Pabrik BYD Subang Didemo Warga, Menperin Angkat Bicara

Menperin Muhammad Sarmuji merespons aksi demo warga di pabrik BYD Subang terkait porsi tenaga kerja lokal. Pemerintah mendorong komunikasi terbuka.

oleh Arief Rahman HakimDiterbitkan 30 Oktober 2026, 19:15 WIB
Menteri Perindustrian, Muhammad Sarmuji. (Liputan6.com/Arief Rahmah H)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji buka suara mengenai aksi demonstrasi warga di pabrik BYD yang berlokasi di Subang, Jawa Barat. Menurutnya, aksi protes tersebut dipicu oleh perbedaan sudut pandang mengenai porsi penyerapan tenaga kerja lokal.

Sarmuji mengonfirmasi telah menerima informasi terkait aksi unjuk rasa di lokasi tersebut. Pihaknya akan menelusuri lebih lanjut akar permasalahan yang terjadi.

"Ya, kita terima informasinya. Tetapi tentu saja penyelesainnya tidak hanya ada di Kementerian Perindustrian. Nanti kita cek, kalau perlu kita mengunjungi ke lokasi di luar Kementerian Perindustrian, pasti kita lakukan," ungkap Sarmuji usai menghadiri Rapimnas Kadin Indonesia 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Sebelumnya, sejumlah warga menggelar aksi demonstrasi di area pabrik BYD Subang dengan menyoroti serapan tenaga kerja. Menanggapi hal tersebut, Sarmuji meminta agar persoalan ini dilihat secara objektif dari dua sisi. Sebab, baik masyarakat maupun pihak perusahaan memiliki persepsi masing-masing.

"Memang ada perbedaan perspektif ya. Point of view-nya kadang berbeda antara industri dan masyarakat. Industri merasa sudah memenuhi, sementara masyarakat merasa belum cukup," ujar Sarmuji.

"Ini yang harus dipertemukan lewat penjelasan agar sama-sama satu frekuensi. Jangan sampai berbeda frekuensi, karena kalau berbeda frekuensi akan terus ada problem," sambungnya.

 

Pernah Soroti Praktik Premanisme

Pabrik BYD di Subang (Arief A/Liputan6.com)

Persoalan di kawasan industri Subang sebelumnya juga sempat menjadi perhatian Pimpinan MPR RI, Eddy Soeparno. Eddy menyoroti adanya dugaan praktik premanisme yang mengganggu proses investasi di pabrik BYD Subang dan meminta aparat menindaknya secara tegas.

"Terkait adanya praktik premanisme dalam beberapa kasus investasi, saya meminta aparat penegak hukum untuk bertindak tegas," ujar Eddy saat mengunjungi pabrik BYD di Shenzhen, China, mengutip keterangan resmi MPR RI.

"Saya juga berkomitmen mengawal dan memastikan kebijakan ramah investasi serta bebas dari segala ancaman premanisme dalam bentuk apa pun," tegas Anggota Komisi XII DPR RI tersebut.

 

Pabrik VinFast Juga Sempat Terganggu

Gangguan terhadap pengerjaan proyek investasi ternyata tak hanya dialami oleh BYD. Ketua Umum Periklindo, Moeldoko, mengungkapkan bahwa pabrikan otomotif asal Vietnam, VinFast, juga pernah mengalami hambatan serupa saat membangun fasilitas produksinya.

"Bukan hanya BYD, saya juga pernah mendapat laporan dari VinFast mengenai gangguan-gangguan saat pembangunan pabriknya. Saya sudah bantu komunikasikan langsung ke wilayah setempat," kata mantan Kepala Staf Kepresidenan tersebut saat ditemui di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

 

Jaga Iklim Investasi Demi Lapangan Kerja

Moeldoko menegaskan, di tengah dinamika ekonomi global dan nasional saat ini, seluruh pihak memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga iklim investasi tetap aman dan kondusif bagi para investor.

"Semua masyarakat Indonesia harus menciptakan iklim investasi yang baik, jangan sampai pengangguran makin banyak," tegas mantan Panglima TNI tersebut.

Ia menambahkan, sangat ironis jika investor yang berniat membuka lapangan kerja justru terpaksa hengkang akibat tidak mendapat jaminan keamanan.

"Di satu sisi kan ironis, kita perlu peluang untuk bekerja, ada investor datang memberikan peluang, tetapi malah diganggu. Jika investor pergi, angka pengangguran berpotensi semakin melonjak," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya