Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menghadapi tekanan di tengah meningkatnya ketidakpastian sentimen domestik, termasuk isu politik dan hukum yang melibatkan mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo terkait dugaan penyadapan Presiden Prabowo Subianto.
Di tengah kondisi pasar yang sensitif, investor saham diimbau lebih cermat dalam menentukan strategi investasi. Pengambilan keputusan secara terburu-buru, terutama akibat kepanikan, berisiko membuat investor kehilangan kesempatan untuk mengelola portofolio secara optimal.
Advertisement
"Dari sisi strategi, investor sebaiknya tetap selektif, menjaga likuiditas portofolio, dan tidak terburu-buru melakukan panic selling," kata Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, kepada Liputan6.com, Kamis (5/11/2026).
Elandry menilai, isu politik dan hukum tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap IHSG. Kendati demikian, besarnya dampak terhadap pasar saham akan sangat bergantung pada dinamika perkembangan isu serta pengaruhnya terhadap stabilitas kebijakan dan kepastian hukum di Tanah Air.
Menurutnya, investor perlu membedakan antara tekanan yang muncul akibat sentimen jangka pendek dengan perubahan fundamental perusahaan. Isu politik dan hukum yang berkembang tidak serta-merta merusak kinerja fundamental emiten.
Oleh karena itu, sikap rasional sangat diperlukan dalam mengambil keputusan investasi, sembari terus mencermati perkembangan sentimen yang berpotensi memicu volatilitas pasar.
Indikator Pasar yang Wajib Dicermati Investor
Untuk mengukur sejauh mana dampak perkembangan sentimen politik dan hukum terhadap pasar keuangan Indonesia, investor disarankan memantau sejumlah indikator utama.
Elandry memaparkan beberapa indikator penting tersebut, di antaranya:
- Arus keluar-masuk dana asing (net foreign flow)
- Pergerakan nilai tukar rupiah
- Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah
- Credit Default Swap (CDS) Indonesia
Selain itu, pergerakan volume transaksi saham dan market breadth juga menjadi instrumen penting untuk melihat seberapa luas tekanan yang terjadi di lantai bursa.
"Prioritaskan saham dengan fundamental dan arus kas yang kuat, serta lakukan pembelian secara bertahap setelah volatilitas mulai mereda. Dalam kondisi seperti ini, menjaga risk management menjadi lebih penting daripada sekadar mengejar peluang rebound jangka pendek," pungkas Elandry.