NASA Temukan Meteorit Mars Berusia 4,1 Miliar Tahun di Gurun Sahara

Apa saja metode dan kandungan yang meteorit dari Mars ini miliki?

oleh Nasywa FakhirahDiterbitkan 02 November 2026, 19:30 WIB
Planet Mars (NASA).

Liputan6.com, Washington D.C - Hasil penelitian NASA berkata sebuah meteroit berwarna merah muda yang ditemukan di Gurun Sahara pada tahun 2022 telah diidentifikasi sebagai potongan Planet Merah berusia 4,1 miliar tahun.

Dikutip dari CBS News, Senin (2/11/2026), NASA menyampaikan dalam siaran persnya meteorit seberat hampir 907 gram ini ditemukan di Mali, Afrika Barat. Nama dari benda tersebut adalah Teghaza 001, sesuai dengan nama dataran garam tempat penemuannya.

Penelitian terhadap meteorit tersebut memungkinkan para ilmuwan NASA menyimpulkan bahwa meteorit itu adalah salah satu dari sekitar 435 meteorit yang berasal dari Mars. Asal-usul meteorit dari Mars dapat diverifikasi dengan membandingkan komposisi kimia dan mineralnya dengan sampel dan data yang dikumpulkan melalui misi-misi NASA ke Mars.

Menurut NASA, berdasarkan penentuan usia meteorit tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa meteorit itu berusia sekitar 4,1 miliar tahun, sehingga menjadikannya salah satu dari tiga meteorit Mars tertua yang pernah ditemukan di Bumi. Badan antariksa tersebut menyebutkan hal ini memberikan "gambaran langka" tentang kerak dan pembentukan planet tersebut.

"Baru setelah kami mulai mengamatinya dengan saksama, kami menyadari bahwa meteorit ini benar-benar unik," tutur penulis pertama studi merinci proses penentuan usia dan penemuan-penemuan terkait Yang Liu.

Liu adalah bagian dari Jet Propulsion Laboratory NASA di California Selatan. "Salah satu peninjau makalah tersebut menyebutnya sebagai Batu Rosetta untuk Mars."

Meteorit-meteorit Mars purba sebelumnya hanya memberikan gambaran yang lebih terbatas tentang sejarah planet tersebut. Namun, Teghaza 001 menunjukkan bagaimana kerak Mars terbentuk dari magma yang mendingin dan kemudian mengalami perubahan akibat air di permukaan planet tersebut.

 

Analisis Batuan Meterorit

Ilustrasi penelitian di laboratorium menggunakan microscope. (Pixabay/Herney)

NASA berkata meteorit ini terbuat dari campuran unik mineral vulkanik, termasuk kristal zirkon, yang cocok dengan sampel yang diamati oleh Mars Reconnaissance Orbiter milik badan antariksa tersebut di dataran tinggi selatan planet Mars.

Seorang profesor geokimia di Caltech Francis Tissot membantu para peneliti menggunakan metode penentuan usia yang inovatif dengan mengkaji sepotong meteorit yang ukurannya lebih kecil dari kuku jari. Metode yang akurat ini memungkinkan para ilmuwan menganalisis butiran mineral satu per satu.

Analisis tersebut menunjukkan bahwa batuan tersebut telah mengalami perubahan akibat air di Mars sekitar 4,1 miliar tahun yang lalu. NASA berkata bahwa batuan itu sendiri mungkin telah terbentuk jauh lebih awal. Data tersebut juga menunjukkan bahwa Mars pada masa awal mungkin memiliki siklus air yang lebih dinamis daripada yang sebelumnya para ilmuwan yakini.

Penulis studi tersebut Lee Saper berkata bahwa meteorit itu "mencatat interaksi antara air dan batuan, dan mungkin bahkan jejak atmosfer Mars saat planet itu kehilangan airnya."

Sebuah studi lain tentang meteroit tersebut yang terbit pada bulan Juni berfokus pada kandungan air dalam batuan itu dan mengkaji bagaimana air mungkin telah membentuk topografi awal Mars.

"Ini benar-benar potongan kerak Mars pertama kami yang berasal dari bagian Mars yang belum pernah kami ambil sampelnya sebelumnya," tambah Lee yang juga seorang ilmuwan di Ames Research Center NASA.

Liu mengatakan bahwa kemungkinan besar akan ada penelitian lebih lanjut terhadap meteorit tersebut.

"Kami baru menyentuh permukaannya saja," ujar Liu.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya