Efek Boom AI, Ekonomi Amerika Serikat Tumbuh 3,4%

Ekonomi AS tumbuh 3,4% pada kuartal III 2026 berkat lonjakan investasi sektor kecerdasan buatan (AI) dan belanja konsumen, meski dibayangi tingginya inflasi.

oleh Rachel AuliaDiterbitkan 30 Oktober 2026, 19:39 WIB
Ilustrasi belanja, supermarket, produk lokal. (Photo by Ondosan Sinaga from Pexels)

Liputan6.com, Jakarta - Perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh 3,4% pada kuartal III 2026. Capaian ini menjadi pertumbuhan tercepat dalam setahun terakhir, didorong oleh belanja konsumen dan peningkatan investasi perusahaan di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Biro Analisis Ekonomi AS (Bureau of Economic Analysis/BEA) melaporkan, Produk Domestik Bruto (PDB) AS meningkat pada tingkat tahunan sebesar 3,4% setelah disesuaikan dengan inflasi. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2,2% pada kuartal sebelumnya.

Belanja konsumen yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS juga tumbuh 3,8%. Kondisi ini menunjukkan masyarakat masih mempertahankan pengeluaran meskipun menghadapi kenaikan harga kebutuhan.

Penopang Ekonomi vs Realita Warga

Namun, pertumbuhan ekonomi tersebut berbanding terbalik dengan penilaian sebagian masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections), banyak warga AS masih mengeluhkan tingginya biaya hidup.

Banyak masyarakat menilai pemerintahan Presiden Donald Trump belum berhasil memenuhi janji untuk membuat kebutuhan hidup lebih terjangkau.

Ketidakpuasan tersebut didasari oleh harga konsumen di kuartal III yang meningkat 3,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Salah satu faktor pendorongnya adalah tingginya harga bahan bakar setelah keputusan Trump membawa AS berkonflik dengan Iran.

Tekanan biaya hidup juga membuat masyarakat mulai menguras tabungan untuk memenuhi kebutuhan. Tingkat tabungan rumah tangga hanya mencapai 4,1% dari pendapatan setelah pajak pada kuartal III—terendah dalam hampir empat tahun terakhir.

Kepala Ekonom KPMG, Diane Swonk, mengatakan angka pertumbuhan ekonomi yang positif belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil masyarakat.

"Data ekonomi merupakan sesuatu yang patut dirayakan, tetapi terlihat lebih baik di atas kertas dibandingkan dengan yang dirasakan sebagian besar masyarakat Amerika," kata Swonk, dikutip dari The New York Times, Jumat (30/10/2026).

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi belum dinikmati secara merata. Rumah tangga berpenghasilan tinggi memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai saham, sementara upah riil justru mengalami penurunan selama setahun terakhir.

 

Tantangan Inflasi dan Risiko AI

Weak AI vs strong AI. (Photo: Growtika/Unsplash)

Meski demikian, masyarakat AS belum mengurangi pengeluaran di tengah tekanan inflasi. Kondisi ini membantu menjaga pertumbuhan ekonomi, tetapi berpotensi membuat inflasi bertahan karena perusahaan lebih leluasa meneruskan kenaikan harga kepada konsumen.

Kepala Ekonom AS Bank of America, Aditya Bhave, menyebut kondisi ekonomi AS saat ini memang tumbuh kuat, tetapi inflasi tetap menjadi tantangan utama.

"Ini adalah perekonomian yang sedang tumbuh pesat. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya, inflasi merupakan harga yang harus kita bayar untuk pertumbuhan ekonomi yang kuat tersebut," ujarnya.

Investasi AI Jadi Motor Utama

Selain konsumsi masyarakat, investasi AI menjadi faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi AS. Perusahaan-perusahaan telah menggelontorkan ratusan miliar dolar AS untuk membangun pusat data (data center) beserta infrastruktur pendukungnya sepanjang tahun ini. Investasi senilai triliunan dolar AS juga direncanakan hingga 2030.

Dampak investasi ini tidak hanya dirasakan produsen cip dan peralatan komputer, tetapi juga berbagai perusahaan lain yang terlibat dalam rantai pasok pembangunan pusat data.

Investasi perusahaan pada peralatan meningkat 20,9% secara tahunan pada kuartal III. Sementara itu, total investasi bisnis tumbuh 12,7% dan menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan PDB.

Meski demikian, tidak semua sektor menikmati dampak positif tersebut. Pasar perumahan masih mengalami pelemahan akibat tingginya suku bunga. Investasi residensial, termasuk pembangunan rumah, bahkan mengalami kontraksi untuk keenam kalinya dalam tujuh kuartal terakhir.

Kepala Ekonom Associated Builders and Contractors, Anirban Basu, mengatakan lonjakan pembangunan pusat data terjadi di tengah berbagai tantangan ekonomi.

"Jika bukan karena AI, kita mungkin akan membicarakan kondisi ekonomi, pasar saham, dan industri konstruksi yang sangat berbeda," kata Basu.

 

Ketergantungan pada AI Menyimpan Risiko

Di sisi lain, perusahaan konstruksi berskala kecil justru menghadapi kesulitan mendapatkan kontrak pembangunan pusat data. Mereka juga harus bersaing dengan proyek AI dalam mendapatkan tenaga kerja terampil karena tingginya upah yang ditawarkan.

Lonjakan investasi AI juga mendorong kenaikan harga saham perusahaan teknologi. Peningkatan nilai saham tersebut turut menopang belanja konsumen, terutama dari kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi.

Kepala Ekonom AS di Morgan Stanley, Michael Gapen, mengatakan ketahanan ekonomi saat ini berkaitan erat dengan investasi AI, pasar saham, dan daya beli kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi.

Namun, ketergantungan terhadap investasi AI dapat menjadi risiko apabila lonjakan tersebut mulai melemah. Dalam beberapa pekan terakhir, investor mulai mempertanyakan apakah besarnya pengeluaran perusahaan untuk membangun infrastruktur AI akan menghasilkan keuntungan sesuai harapan.

Penolakan masyarakat di sejumlah wilayah AS juga menyebabkan beberapa proyek pusat data mengalami penundaan hingga pembatalan.

Kepala Staf Stanford Institute for Economic Policy Research, Ryan Cummings, menilai kondisi ekonomi AS masih rentan karena sebagian kekuatan belanja konsumen bergantung pada kenaikan pasar saham.

Meski begitu, sejumlah ekonom tetap optimistis terhadap prospek ekonomi AS. Mereka menilai permintaan infrastruktur AI masih berpotensi meningkat, sementara tingkat pengangguran yang rendah memungkinkan masyarakat mempertahankan pengeluaran.

"Kemampuan masyarakat AS untuk terus berbelanja tidak boleh diremehkan selama mereka masih memiliki pekerjaan," pungkas Aditya Bhave.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya