Ekonom Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia hingga 5,28%, Ini Penopangnya

Ekonom LPEM FEB UI dan BCA memperkirakan PDB kuartal III 2026 tumbuh 5,15%-5,28%. Berikut faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi.

oleh Thurfah Mahira AhnafDiterbitkan 04 November 2026, 19:40 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2026. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2026 diperkirakan tetap kuat, tetapi sedikit melambat. Dua ekonom sama-sama menyoroti peran ekspor dan melambatnya konsumsi.

Ekonom Institute for Economic and Social Research Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky dalam kajian Indonesia Economic Outlook 2027 memperkirakan produk domestik bruto (PDB) resmi kuartal III tumbuh 5,28% secara tahunan (Year-on-Year/YoY), dalam rentang 5,25%–5,30%. Angka itu hampir sama dengan realisasi kuartal II sebesar 5,29%.

LPEM FEB UI juga menghitung felt growth, pertumbuhan yang dirasakan masyarakat, sebesar 4,74%. Konsep ini meminjam analogi aplikasi cuaca yang membedakan suhu aktual dan suhu yang terasa.

"Manfaat dari pertumbuhan PDB mungkin tidak dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Indonesia," tulis Teuku dalam kajian tersebut, dikutip Rabu (4/11/2026).

Untuk 2026, LPEM FEB UI memproyeksikan PDB resmi tumbuh 5,39% dan pertumbuhan yang dirasakan 4,77%. Pada 2027, angkanya masing-masing 5,25% dan 4,90%.

Indeks Keyakinan Konsumen menunjukkan arah serupa dengan rata-rata kuartal III sebesar 117,8, turun dari 120,6 pada kuartal II, meski masih di zona optimistis.

Penurunan paling jelas terjadi pada rumah tangga berpengeluaran Rp 1,0 juta–Rp 2,0 juta per bulan, yang indeks-nya turun 4,7 poin menjadi 107,4. Sementara, kelompok berpengeluaran Rp 4,1 juta–Rp 5,0 juta relatif tidak berubah.

Inflasi September tercatat 3,28%, dengan inflasi harga bergejolak 5,03%. LPEM FEB UI menilai kenaikan harga pangan lebih membebani kelompok berpengeluaran rendah karena porsi belanja pangan lebih besar.

Pola menabung turut bergeser, dengan simpanan berjangka tumbuh 13,11%, naik dari 10,51%, sedangkan porsi pendapatan yang ditabung turun menjadi 16,0% dari 17,6%.

 

Ekonom BCA Prediksi Pertumbuhan Agak Melambat

Ilustrasi Peti Kemas, Perdagangan, Ekonomi, Internasional, Ekspor, Impor. Photo by Taro Ohtani on Unsplash

"Pola ini sejalan dengan sikap wait-and-see di kalangan pelaku usaha maupun rumah tangga," tulis laporan itu.

Meski begitu, rumah tangga disebut masih relatif optimistis terhadap prospek ekonomi, tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen yang naik menjadi 128,7 pada September.

Prediksi lain datang dari ekonom BCA David Sumual. Ia memperkirakan pertumbuhan melambat sedikit dari 5,29% pada kuartal II menjadi 5,15%–5,20% pada kuartal III, lalu mencapai 5,3% hingga akhir tahun.

David menuturkan, ekspor dan manufaktur menopang pertumbuhan ekonomi. "Ekspor dan aktivitas manufaktur menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal III," ujar dia.

Ini sejalan dengan data perdagangan. Ekspor tumbuh 6,72% pada Agustus, didorong kenaikan harga crude palm oil (CPO), batu bara, emas, serta besi dan baja.

Dari segi konsumsi, David menyebut perlambatan terjadi di dua sektor. "Konsumsi, baik di sektor rumah tangga maupun pemerintah, tampak melambat dibanding kuartal sebelumnya," katanya.

Indikator itu didorong penjualan ritel hingga indeks belanja masyarakat. "Penjualan ritel dan indeks belanja masyarakat turun. Daya beli juga menurun karena peningkatan inflasi dan pelemahan kurs," ujar David.

Di sisi lain, rupiah tercatat terdepresiasi 6,48% sejak awal tahun hingga September.

Soal pendorong pertumbuhan pada kuartal berikutnya, David menunjuk faktor eksternal. "Booster-nya masih isu eksternal terkait konflik geopolitik dan pengaruhnya terhadap harga minyak," ujar David.

Menurut dia, kondisi akan lebih menguntungkan jika harga minyak turun, sementara harga komoditas ekspor masih tinggi. "Jika harga minyak turun sementara harga dari komoditas-komoditas ekspor masih tinggi," kata dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya