Kemana Arah Suku Bunga? Bos BI Sebut Tergantung Data Ekonomi

Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan penyesuaian suku bunga acuan bersifat data dependent. BI juga siapkan instrumen SRBI dan hedging untuk jaga pasar.

oleh Immanuel ChristianDiterbitkan 29 Oktober 2026, 20:20 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti (Foto: Liputan6.com/ Immanuel Christian).

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan bahwa arah keputusan terkait suku bunga acuan (BI-Rate) bakal bergantung pada perkembangan data ekonomi terbaru (data dependent) serta kondisi dinamika pasar.

Selain suku bunga, bank sentral juga telah menyiagakan beragam instrumen moneter pendukung demi menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.

"Sifatnya data dependent. Nanti kita lihat perkembangannya seperti apa, karena kita punya banyak instrumen kebijakan, tidak hanya suku bunga saja," ujar Destry saat ditemui dalam ajang Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Destry menjelaskan, BI memiliki sekumpulan opsi kebijakan moneter yang fleksibel, mulai dari insentif biaya lindung nilai (hedging), kebijakan makroprudensial, hingga penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Bank sentral akan terus memantau pergerakan pasar guna menentukan potensi penyesuaian imbal hasil SRBI dalam rangka menarik aliran modal asing (capital inflow) ke dalam negeri.

"Semua melihat kondisi di pasar. Kita lihat nanti bagaimana dinamikanya," tutur Destry.

Selain fokus menjaga stabilitas makroekonomi, Destry menekankan krusialnya sinergi dan koordinasi yang erat antara bank sentral dan para pelaku usaha nasional. Sinergi ini diperlukan untuk memastikan setiap kebijakan moneter yang digulirkan mampu memberikan dampak positif yang nyata bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

BI Rate Tetap di 5,75%, Tapi Deposit Facility Naik Jadi 5%

Gubernur Bank Indoensia (BI) Destry Damayanti bersama dengan dewan gubernur dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026). (Liputan6.com/Tian)

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 21 Oktober 2026. Namun, BI menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5%. Sedangkansuku bunga Lending Facility tetap di level 6,5%.

Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa keputusan ini mempertimbangkan tingginya ketidakpastian ekonomi global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta kondisi perekonomian domestik.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21 Oktober 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,5%, serta menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi sebesar 5%," ujar Destry dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Destry menjelaskan, tingginya ketidakpastian global dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat. Kondisi tersebut menekan pergerakan nilai tukar rupiah, sehingga memerlukan penguatan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter.

"Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter," tegas Destry.

Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi

Gubernur Bank Indoensia (BI) Destry Damayanti bersama dengan dewan gubernur dalam konferensi pers hasil RDG BI di Jakarta, Rabu (21/10/2026). (Liputan6.com/Tian)

BI mencatat nilai tukar rupiah berada di level 17.985 per dolar AS pada 20 Oktober 2026, atau melemah 0,61% dibandingkan posisi akhir September 2026. Tekanan tersebut tak lepas dari dinamika geopolitik global, arah kebijakan moneter AS, serta pergeseran sentimen investor asing di pasar saham.

Di sisi lain, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap solid di kisaran 4,9% hingga 5,7%. Konsumsi rumah tangga diperkirakan terjaga berkat dukungan stimulus fiskal pemerintah, sementara sektor investasi terdorong belanja pemerintah dan mulai pulihnya investasi swasta.

Dari sisi inflasi, BI mencatat realisasi inflasi pada September 2026 berada di level 3,28% secara tahunan (year-on-year), sedikit meningkat dari 3,19% pada Agustus 2026. Inflasi inti tercatat 2,88%, inflasi harga yang diatur pemerintah sebesar 3,02%, sedangkan inflasi pangan bergejolak (volatile food) mencapai 5,03%.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya