Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah warga di inggris dan Amerika Serikat memiliki cara unik untuk menghemat pengeluaran, yakni berburu barang-barang yang dibuang ke tempat sampah komersial. Aktivitas yang dikenal sebagai dumpster diving ini dilakukan dengan mencari barang yang masih layak digunakan atau bahkan memiliki nilai jual.
Barang-barang yang ditemukan tidak selalu berupa barang bekas dengan kondisi buruk. Beberapa orang justru menemukan pakaian bermerek, perlengkapan rumah tangga, produk perawatan tubuh, hingga barang antik yang masih memiliki nilai ekonomi.
Advertisement
Saah satunya Darryl Baker, perempuan berusia 39 tahun dari London Utara. Ia mulai tertarik melakukan aktivitas tersebut setelah melihat tumpukan pakaian dibuang di dekat tempat sampah daur ulang di luar supermarket.
Darryl kemudian meminta izin kepada staf supermarket untuk mengambil sebagian barang tersebut. Hasilnya, ia mendapatkan pakaian baru untuk anak-anaknya.
"Saya mendapatkan seluruh pakaian baru untuk anak-anak saya," ujar Darryl dikutip dari BBC, Selasa (03/11/2026).
Selama enam bulan melakukan aktivitas tersebut pada tahun ini, ia memperkirakan telah menghemat ratusan poundsterling. Selain pakaian, Darryl juga pernah menemukan bingkai foto IKEA dan skuter anak-anak.
Ia bahkan menemukan pakaian dari sejumlah merek ternama, seperti Ralph Lauren, Nike, dan The North Face. Sebagian barang digunakan untuk keluarganya, sementara barang lain disumbangkan atau dijual kembali.
Dari Menghemat belanja hingga Mendapat Penghasilan Tambahan
Fenomena ini tidak hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Sebagian pelaku dumpster diving juga menjadikan barang temuan sebagai sumber penghasilan tambahan.
Jeff Ferrell, pria berusia 72 tahun dari Fort Worth, Texas, Amerika Serikat, telah melakukan aktivitas tersebut selama lebih dari 50 tahun. Ia Mengaku masih rutin mencari barang di tempat sampah menggunakan sepeda setiap hari.
"Saya masih menikmati aktivitas ini sama seperti dulu, bahkan mungkin lebih dari sebelumnya,' kata Ferrell.
Ferrell menyebut dirinya seperti Robin Hood karena kerap mengambil barang dari kawasan yang lebih makmur untuk kemudian membagikan sebagian temuannya kepada orang lain.
Ia mengaku hampir seluruh isi rumahnya berasal dari barang-barang yang ditemukan. Bahkan, ia tidak perlu membeli sejumlah kebutuhan seperti sabun, perlengkapan mandi, sepatu, pakaian, hingga peralatan berkebun.
Ferrell juga mengumpulkan logam bekas untuk dijual ke tempat penampungan barang rongsokan. Aktivitas tersebut menghasilkan sekitar USD 150 setiap dua minggu. Sementara itu, istrinya menjual barang-barang bernilai lebih tinggi, seperti perhiasan antik, melalui eBay.
Dari hasil penghematan dan penjualan barang temuannya, Ferrell memperkirakan nilai barang yang diperoleh mencapai puluhan ribu dolar AS setiap tahun.
Fenomena serupa juga dilakukan Millie Diamond, penata gaya asal London berusia 36 tahun. Ia mengunggah aktivitas mencari barang bekas melalui TikTok, terutama untuk menemukan kain dan pakaian yang dapat diolah kembali menjadi busana baru. Millie mengaku tertarik mengambil barang yang menurutnya masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan.
Barang Buangan dan Batasan Hukum
Selain menghemat pengeluaran, aktivitas dumpster diving juga dilatarbelakangi keprihatinan terhadap banyaknya barang yang sebenarnya masih bisa digunakan tetapi berakhir menjadi sampah.
Charlotte Bayford, perempuan berusia 44 tahun dari Essex, Inggris, misalnya, memanfaatkan momen ketika mahasiswa Universitas Essex pulang untuk liburan musim panas. Pada periode tersebut, banyak mahasiswa membuang barang yang tidak ingin mereka bawa pulang, termasuk produk perlengkapan mandi yang masih terisi sebagian.
Charlotte mengaku sudah tidak membeli sampo selama delapan tahun berkat barang-barang yang ditemukannya.
"Saya rasa hal itu sudah menghemat cukup banyak uang," ujarnya.
Ia juga pernah menemukan makanan kaleng yang masih tersegel dan dalam kondisi baik. Sebagian barang yang diperoleh disumbangkan kepada badan amal, sedangkan barang bernilai tertentu dijual kembali.
Meski demikian, mengambil barang dari tempat sampah tidak selalu diperbolehkan secara hukum. Profesor emeritus sosiologi di Texas Christian University, Jeff Ferrell, menjelaskan sejumlah kota di Amerika Serikat telah melarang praktik tersebut, termasuk New York, Cleveland, dan Wichita.
Sementara itu, pengacara Sunjay Versani dari Duncan Lewis Solicitors mengatakan aturan di Inggris bergantung pada situasi dan kondisi barang yang diambil.
"Jika barang tersebut benar-benar telah dibuang, kemungkinan adanya penuntutan dalam banyak kasus relatif kecil," kata Versani.
Namun, ia mengingatkan tidak ada aturan umum yang menyatakan bahwa semua barang di tempat sampah otomatis bebas diambil. Karena itu, meminta izin kepada pemilik atau pihak usaha menjadi langkah paling aman sebelum mengambil barang.