Impor RI Capai US$ 210,63 Miliar hingga September 2026, China dan Jepang Mendominasi

BPS mencatat nilai impor Indonesia periode Januari–September 2026 mencapai US$ 210,63 miliar. Kenaikan ini terutama ditopang impor bahan baku.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 02 November 2026, 14:00 WIB
Impor bahan baku hingga barang konsumsi meningkat di kuartal III 2026 dengan total raihan US$ 210,63 miliar. (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia mencapai US$ 210,63 miliar sepanjang Januari hingga September 2026. Nilai ini meningkat 19,67% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh impor bahan baku dan penolong yang nilainya mencapai US$ 150,57 miliar, atau tumbuh sebesar 21,11%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa peningkatan impor terjadi pada seluruh golongan penggunaan barang, mulai dari barang konsumsi, bahan baku penolong, hingga barang modal.

“Sebagai penyumbang utama peningkatan impor, nilai impor bahan baku penolong mencapai US$ 150,57 miliar atau naik 21,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (2/11/2026).

Berdasarkan jenisnya, impor migas tercatat sebesar US$ 32,57 miliar atau meningkat 37,35%. Sementara itu, impor nonmigas mencapai US$ 178,06 miliar atau tumbuh 16,92%.

BPS mencatat kenaikan impor bahan baku penolong terutama berasal dari komoditas bahan bakar mineral, mesin dan perlengkapan elektrik, serta garam, belerang, batu, dan semen.

 

Kinerja Impor September 2026

Impor bahan baku hingga barang konsumsi meningkat di kuartal III 2026 dengan total raihan US$ 210,63 miliar. (BAY ISMOYO/AFP)

Khusus pada September 2026, nilai impor Indonesia mencapai US$ 24,23 miliar atau meningkat 18,41% secara tahunan (year-on-year). Impor migas tumbuh 23,94% menjadi US$ 3,27 miliar, sedangkan impor nonmigas naik 17,59% menjadi US$ 20,96 miliar.

Ateng menjelaskan seluruh golongan penggunaan impor mengalami peningkatan pada September 2026 jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

“Impor barang konsumsi pada September 2026 naik sebesar 15,98%, sedangkan bahan baku penolong meningkat 24,65%,” kata Ateng.

Adapun impor barang modal meningkat 1,25% secara tahunan. Kenaikan impor bahan baku penolong pun memberikan andil terbanyak terhadap total pertumbuhan impor nasional berdasarkan golongan penggunaan.

 

Komoditas Dominan dan Negara Pemasok Utama

Impor bahan baku hingga barang konsumsi meningkat di kuartal III 2026 dengan total raihan US$ 210,63 miliar. (Liputan6.com/Johan Tallo)

BPS juga mencatat tiga komoditas utama yang mendominasi impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–September 2026, yakni mesin dan peralatan mekanik, mesin dan perlengkapan elektrik, serta plastik dan barang dari plastik. Ketiga kelompok barang ini menyumbang porsi hingga 37,95% terhadap total impor nonmigas.

Secara rinci, nilai impor mesin dan peralatan mekanik meningkat 13,47%, sementara mesin dan perlengkapan elektrik tumbuh 23,30%. Adapun impor plastik dan barang dari plastik tercatat naik 20,20%.

Dari sisi negara asal, Tiongkok, Jepang, dan Australia menjadi tiga pemasok utama impor nonmigas ke Indonesia dengan kontribusi gabungan mencapai 52,94%.

Impor nonmigas dari Tiongkok tercatat sebesar US$ 76,16 miliar yang didominasi oleh mesin serta perlengkapan elektrik. Impor dari Jepang mencapai US$ 104,04 miliar, sedangkan impor dari Australia berada di angka US$ 8,07 miliar.

BPS mencatat impor mesin dan perlengkapan elektrik dari Tiongkok meningkat 27,83%. Sebaliknya, impor mesin dan peralatan mekanik dari Jepang melandai 16,24%. Sementara itu, impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia melonjak hingga 202,99% secara tahunan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya