Qatar Terjebak Selat Hormuz, Eksportir Gas Alam yang Kini Beli dari AS

Qatar beli gas alam cair dari AS lewat kesepakatan senilai puluhan tahun, menandai pergeseran besar pasar energi global akibat perang Iran.

Diterbitkan 24 Oktober 2026, 15:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Qatar, yang sebelumnya merupakan salah satu eksportir gas alam terbesar dunia, kini justru membeli pasokan dari pesaing utamanya, Amerika Serikat (AS). Perubahan drastis ini terjadi hanya dalam delapan bulan sejak perang Iran dimulai.

QatarEnergy mencapai kesepakatan dengan eksportir AS, Cheniere Energy, untuk membeli 4 juta metrik ton gas alam cair (LNG) per tahun hingga 2054. Harga pembelian akan menggunakan harga acuan Henry Hub AS ditambah biaya tetap.

"Kami menantikan untuk memasok QatarEnergy secara andal dari Sabine Pass dan Corpus Christi hingga paruh kedua abad ini," kata CEO Cheniere, Jack Fusco, dikutip dari CNBC, Sabtu (24/10/2026).

Pengiriman gas dari kesepakatan ini diperkirakan baru dimulai pada 2030-an. Meski volume gas yang dibeli Qatar kurang dari 1% dari total perdagangan LNG global, hal ini disebut sebagai salah satu transaksi individual terbesar yang pernah tercatat di AS.

Kesepakatan kedua negara menandakan bagaimana perang Iran membentuk ulang pasar energi global demi keuntungan perusahaan-perusahaan AS. Saham Cheniere dan Venture Global, pemain independen AS lainnya, masing-masing naik 26% dan 40% sejak perang dimulai.

Sebelumnya, Qatar berada di posisi kedua setelah AS dalam ekspor LNG dunia. Namun, pengiriman merosot drastis sejak Iran mengebom fasilitas produksi utama Qatar di Ras Laffan pada 2 Maret, merusak parah dua jalur produksi dan melumpuhkan sekitar 17% kapasitas ekspor LNG negara itu.

Ekspor Qatar Turun Drastis Dampak Selat Hormuz

Data ekspor LNG bulanan sepanjang Januari hingga September 2026 menunjukkan penurunan tajam. Ekspor Qatar anjlok dari 7,62 juta metrik ton pada Januari menjadi hanya 780 ribu metrik ton usai serangan Ras Laffan, sebelum perlahan pulih ke 1,65 juta metrik ton pada September, masih jauh di bawah level sebelum perang.

Sementara, ekspor LNG AS tetap stabil di atas 10 juta metrik ton sepanjang periode yang sama. Menteri Energi Qatar, Saad Sherida Al-Kaabi, menyebut perbaikan kerusakan di Ras Laffan membutuhkan waktu sekitar tiga tahun.

Qatar telah menyatakan kondisi force majeure atau keadaan kahar setiap bulan sejak serangan Maret tersebut. "Ini memang memberi kami pukulan besar bagi kemampuan produksi kami untuk beberapa tahun ke depan," kata Al-Kaabi dalam sebuah wawancara di sela Sidang Umum PBB pada September.

Al-Kaabi mengakui Qatar kini hanya mengekspor sedikit LNG karena tidak bisa melewati Selat Hormuz. Hanya segelintir kapal yang bisa melintas, dengan jumlah yang bahkan tidak sampai satu poin persentase.

Analis Rapidan Energy, Alex Munton, menyebut kontrak jangka panjang Qatar dengan Cheniere mengindikasikan adanya risiko bahwa kebebasan navigasi Hormuz mungkin tidak akan kembali sepenuhnya. Pasalnya, LNG merupakan produk yang harus diangkut lewat laut sehingga sulit mencari jalur alternatif.

"Mereka harus mengakses Selat Hormuz. Tidak ada cara lain untuk membawa LNG ke pasar. Mereka benar-benar terjebak," kata Munton.

Wall Street Optimis terhadap Saham Eksportir LNG AS

Selain kesepakatan itu, Qatar juga telah mengamankan pinjaman senilai US$ 3 miliar atau Rp 54,2 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 18.090) dari bank-bank China bulan ini untuk memenuhi komitmen pengiriman internasionalnya.

Venture Global dilaporkan tengah melanjutkan diskusi dengan QatarEnergy untuk memasok 3 juta metrik ton LNG per tahun. Analis UBS menyebut kesepakatan Qatar-Cheniere membantah kekhawatiran bahwa perusahaan akan kesulitan mengamankan penjualan tambahan di masa depan.

UBS mematok target harga saham Cheniere di US$ 340 atau Rp 6,1 juta, menyiratkan potensi kenaikan 18%. Secara umum, hampir 90% analis ekuitas merekomendasikan beli untuk saham Cheniere, sementara hampir 60% merekomendasikan beli untuk Venture Global.

"AS sekali lagi diminta pembeli untuk mendiversifikasi pasokan. Begitu banyak yang sedang dibangun di AS sehingga AS kini menjadi sangat besar secara tidak proporsional dari segi pangsa pasar LNG global," kata Munton.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6