Liputan6.com, Jakarta - Penutupan perusahaan tidak hanya berdampak pada kelangsungan bisnis, tetapi juga memengaruhi masa depan para pekerjanya. Ketika perusahaan menghentikan operasional, karyawan dihadapkan pada ketidakpastian pekerjaan, pendapatan, hingga arah karier ke depan.
Situasi tersebut kembali menjadi sorotan setelah firma hukum terkemuka di Amerika Serikat, Weil, Gotshal & Manges, merekomendasikan para mitranya untuk mempersiapkan penutupan operasional secara tertib (orderly wind-down) usai beroperasi lebih dari 90 tahun.
Advertisement
Danielle Thompson, perekrut tenaga kerja hukum sekaligus mantan pengacara di firma hukum besar, membagikan sejumlah langkah strategis bagi pekerja yang menghadapi kondisi serupa.
Menurut Thompson, keputusan bisnis di luar kendali karyawan kerap mengguncang fondasi karier mereka. Dalam kasus firma hukum Weil, sekitar 1.200 pengacara beserta staf pendukung harus menghadapi ketidakpastian masa depan pekerjaan.
Untuk itu, Thompson menyarankan para pekerja mengambil langkah proaktif sejak dini guna membuka lebih banyak pilihan sebelum perusahaan benar-benar berhenti beroperasi:
1. Jangan Menunggu Kondisi Mereda untuk Mencari Pekerjaan
Saran utama adalah segera memulai pencarian kerja baru tanpa harus menunggu seluruh proses penutupan perusahaan selesai.
Sebagian karyawan kerap memilih bertahan dengan harapan diajak berpindah ke tempat kerja baru oleh atasan mereka. Namun, Thompson menegaskan tidak ada jaminan atasan akan membawa seluruh anggota timnya.
"Jangan menunggu terlalu lama. Punya banyak pilihan selalu lebih baik. Bersikaplah proaktif," tegas Thompson dikutip dari CNBC, Selasa (3/11/2026).
Semakin banyak karyawan yang berburu kerja secara bersamaan, kompetisi akan semakin ketat. Oleh karena itu, mulailah membangun jaringan (networking) dan menghubungi calon pemberi kerja sebelum situasi semakin mendesak.
2. Cermat Mengirimkan CV dan Menggunakan Jasa Perekrut
Pekerja disarankan lebih selektif saat membagikan daftar riwayat hidup (curriculum vitae/CV) kepada agensi perekrut (headhunter) maupun perusahaan.
Sejumlah perekrut dapat menganggap pengiriman CV sebagai persetujuan untuk meneruskan dokumen tersebut ke berbagai perusahaan secara masif. Jika beberapa perekrut mengirimkan CV kandidat yang sama ke satu perusahaan, hal ini berpotensi menimbulkan kendala administratif yang membuat perusahaan enggan melanjutkan proses rekrutmen.
Pastikan Anda mengetahui secara pasti ke mana saja CV dikirimkan. Jika menggunakan jasa perekrut, pilihlah agensi dengan reputasi baik dan berdasarkan rekomendasi terpercaya. Manfaatkan juga jaringan alumni, rekomendasi rekan kerja, serta platform lowongan kerja resmi.
3. Tidak Perlu Terlalu Khawatir Soal Jeda Kerja (Career Gap)
Thompson mengingatkan pekerja untuk tidak terlalu panik jika mengalami jeda waktu menganggur (career gap) atau berpindah pekerjaan dalam waktu singkat.
Dalam kondisi perusahaan tutup mendadak, calon pemberi kerja umumnya dapat memaklumi latar belakang penutupan tersebut dan tidak serta-merta menilainya sebagai rekam jejak buruk.
Kendati demikian, pemahaman calon pemberi kerja biasanya memiliki batas waktu. Pekerja disarankan tidak terburu-buru menerima tawaran yang tidak sesuai hanya karena terdesak. Jika terpaksa mengambil pekerjaan sementara demi alasan finansial, Anda tetap dapat mencari peluang yang lebih cocok setelah kondisi stabil.
4. Beri Ruang Emosional dan Saling Bantu Antarsesama Pekerja
Selain tindakan praktis, menjaga kondisi mental dan emosional sangat krusial. Rasa marah, takut, kewalahan, hingga kecewa merupakan reaksi wajar yang membutuhkan waktu untuk diproses.
Bagi pekerja yang telah berhasil mendapatkan posisi baru, dorongan untuk membantu rekan kerja yang masih berjuang sangat dinantikan—baik melalui pembagian informasi lowongan, memberikan rekomendasi, maupun menghubungkan ke relasi bisnis.
"Perusahaan tidak memiliki perasaan atau loyalitas kepada karyawan tertentu, tetapi manusia memilikinya. Kita tidak ada artinya tanpa empati dan komunitas," pungkas Thompson.