Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah di berbagai negara semakin mendorong masyarakat untuk menyiapkan persediaan kebutuhan dasar sebagai langkah antisipasi menghadapi keadaan darurat, mulai dari cuaca ekstrem, konflik, hingga ancaman keamanan siber.
Meski demikian, setiap negara memiliki rekomendasi berbeda mengenai jumlah persediaan yang perlu disiapkan. Salah satu anjuran yang paling umum adalah menyediakan kebutuhan dasar yang cukup untuk tiga hari atau 72 jam.
Advertisement
Prancis dan Inggris, misalnya, baru-baru ini mengimbau warganya untuk memiliki persediaan darurat yang dapat digunakan selama 72 jam.
"Jangan menunggu keadaan darurat terjadi. Bersiaplah sekarang!" demikian pernyataan akun resmi pemerintah wilayah Normandia, Prancis, melalui media sosial pada Selasa (27/10/2026).
Sementara itu, perdana menteri Inggris dalam wawancara dengan BBC Radio turut memberikan contoh bahan makanan yang dapat disimpan sebagai persediaan.
"Saya suka kacang-kacangan, jadi saya punya banyak persediaan di lemari, begitu juga sup. Menurut saya, makanan seperti itulah yang sebaiknya disiapkan masyarakat," ujarnya seperti dilaporkan Newsweek.
Jepang, Meksiko, dan Belanda juga menganjurkan masyarakat menyiapkan perlengkapan darurat untuk kebutuhan selama 72 jam.
Namun, beberapa negara merekomendasikan persediaan untuk jangka waktu lebih panjang. Swedia dan Norwegia, misalnya, menyarankan masyarakat menyiapkan kebutuhan dasar yang cukup untuk sekitar satu minggu, sedangkan Jerman menganjurkan persediaan hingga 10 hari.
Persediaan Darurat yang Dianjurkan Pemerintah
Di India, Otoritas Nasional Penanggulangan Bencana menganjurkan setiap rumah tangga memiliki perlengkapan darurat untuk menghadapi bencana, tetapi tidak menentukan berapa lama persediaan tersebut harus mencukupi kebutuhan.
Tujuan panduan yang diberikan juga berbeda-beda. Sebagian negara mengeluarkan anjuran untuk menghadapi berbagai jenis keadaan darurat, sementara negara lainnya memberikan panduan yang disesuaikan dengan ancaman tertentu.
Di Amerika Serikat (AS), panduan yang diterbitkan melalui Ready.gov, situs milik Kementerian Keamanan Dalam Negeri, menekankan pentingnya memiliki persediaan kebutuhan dasar secara mandiri.
"Bersiap menghadapi keadaan darurat berarti memiliki persediaan makanan, air, dan kebutuhan lainnya yang cukup untuk beberapa hari," demikian bunyi panduan tersebut.
Kanada juga menganjurkan masyarakat menyiapkan perlengkapan darurat yang dapat digunakan selama 72 jam.
Di sejumlah negara, panduan kesiapsiagaan bahkan disesuaikan dengan kondisi dan risiko bencana di wilayah masing-masing.
Di Australia Barat, misalnya, masyarakat yang tinggal di daerah rawan siklon atau badai tropis diimbau menyiapkan perlengkapan darurat berisi makanan, air, dan obat-obatan.
Sementara itu, pemerintah Kota Cape Town di Afrika Selatan menganjurkan setiap rumah tangga memiliki persediaan kebutuhan dasar yang mencukupi untuk setidaknya tiga hari.
Dalam dua tahun terakhir, kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat juga mendapat perhatian khusus di Eropa.
Pada Maret 2025, Komisi Eropa meluncurkan Preparedness Union Strategy, sebuah strategi yang bertujuan memperkuat kesiapsiagaan kawasan tersebut dalam menghadapi berbagai situasi darurat.
Komisi Eropa menyebut meningkatnya ketegangan geopolitik dan konflik, serta ancaman bencana alam akibat perubahan iklim, sebagai sejumlah tantangan yang dihadapi Eropa.
Meski rekomendasi mengenai lamanya persediaan berbeda di setiap negara, jenis kebutuhan yang dianjurkan pemerintah relatif serupa.
Masyarakat umumnya disarankan menyiapkan makanan tahan lama, air, obat-obatan, baterai, senter, dan radio sebagai bagian dari perlengkapan darurat.
Daftar Negara yang Menganjurkan Kesiapsiagaan Darurat
Eropa
Inggris, Irlandia, Prancis, Jerman, Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, Estonia, Latvia, Lituania, Polandia, Republik Ceko, Austria, Swiss, dan Kroasia.
Amerika Utara
Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Amerika Selatan
Chile, Kolombia, Argentina, dan Brasil.
Afrika
Afrika Selatan.
Asia
Jepang, Taiwan, Israel, India, Filipina, dan Singapura.
Oseania
Selandia Baru dan Australia.
Mantan Wakil Direktur FBI Ingatkan Pentingnya Persiapan Darurat
Pentingnya kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat juga menjadi pembahasan Dan Bongino, pembawa podcast konservatif Amerika Serikat yang pernah menjabat sebagai Wakil Direktur FBI.
Dalam salah satu episode acaranya, The Dan Bongino Show, Bongino mengingatkan masyarakat agar tidak panik ketika menghadapi situasi yang tidak menentu.
"Cara mengurangi kecemasan dan kepanikan pada masa-masa penuh gejolak adalah dengan mempersiapkan diri," tuturnya.
Ia kemudian memberikan sejumlah contoh perlengkapan yang dapat disiapkan masyarakat untuk menghadapi keadaan darurat.
"Siapkan radio darurat, baterai, dan makanan cadangan. Siapkan juga perlengkapan penampung air hujan serta tablet pemurni air," kata Bongino.
Pentagon Dorong Pangkalan Militer AS Mampu Beroperasi Mandiri Selama 90 Hari
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesiapsiagaan darurat, Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon juga mengambil langkah untuk memperkuat ketahanan operasional pangkalan militernya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, melalui sebuah memorandum yang diterbitkan baru-baru ini, menyatakan bahwa lebih banyak pangkalan militer AS perlu memiliki kemampuan untuk tetap beroperasi secara mandiri selama setidaknya tiga bulan.
Kemampuan tersebut diperlukan apabila pangkalan militer terputus dari pasokan eksternal akibat konflik.
Pada 30 September, Hegseth memperkenalkan inisiatif Federal Operations for Resilience, Troop Resources, Energy, Supply and Survivability (FORTRESS).
Inisiatif tersebut dirancang untuk memastikan AS tetap dapat memperoleh berbagai bahan dan perlengkapan yang dibutuhkan serta mempertahankan kegiatan operasional apabila jalur pasokan yang biasa digunakan terputus.
Hegseth menyebut inisiatif FORTRESS sebagai "jaminan perlindungan bagi negara" dalam menghadapi kemungkinan gangguan rantai pasokan.