Disney Dikabarkan Bakal PHK Ribuan Karyawan

Sejumlah lini operasional Disney dikabarkan terkena dampak lebih besar dari penghematan yang diminta mencapai 20%.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 04 November 2026, 10:00 WIB
Pemandangan pintu masuk taman hiburan Walt Disney World di Lake Buena Vista, Florida, Amerika Serikat. (OCTAVIO JONES / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Walt Disney akan memangkas ribuan pekerjaan atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan seiring rencana penghematan. Raksasa hiburan itu telah meminta sejumlah manajer untuk menargetkan penghematan biaya tahunan sebesar 20%. Penghematan dilakukan terhadap sejumlah lini operasional Disney.

Mengutip the Strais Times, Rabu (4/11/2026), menurut sumber, penghematan biaya tahunan itu dapat dicapai melalui penghapusan posisi pekerjaan dan pengurangan pengeluaran lainnya. Beberapa lini operasional Disney mulai dari taman hiburan, jaringan televisi, hingga studio film akan terkena dampak yang lebih besar dibandingkan bagian lainnya.

Menurut sumber tersebut, CEO Josh D’Amaro berencana menginvestasikan kembali sebagian dari penghematan itu ke dalam program film dan televisi, teknologi, serta bisnis taman hiburan dan kapal pesiar.

Perusahaan telah menjanjikan pertumbuhan dua digit dalam laba per saham yang disesuaikan untuk tahun fiskal berjalan. Perwakilan Disney menolak untuk memberikan komentar.

Dalam beberapa tahun terakhir, Disney telah memangkas biaya hingga miliaran dolar Amerika Serikat (AS) dan menghapus ribuan posisi. Pengurangan ini berdampak pada setiap divisi, termasuk ABC, Pixar, ESPN, studio film, serta unit bisnis pengalaman (experiences unit).

Pada akhir tahun fiskal lalu, perusahaan memiliki 231.000 karyawan di seluruh dunia.

The Wall Street Journal melaporkan pada 1 Oktober, Disney berencana merestrukturisasi divisi televisi, serta melakukan pengurangan di unit hukum dan urusan global perusahaan.

 

Ikuti Perusahaan Lain

Ilustrasi Pemutusan Hubungan Kerja alias PHK. Foto: Freepik

Perusahaan hiburan lain seperti Netflix, Sony Pictures Entertainment, serta divisi Paramount dan Warner Bros. milik Skydance juga telah memangkas tenaga kerja seiring dengan menurunnya pendapatan dari televisi tradisional dan melambatnya pertumbuhan jumlah pelanggan layanan streaming.

Mereka juga harus menghadapi pergeseran perhatian penonton yang kini lebih banyak beralih ke media sosial, video daring, dan layanan streaming yang didukung oleh raksasa teknologi seperti Amazon.com dan Apple.

Dalam konferensi Bloomberg Screentime di Los Angeles pada Oktober, Presiden Disney, Dana Walden, menyatakan pihaknya perlu terus mengevaluasi bagaimana struktur organisasi disusun dan seberapa besar skala organisasi tersebut.

"Perusahaan teknologi kini mengincar bisnis kami. Kita harus bertahan, berkembang, dan terus tumbuh, itulah yang akan kami lakukan,” ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya