Korea Utara Luncurkan Sejumlah Rudal ke Laut

Otoritas Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS) masih menganalisis rincian peluncuran tersebut.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 04 November 2026, 20:59 WIB
Layar televisi menayangkan pemberitaan tentang peluncuran sejumlah rudal Korea Utara ke arah laut, disertai rekaman arsip, di Stasiun Kereta Api Seoul, Korea Selatan, Rabu (4/11/2026). (Dok. AP Photo/Lee Jin-man)

Liputan6.com, Seoul - Korea Utara meluncurkan sejumlah rudal ke arah laut pada Rabu (4/11/2026), menurut militer Korea Selatan. Peluncuran tersebut terjadi beberapa jam setelah Pyongyang menyatakan tidak perlu melanjutkan dialog diplomatik dengan AS.

Pernyataan itu merupakan bentuk protes atas tuduhan bahwa peretas Korea Utara terlibat dalam pencurian aset kripto dari Binance baru-baru ini.

Sejumlah pengamat menilai peluncuran rudal tersebut kemungkinan merupakan upaya Korea Utara untuk menekan AS agar menghentikan kebijakan yang dianggap Pyongyang sebagai bentuk permusuhan. Korea Utara diduga menginginkan sejumlah konsesi dari Washington sebagai syarat untuk memulihkan hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Kepala Staf Gabungan Korea Selatan seperti dilaporkan Associated Press menyatakan bahwa pihaknya mendeteksi peluncuran beberapa rudal ke arah perairan timur Korea Utara. 

Militer Korea Selatan menegaskan bahwa pihaknya tetap dalam kondisi siaga untuk menghadapi kemungkinan provokasi dari Korea Utara.

Sebelumnya pada Rabu, adik perempuan Kim Jong Un yang merupakan pejabat senior Korea Utara, Kim Yo Jong, kembali membantah pernyataan Biro Investigasi Federal AS (FBI) yang menuding peretas Korea Utara bertanggung jawab atas pembobolan Binance.

Kim Yo Jong menyebut tuduhan FBI tersebut sebagai "kelanjutan dari kebijakan Washington yang terus-menerus bersikap bermusuhan terhadap Pyongyang".

"Sikap kami sangat jelas. Kami tidak perlu duduk berhadapan dengan pihak-pihak yang tidak dapat dipercaya dan bersikap bermusuhan seperti itu," kata Kim Yo Jong.

"Dialog memang merupakan salah satu jalan menuju perdamaian. Namun, bukan berarti dialog selalu sejalan dengan kepentingan nasional kami."

Dalam pernyataan pada Selasa (3/11), Kim Yo Jong menyebut pengumuman FBI tersebut sebagai "provokasi yang berulang".

Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia, pada Jumat (30/10) mengumumkan bahwa peretas telah mencuri aset senilai lebih dari USD 6 miliar. Kasus tersebut diduga menjadi pencurian aset kripto terbesar yang pernah tercatat.

FBI kemudian menyatakan bahwa pencurian tersebut dilakukan oleh kelompok peretas Korea Utara yang dikenal dengan nama TraderTraitor. Kelompok yang sama sebelumnya disebut berada di balik pembobolan bursa kripto Bybit senilai USD 1,5 miliar pada 2025.

Dalam beberapa bulan terakhir, Korea Utara meningkatkan intensitas uji coba senjatanya. Langkah tersebut diduga bertujuan memperkuat posisi tawar Pyongyang dalam kemungkinan perundingan dengan AS, setelah Trump menyatakan keinginannya untuk kembali menjalin hubungan diplomatik dengan Kim Jong Un.

Kabar peluncuran rudal terbaru Korea Utara muncul ketika penghitungan suara pemilihan paruh waktu AS masih berlangsung.

Sementara itu, pada Rabu, kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, merilis foto yang memperlihatkan sejumlah bagian kapal perang yang tengah dibangun. Kapal tersebut diperkirakan akan menjadi kapal perang terbesar milik Korea Utara.

Menurut KCNA, Kim Jong Un menyampaikan kepuasannya saat mengunjungi Galangan Kapal Nampho pekan ini. Kapal perang yang tengah dibangun itu disebut memiliki ukuran "jauh lebih besar" dibandingkan kapal perusak berbobot 5.000 ton milik Korea Utara.

Sebelumnya, Kim Jong Un menyatakan bahwa Korea Utara berencana membangun kapal penjelajah berbobot 10.000 ton yang dilengkapi rudal berpemandu strategis.

Di sisi lain, ketegangan antara Korea Utara dan Korea Selatan semakin meningkat sejak ledakan ranjau di perbatasan kedua negara pada September lalu melukai tiga tentara Korea Selatan.

Seoul menuduh Korea Utara menanam ranjau tersebut di sebelah selatan garis perbatasan dan menuntut permintaan maaf. Namun, Pyongyang membantah bertanggung jawab atas ledakan itu dan memperingatkan akan melakukan tindakan balasan jika mendapat provokasi.

Korea Utara kemudian mengancam akan kembali menyiarkan propaganda melalui pengeras suara serta menempatkan sistem persenjataan baru di sepanjang perbatasan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya