membangun dan merenovasi stadion, mengembangkan jaringan transportasi, memperluas bandara, serta membangun berbagai fasilitas pendukung pariwisata. Turnamen tersebut memberikan eksposur internasional yang luar biasa bagi negara tersebut. Qatar berhasil memperlihatkan kemampuan menyelenggarakan kompetisi berskala global, memperkenalkan budaya Arab kepada jutaan penonton, dan memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat penyelenggaraan olahraga internasional.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya