Capai 99%, Proyek Kilang Balikpapan Bakal Pangkas Impor BBM

Proyek RDMP Kilang Balikpapan senilai US$ 7,4 miliar capai 99 persen. Kilang ini siap memasok hingga 25 persen kebutuhan BBM nasional.

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 16:15 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, memastikan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Pertamina Balikpapan sudah hampir rampung sepenuhnya. Kilang ini diproyeksikan bakal menopang hingga 25 persen produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional.

Bahlil menyampaikan, pengembangan RDMP Kilang Balikpapan kini telah memasuki tahap akhir (final stage) dan hanya menyisakan penyesuaian teknis minor.

"Untuk RDMP keseluruhan sudah 99 persen. Sebenarnya sudah selesai, tinggal penyesuaian detail saja, biasa lah barang baru kan ada penyesuaian," ujar Bahlil di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (23/10/2026).

Sebagai informasi, Proyek Strategis Nasional (PSN) ini menelan nilai investasi sebesar US$ 7,4 miliar atau sekitar Rp 126 triliun. Capaian ini menjadikannya salah satu investasi BUMN terbesar di satu lokasi.

Setelah beroperasi penuh, kilang ini ditargetkan mampu memenuhi 22 hingga 25 persen kebutuhan BBM nasional. Dengan demikian, pasokan energi dalam negeri makin kokoh sekaligus menekan ketergantungan pada impor BBM, sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Bahlil juga menegaskan bahwa ketahanan pasokan BBM nasional saat ini berada dalam posisi aman.

"Stok nasional kita rata-rata 16–18 hari untuk Pertalite. Kalau solar tidak ada isu sama sekali karena kita sudah tidak lagi impor. Untuk RON 92, 95, dan 98 rata-rata di atas 20 hari, sesuai standar minimum nasional. Stok di Kalimantan juga tidak jauh beda dengan nasional," jelasnya.

 

Solusi Kendala Distribusi di Kalbar

Di samping memantau kelangsungan proyek kilang, Bahlil turut merespons kendala distribusi BBM yang sempat terjadi di Kalimantan Barat (Kalbar). Gangguan tersebut disebabkan oleh mengeringnya Sungai Kapuas akibat fenomena El Nino sehingga jalur perairan dangkal dan tidak bisa dilalui kapal tanker.

"Memang tadi ada masalah di Sungai Kapuas karena El Nino sehingga terjadi pendangkalan dan distribusi sedikit terganggu. Namun kita sudah ubah solusinya. Pertamina menjadikan kapal sebagai penampungan, lalu didistribusikan menggunakan mobil tangki lewat jalur darat," kata Bahlil.

Langkah pengalihan jalur darat ini disiapkan untuk mengurai antrean masyarakat di sejumlah wilayah Kalbar, seperti Kabupaten Kayong Utara, sekaligus memastikan pasokan energi tetap tersalurkan secara merata.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6