Liputan6.com, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat atau Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan IFG Life pada 26 Oktober 2026. Perjanjian tersebut terkait penjualan saham PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia milik Bank Mandiri kepada IFG Life.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/10/2026), Bank Mandiri menyampaikan transaksi tersebut merupakan transaksi afiliasi yang mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 42 Tahun 2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan.
Advertisement
"Pada tanggal 26 Oktober 2026 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk ("Perseroan") dan IFG Life telah melaksanakan penandatanganan Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) sehubungan dengan penjualan saham PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia milik Perseroan kepada IFG Life," tulis Senior Vice Presiden Corporate Secretary PT Bank Mandiri Tbk, Adhika Vista.
Status transaksi afiliasi tersebut didasarkan pada hubungan pengendalian tidak langsung antara Bank Mandiri dan IFG Life. Kedua perusahaan berada di bawah pengendalian tidak langsung pihak yang sama, yakni Negara Republik Indonesia.
Dengan demikian, transaksi penjualan saham PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia tersebut termasuk dalam kategori transaksi afiliasi sesuai ketentuan POJK 42/2020. Penuhi Ketentuan OJK Bank Mandiri menjelaskan, sesuai Pasal 22 POJK Nomor 42 Tahun 2020, perusahaan terbuka yang melakukan transaksi afiliasi melalui perusahaan terkendali yang bukan merupakan perusahaan terbuka dan laporan keuangannya dikonsolidasikan dengan perusahaan terbuka wajib menjalankan prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan tersebut.
Sehubungan dengan transaksi itu, Bank Mandiri turut menyampaikan keterbukaan informasi mengenai transaksi afiliasi beserta dokumen pendukungnya. Penandatanganan CSPA pada 26 Oktober 2026 menjadi bagian dari proses penjualan saham PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia kepada IFG Life.
Namun, informasi yang disampaikan dalam keterbukaan tersebut belum memuat nilai transaksi, jumlah saham yang dialihkan, maupun jadwal penyelesaian transaksi.
Bank Mandiri Cetak Laba Rp 45,5 Triliun September 2026
Sebelumnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 45,5 triliun hingga September 2026. Capaian tersebut tumbuh 20,7 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy).
"Hingga September 2026, laba bersih konsolidasi mencapai Rp 45,5 triliun tumbuh 20,7 persen secara tahunan," kata Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini dalam Konferensi Pers Laporan keuangan Bank Mandiri Kuartal III 2026, Jumat (23/10/2026).
Novita mengatakan, pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh kinerja bisnis yang solid, mulai dari pertumbuhan kredit yang sehat hingga peningkatan transaksi digital. Selain itu, produktivitas perusahaan juga terus menunjukkan perbaikan.
Adapun hingga September 2026, kredit Bank Mandiri secara bank only tumbuh 16 persen secara tahunan, meningkat dari 11,6 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan komitmen kami dalam mendukung aktivitas dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Sisi Pendanaan Bank Mandiri
Dari sisi pendanaan, Bank Mandiri mencatat perkembangan yang sangat positif. Dana pihak ketiga Bank Mandiri tumbuh sebesar 17,7 persen secara tahunan, meningkat signifikan dari 12,3 persen pada September tahun lalu.
Pertumbuhan ini juga menjadi salah satu kekuatan utama Bank Mandiri dalam memperkuat struktur pendanaan perseroan.
Menurutnya, yang lebih membedakan, pertumbuhan dana tersebut ditopang oleh perluasan basis nasabah dan semakin tingginya aktivitas transaksi dalam ekosistem Bank Mandiri. Melalui Livin Bank Mandiri, kami mencatat rata-rata pertambahan 20 ribu pengguna baru setiap hari.
Penguatan Dana Pihak Ketiga
"Hal ini menunjukkan semakin kuatnya kepercayaan nasabah untuk bertransaksi bersama ekosistem Bank Mandiri yang tentunya akan kami jaga dengan layanan dan fitur terbaik untuk menjadi sumber pertumbuhan dana secara berkelanjutan," ujarnya.
Ke depan, penguatan dana pihak ketiga tetap menjadi prioritas utama kami, mengingat kondisi likuiditas yang masih cukup menantang. Hal ini tercermin dari ratio loan to deposit ratio atau LDR yang berdasarkan rata-rata harian meningkat dari 93,6% pada kuartal III 2025 menjadi 94,8% pada kuartal III tahun 2026.