Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026). Rupiah turun 9 poin atau 0,05 persen ke level 18.156 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 18.147 per dolar AS.
Pelemahan juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI). Pada Senin, JISDOR tercatat sebesar 18.161 per dolar AS, melemah dari posisi sebelumnya 18.138 per dolar AS.
Advertisement
Analis mata uang Ibrahim Assuabi menjelaskan, pergerakan rupiah masih dipengaruhi perkembangan geopolitik, terutama peluang diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat.
“Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui sambungan telepon bahwa ia lebih memilih untuk memberikan lebih banyak waktu bagi diplomasi sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan tindakan militer,” ujar Ibrahim, dikutip dari Antara.
Dalam laporan Axios, pendekatan tersebut membuat Netanyahu khawatir. Ia disebut mendesak agar serangan AS kembali dilanjutkan setelah pemilihan paruh waktu atau midterm elections.
Ibrahim menilai peluang pembicaraan lanjutan memberikan sedikit kelegaan bagi pasar. Namun, ketidakpastian tetap membayangi karena Trump sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer apabila negosiasi tidak membuahkan hasil.
Kebijakan Suku Bunga The Fed
Selain komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat, upaya diplomasi yang melibatkan Qatar turut menjadi perhatian pasar. Pejabat Iran dan Qatar dilaporkan telah berdiskusi selama tiga hari berturut-turut untuk mencari jalan keluar dari konflik.
Teheran menyatakan masih membuka ruang diplomasi, meskipun tetap menyiapkan langkah pertahanan. Sementara itu, Qatar berupaya menjadi mediator dalam usulan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Menurut Ibrahim, perkembangan di kawasan tersebut penting bagi pasar energi global. Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak, sehingga setiap gangguan dapat memengaruhi pasokan dan biaya distribusi.
“Jalur perairan tersebut tetap menjadi perhatian utama bagi pasar energi. Serangan terhadap kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak Iran telah meningkatkan biaya pengiriman serta asuransi,” kata dia.
Dari Amerika Serikat, sentimen terhadap rupiah juga datang dari arah kebijakan suku bunga bank sentral. Dua pejabat Federal Reserve (The Fed) menyampaikan pandangan hawkish atau cenderung mendukung kebijakan moneter ketat.
Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, menyebut kemungkinan kenaikan suku bunga dua kali lagi. Sementara itu, Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menginginkan kenaikan tambahan dalam waktu dekat karena menilai kebijakan saat ini masih terlalu longgar.
Pekan ini, pelaku pasar juga akan mencermati data aktivitas manufaktur dan jasa ISM Oktober, serta sejumlah indikator ketenagakerjaan AS, termasuk JOLTS, ADP, klaim pengangguran mingguan, dan Nonfarm Payrolls.
Inflasi dan Neraca Perdagangan
Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi memberikan sentimen positif bagi rupiah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 surplus US$ 3,36 miliar. Nilai ekspor mencapai US$ 27,59 miliar, sedangkan impor sebesar US$ 24,23 miliar.
Ibrahim menilai surplus perdagangan dapat memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Namun, kondisi tersebut belum tentu langsung mendorong penguatan rupiah apabila tekanan dari dolar AS dan faktor eksternal masih tinggi.
“Surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar menjadi sentimen positif bagi fundamental ekonomi Indonesia dan berpotensi mendukung rupiah. Namun, pasar tetap perlu mencermati kualitas pertumbuhan ekspor, perkembangan impor, serta arus modal asing. Sebab, surplus perdagangan yang kuat belum tentu secara langsung membuat rupiah menguat apabila tekanan dari dolar AS dan faktor eksternal masih tinggi,” ungkapnya.
Sementara itu, inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat 0,22 persen secara bulanan dan 3,23 persen secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan kenaikan harga masih relatif terkendali, meskipun perkembangan harga pangan dan kebutuhan pokok tetap perlu diperhatikan.
Indikator lain datang dari sektor manufaktur. PMI Manufaktur S&P Global Indonesia naik menjadi 54,0 pada Oktober 2026, dari 52,4 pada September. Angka di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.
“Bagi pasar, kondisi ini merupakan sentimen positif karena menunjukkan meningkatnya aktivitas dunia usaha dan potensi pertumbuhan ekonomi. Namun, keberlanjutan pertumbuhan tetap bergantung pada daya beli domestik, permintaan ekspor, stabilitas rupiah, dan kemampuan perusahaan mengendalikan biaya produksi,” ujar Ibrahim.
Dengan demikian, pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik, terutama perkembangan geopolitik, arah suku bunga The Fed, serta data ekonomi Amerika Serikat dan Indonesia.